Breaking News

REGIONAL TPDI Dukung Gubernur NTT Pindahkan Pabrik Semen dari Manggarai Timur 28 Apr 2020 23:28

Article image
Koordinator TPDI dan Advokat PERADI, Petrus Selestinus. (Foto: Ist)
“Karena dampak buruknya sama dan komitmen Gubernur NTT tolak tambang berlaku untuk seluruh wilayah hukum di NTT,” nilai Petrus.

BORONG, IndonesiaSatu.co-- Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI) mendukung pernyataan Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat, yang akan membatalkan dan memindahkan Pabrik Semen dari Manggarai Timur (Matim), jika rencana pembangunan tersebut mendapat penolakan dan tidak diizinkan.

Koordinator TPDI, Petrus Selestinus, kepada media ini Senin (27/04/20) mengatakan bahwa pihaknya mendukung sikap Gubernur NTT sebagai tanggapan terhadap reaksi penolakan oleh  mayoritas masyarakat Matim, juga sebagai wujud komitmen Gubernur terhadap janji kampanye pada saat Pilgub lalu untuk menolak tambang.

“Yang jelas masyarakat Matim tidak menghendaki adanya Pabrik Semen di wilayahnya. Alasannya, tentu dari kajian Analisis dampak lingkungan (Amdal) sebagai dampak dari Pabrik tersebut yakni kerusakan lingkungan, menghilangkan budaya masyarakat satu desa, serta sumber penyakit yang dapat ditimbulkan seperti ISPA, TBC, polusi, maupun kerusakan ekosistem,” ungkapnya.

Meski demikian, menurut Petrus, ide Gubernur untuk memindahkan Pabrik Semen ke Timor, juga bukan langkah bijak.

“Karena dampak buruknya sama dan komitmen Gubernur NTT tolak tambang berlaku untuk seluruh wilayah hukum di NTT,” nilai Petrus.

Advokat Peradi ini beralasan, jika hanya memenuhi kebutuhan semen untuk NTT, tidak harus dengan membangun pabrik semen di NTT, sekalipun NTT memiliki lahan yang ada kandungan bahan baku yang melimpah berupa batu kapur yang mengandung zat untuk bahan baku semen. Menurutnya, pabrik semen besar di Jawa, Sumatera, Sulawesi bahkan PT. Semen Kupang tinggal diberdayakan dengan memanfaatkan alat angkut darat dan laut.

“Jika untuk kebutuhan semen di NTT dan Timor Leste, mengapa tidak perbesar PT. Semen Kupang, apalagi lokasi tersebut jauh dari pemukiman warga dan semua sudah diperhitungkan dengan matang saat PT. Semen Kupang dibangun pemerintah,” katanya.

Disebutkan bahwa kebutuhan semen di NTT setiap tahun mencapai 1,2 juta ton. Sedangkan kebutuhan semen di Timor Leste mencapai 600 ribu ton. Sementara PT. Semen Kupang NTT, saat ini hanya mampu menghasilkan 250 ribu ton/tahun. Artinya masih kurang. Mestinya tinggal diperbesar Pabrik PT. Semen Kupang.

“Jika kondisinya defisit sekitar 950 ribu ton per tahun, sebaiknya datangkan saja dari Jawa atau Sulawesi yang sanggup menyuplai kebutuhan di NTT,” sarannya.

 

Dukungan Masyarakat dan Perhatian Gereja

Menurut Petrus, pandangan masyarakat dan Gereja di Flores, NTT, bahwa jika investasi yang namanya tambang (apalagi yang datang dari swasta, red) jelas merusak lingkungan, mengganggu ekosistem, menjadi sumber penyakit serta berdampak juga terhadap destinasi pariwisata di masa yang akan datang.

“Karena itu, Gubernur NTT jangan mengubah pemahaman masyarakat tentang dampak buruk dan daya rusak yang ditimbulkan oleh kehadiran tambang (pabrik semen). Dalam konteks pemahaman masyarakat dan Gereja di NTT, kehadiran tambang justru akan mengganggu hak-hak asasi alam yang harus dilindungi dan merusak keutuhan ekologis sebagaimana seruan Paus Fransiskus dalam Ensiklik Laudato Si,” singgungnya.

Menurutnya, masyarakat dan Gereja akan mendukung sikap pemerintah jika secara tegas menghentikan dan menutup total akses investasi dari para investor yang hendak membangun pabrik semen di Manggarai Timur pada khususnya dan di NTT pada umumnya.

“Alasannya, karena minim manfaat ekonomi bagi masyarakat. Sebaliknya, daya rusak lingkungan sangat dahsyat dan hanya memberi keuntungan besar bagi pemilik modal dan pejabat,” katanya.

--- Guche Montero

Komentar