Breaking News
  • 12 parpol lama lolos verifikasi faktual
  • 150 ton bahan narkoba asal China gagal masuk ke Indonesia
  • Eropa murka, siap jawab tantangan perang dagang Donald Trump
  • KM Pinang Jaya tenggelam di Laut Jawa akibat cuaca buruk
  • Presiden Jokowi masih pertimbangan Plt Gubernur dari Polri

REGIONAL TRUK-F: Mayoritas Korban TPPO Karena Faktor Ekonomi dan Pendidikan 15 Apr 2018 01:31

Article image
Koordinator dan Tim Advokasi TRUK-F saat memberikan keterangan kepada awak media (Foto: Kupang.tribunnews.com)
Umumnya, yang menjadi korban perdagangan manusia (human trafficking) karena latar belakang ekonomi (keluarga miskin), tingkat pendidikan rendah dan sangat terbatas akses terhadap informasi sehingga mudah direkrut oleh calo termasuk pemalsuan dokumen dan

MAUMERE, IndonesiaSatu.co-- Koordinator Divisi Perempuan dan Anak Tim Relawan Untuk Kemanusiaan Flores (TRUK-F), Suster Eusthocia, SSpS mengatakan bahwa mayoritas korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) karena latar belakang ekonomi dan tingkat pendidikan rendah (putus sekolah) sehingga mudah dimanipulasi oleh para perekrut (calo).

“Semua kasus TPPO yang dilaporkan korban kepada TRUK-F selanjutnya ditelusuri. Umumnya, yang menjadi korban perdagangan manusia (human trafficking) karena latar belakang ekonomi (keluarga miskin), tingkat pendidikan rendah dan sangat terbatas akses terhadap informasi sehingga mudah direkrut oleh calo termasuk pemalsuan dokumen dan identitas. Dominan korban berasal dari keluarga miskin,” kata  Suster Estho, Jumat (13/4/18) di Maumere, kabupaten Sikka.

Suster Estho menerangkan bahwa selama tahun 2006-2017, terjadi 63 kasus TPPO yang melibatkan 671 korban dengan rincian; 84 korban kategori usia anak-anak, 186 korban perempuan dan 430 orang korban kaum pria dewasa.

"Kepada para korban, kami memberi pendampingan. Tercatat, ada delapan kasus yang diproses secara hukum dan hanya tiga kasus yang sampai di persidangan pengadilan," terang Suster Estho yang mengaku prihatin dengan proses penegakan hukum bagi para pelaku.

Suster Estho menuturkan bahwa dalam sindikat perdagangan orang, motif dan sasarannya sangat kompleks karena diduga melibatkan orang berpengaruh yang punya uang dan kekuasaan. Sedangkan sasaran korbannya adalah kaum lemah secara ekonomi dan miskin yang ada di daerah-daerah yang terbatas akses informasi sehingga sangat mudah dimanipulasi.

“Dari tangan calo, para calon tenaga kerja diserahkan kepada Perusahaan Pengerah Jasa Tenaga Kerja (PJKTI). Ditemukan adanya pemalsuan dokumen dan identitas para calon tenaga kerja yang diduga dilakukan di luar Kabupaten Sikka, entah di Kupang atau Batam. Ada beberapa korban yang identitasnya dipalsukan atau dimanipulasi sedemikian sehingga sangat sulit untuk ditelusuri jika terjadi persoalan atau bahkan meninggal dunia,” bebernya.

Suster menambhakan bahwa selain calon tenaga kerja asal Nusa Tenggara Timur (NTT) yang hendak dikirim untuk bekerja di luar daerah atau luar negeri, ada juga beberapa contoh kasus yang ditangani dengan korban berasal dari Jawa, Sulawesi dan Sumatera.

"Contohnya, beberapa kasus Purel bekerja di pub dan restoran di Kota Maumere. Mereka didatangkan dari Jawa, Sulawesi dan Sumatera. Mereka dijanjikan pekerjaan yang bagus, namun ternyata tidak terjadi sesuai pembicaraan. Mereka akhirnya terjebak sindikat perdagangan manusia dan menjadi Pekerja Seks Komersial (PSK). Diharapkan, ada upaya penegakan hukum secara serius untuk meminimalisir korban perdagangan manusia juga konsekuensi pidana bagi para pelaku (calo) maupun PJTKI illegal. Ini butuh kerjasama dan tanggungjawab semua elemen," tandasnya.

--- Guche Montero

Komentar