Breaking News

REFLEKSI Untuk Sesamaku yang Muslim - Jangan Mudah Percaya Kepada Mualaf yang Mengaku "Mantan Pastor/Suster" 23 Feb 2020 19:03

Article image
Hakim yang sebenar-benarnya adalah Tuhan Sang Khalik sendiri. (Foto: Natural Living for You)

Oleh Valens Daki-Soo

 

DUA hari lalu Denny Siregar, seorang Muslim yang kritis, menulis kicauan (tweet) ini di akun Twitter-nya:

"Harusnya saya dulu agamanya Kristen..

Jadi bisa mualaf kalau udah gede, trus jadi ustad buat gelar S3 Vatikan, bisa deh tuh hidup enak gak perlu kerja kayak gini..

Duh, kenapa saya harus Islam dari lahir ya?"

Tentu saja Denny Siregar hanya menyindir seorang ustadz yang mengaku mantan pastor dengan gelar "S3 Vatikan". Denny tidak bermaksud menyesali keislamannya sejak lahir.

Ribuan orang menyukai kicauan tersebut dan ratusan orang menyebar-ulang (retweet). Saya pun memberikan komen pada kicauan itu sebagai berikut:

"Pak Denny, gelar S3 dari Vatikan yang dklaim Ustadz Bangun Samudra itu gak benar alias bohong.

Di Vatikan gak ada universitas, yang ada hanya di Roma, di luar Vatikan.

Misalnya Universitas Kepausan Gregoriana, Universitas Kepausan Salesiana ada di Roma.

Ustadz BS juga bukan mantan pastor. Info yang kami dapatkan, dia hanya pernah mengenyam 1 tahun lebih pendidikan di Seminari Menengah (selevel SMP dan SMA). Padahal masih ada Seminari Tinggi (Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi).

Sebagai mantan calon pastor saya pahami sistem dan proses pendidikan calon imam/pastor Katolik. Kalau ustadz tersebut menjadi mualaf, itu hak dan kebebasan beliau. Saya/kita semua hargai itu. Namun, gak perlu dengan cara berbohong. Apapun agama Anda jadilah jujur."

Demikian komen saya terhadap tweet Denny Siregar. Komen saya relatif pendek, karena saya merasa tidak perlu menulis panjang-lebar. Saya berharap inti pesan sudah sampai di pikiran dan hati para pembaca.

Sebenarnya bukan baru kali ini, atau bukan hanya Ustadz Bangun Samudra, yang melakukan modus menjadi mualaf seraya "menjual" status mantan pastor. Pernah ada yang mengaku mantan suster/biarawati Katolik dan menjadi ustadzah yang lumayan populer, "laku" di mana-mana. Padahal dia tidak pernah sempat menjadi "suster benaran", hanya calon suster di postulat.

Di Youtube saat ini beredar pula nama Ustadz Koh Steven Indra Wibowo. Kalau Anda mengklik akun Indonesia Mualaf Center (MCI), video-videonya dengan mudah ditemukan dan dapat ditelusuri. Steven adalah pendiri dan ketua MCI dan laris jadi pembicara di mana-mana.

Saya tidak mempersoalkan statusnya sebagai mualaf. Sekali lagi, adalah hak dan kebebasan setiap orang untuk menjadi penganut agama atau keyakinan religius apa saja. Yang saya persoalkan -- lebih tepat "tertawakan" -- adalah pengakuannya bahwa dia adalah mantan pejabat Gereja Katolik yakni pastor di Katedral Jakarta. 

Lucunya, dia mengaku berawal dari menjadi misdinar lalu menjadi prodiakon dan diakon diapun menjadi imam. Dia tidak pernah berkisah di bersekolah di seminari (menengah dan tinggi) di mana, sebagaimana kelaziman dan keharusan dalam proses menjadi imam Katolik. Tiba-tiba saja dia langsung meloncat dengan disekolahkan ke Leiden, Belanda.

