Breaking News
  • Arus kendaraan Gerbang Tol Palimanan berkurang 29 persen
  • Ledakan truk minyak di Pakistan tewaskan ratusan orang
  • Nurul Arifin siap maju di pemilihan wali kota Bandung
  • Presiden Jokowi terima GNPF-MUI di Istana Merdeka
  • Wapres dampingi Presiden Jokowi open house di Istana

REFLEKSI Uang Itu Sarana, Bukan Berhala 17 Mar 2017 16:11

Article image
Jika tak bisa kaya material Anda pun pasti mampu kaya spiritual. (Foto: whatismyhealth.com)
Kita perlu menanam keyakinan bahwa uang hanyalah “alat bantu”, bukan berhala. Ini mesti menjadi "sikap mental" atau 'habitus spiritual' agar kita bisa mengontrol uang, bukan yang yang mengendalikan kita.

Oleh Valens Daki-Soo

 

RUPANYA kita perlu belajar (lagi) bahwa uang cuma "alat bantu" dalam hidup. Jadi, "alat" ini jangan diberhalakan. Memang bisa susah kalau tak punya uang, tetapi lebih 'hancur' diri kita – menjadi terasa/tampak tak bermartabat dan tidak punya kehormatan – jika kita bergelimang dalam uang 'tak halal'.

Survei terhadap 1.000 orang Amerika pada tahun 2010, menyimpulkan bahwa uang bukan satu-satunya hal yang membuat kita lebih bahagia. Dua pakar dari Princeton University, Daniel Kahneman (psikolog) dan Angus Deaton (ekonom) menemukan bahwa kesejahteraan meningkat seiring dengan kenaikan gaji. Tetapi peningkatan jumlah uang ternyata tidak berdampak pada kebahagiaan.

Menurut penulis buku The How of Happiness, Sonja Lyubomirsky, sekitar 50% orang membawa kebahagiaan dalam dirinya semenjak dilahirkan. Dengan kata lain, ada orang yang secara alamiah lebih bahagia dari yang lain. Bagi mereka, hal-hal di luar diri, termasuk uang hanya berkontribusi sekitar 10% terhadap kebahagiaan.

Bila Anda dihadapkan pada dua pilihan: memiliki lebih banyak uang atau memiliki lebih banyak waktu, mana yang akan dipilih?

Lebih banyak orang dipastikan akan memilih uang, karena uang dapat menyelesaikan berbagai persoalan.

Namun sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa orang yang memilih lebih banyak waktu pada umumnya lebih bahagia.

Para peneliti dari UCLA's Anderson School of Management, California bertanya kepada ribuan orang Amerika, apakah mereka lebih memilih lebih banyak uang atau waktu.

Hasilnya tidak mengejutkan. Mayoritas responden, sekitar 60,9%  memilih lebih banyak uang dibandingkan 39,1% memilih lebih banyak waktu. Beberapa saat kemudian para responden diminta untuk melaporkan apa yang mereka rasakan. Dan ternyata, mereka yang memilih waktu merasa lebih bahagia dibandingkan yang memilih lebih banyak uang.

Habitus Spiritual

Kita perlu menanam keyakinan bahwa uang hanyalah “alat bantu”, bukan berhala. Ini mesti menjadi "sikap mental" atau 'habitus spiritual' agar kita bisa mengontrol uang, bukan yang yang mengendalikan kita.

Misalnya, sering saya diminta mengupayakan bantuan untuk suatu kegiatan, sebutlah pembangunan rumah ibadah atau kegiatan sosial-budaya. Ketika dititipi buntalan uang oleh relasi saya untuk diserahkan kepada panitia, saya padamkan suara sepert iini, "Wah, saya susah-payah cari dana ini, masa saya gak dapat hadiahnya."

Secepatnya saya menghardik suara itu, "Tugasmu membantu, bukan mencari komisi/hadiah, apalagi puja-puji yang tak berguna. "Maka dengan santai saya akan perlakukan bungkusan uang itu sebagai "alat bantu" yang diperlukan sesama, bukan saya!

Seperti Anda, saya sering heran. Mengapa mereka yang sudah punya banyak uang itu masih mau berlutut lagi di depan uang? Korupsi dan semacamnya adalah "cara berlutut dan menyembah uang".Ya, menuhankan uang.

Begini, saya tidak sekadar sok moralistis. Ini benar-benar keyakinan, pandangan dan cara hidup saya: perlakukan dan 'hargai' uang seperlunya sebagai "alat bantu". Saya tidak mau jatuhkan martabat diriku yang keren ini karena skandal uang. Karena ketika miskin uang pun, saya sudah jalan dengan gagah perkasa dan kepala tegak, meski perut lapar. Ini benar pernah terjadi, bukan kelakar.

Jadilah kaya, jika Anda mau dan bisa. Dengan kekayaan itu, Anda mungkin bisa lebih leluasa menolong sesama. Namun, jika tak bisa kaya material Anda pun pasti mampu kaya spiritual: selalu suka mendengarkan sesama, murah senyum, rajin mengunjungi orang sakit, dan senang membawa nama sesamamu dalam doa-doa.

 

Penulis adalah penikmat psikologi, Chairman PT Veritas Dharma Satya (VDS), Pendiri dan Pemimpin Redaksi IndonesiaSatu.co

Komentar