Menjadi imam Katolik sama sekali bukan proses yang mudah. Sistem pendidikan dan formasi/pembinaannya pun tidak sama dengan lembaga pendidikan biasa manapun. Saya masih ingat, tamat Sekolah Dasar (SD) di Ndora Flores, saya ikut tes/seleksi masuk SMP Seminari Todabelu Mataloko, Flores. Setelah lulus kami ditempa 3 tahun di SMP Seminari dan 3 tahun di SMA Seminari. Pendidikannnya bersifat komprehensif-integral. Aspek intelektual dan berbagai aspek lain dibina sama pentingnya. Jika Anda cerdas secara intelektual namun kurang baik dalam karakter/kepribadian, Anda dikeluarkan. Sebaliknya, meski karakter Anda baik namun prestasi akademis tidak memenuhi syarat, Anda pun "dicedok" alias dikeluarkan.

Setelah tamat Seminari Menengah melalui proses yang berat, Anda akan dibina dan ditempa dalam formasi lanjutan di Seminari Tinggi yang paralel dengan Sekolah Tinggi Filsafat. Meski namanya sekolah tinggi filsafat (dan teologi), di sana Anda dijejali berbagai ilmu lainnnya juga seperti sosiologi, psikologi, anthropologi, islamologi dan studi komparatif tentang agama-agama. Filsafat pun terdiri dari beberapa cabang.

Anda akan hidup dalam tempaan khusus di kawah candradimuka yang tidak kompromis terhadap kelemahan karakter dan intelektual. Pintar saja tidak cukup, Anda mesti punya karakter yang unggul dalam artian berkepribadian integral (bahasa Latin, integer=utuh). Jadi, belasan tahun Anda dibina di Seminari Menengah dan Seminari Tinggi untuk menjadi imam Katolik. Untuk keperluan pengkaderan menjadi dosen dan sebagainya, mereka yang punya kualifikasi tertentu akan dikirim untuk studi lanjut (meraih S2 dan S3) di mancanegara. Jadi tidak hanya di Roma (BUKAN Vatikan), tetapi juga di Jerman, Belanda, Amerika Serikat, Jepang, Australia.

Kembali ke soal kebohongan ustadz/ustadzah, sebetulnya hal macam ini dapat kami bawa ke ranah hukum pidana. Namun, saya berpikir itu hanya menggerus waktu dan energi yang tidak perlu. Mungkin saya lebih percaya dan serahkan itu kepada "Hukum Tabur Tuai": Anda (pasti akan) menuai apapun yang Anda tabur. Anda niscaya memetik apa yang Anda tanam. Jika Anda menabur kebohongan, pekerjaan Anda hanya akan berujung pada kesia-siaan. 

Saya menulis ini dengan rasa kasih dan hormat kepada siapapun, termasuk samasaudara kaum Muslim. Secara pribadi saya dekat bahkan sangat akrab dengan kalangan Muslim, sebagaimana sering saya tulis di Facebook ini. Namun, saya mesti sampaikan pandangan saya: "Saya tidak akan pernah percaya kepada siapapun yang menjelek-jelekkan ajaran agamanya yang terdahulu."

Itu sama saja dengan contoh di dunia kerja. Sebagai pemilik dan pimpinan perusahaan, saya tidak percaya dan tidak akan merekrut seorang calon karyawan/staf baru yang menjelek-jelekkan perusahaan lamanya dalam sesi wawancara.

Begitu pula saya tidak menaruh respek kepada siapapun yang menjadi Kristen atau Katolik dengan menjelek-jelekkan agama lamanya, Islam misalnya. Sebagus apapun ucapannya tentang alasan menyeberang menjadi Kristen, tidak membuat saya menghormatinya jika dia berbicara buruk tentang Islam.

Menjadi penganut agama atau keyakinan spiritual adalah pilihan. Oleh karena merupakan pilihan bebas dari kehendak bebasnya, tidak seorang pun berhak menghakimi benar-tidaknya pilihan itu. Sama seperti tidak seorang pun layak menghakimi benar-tidaknya suatu (ajaran) agama. Apa dasarnya kita menjadi hakim bagi agama sesama? 

Hakim yang sebenar-benarnya adalah Tuhan Sang Khalik sendiri. Itupun kalau Tuhan mau mengambil posisi menghakimi. Jikalau Dia lebih memilih menerima dan memeluk penuh kasih setiap orang, apapun agamanya, apa hak Anda untuk memaksa Allah menjadi hakim?

Semoga semua makhluk berbahagia, begitu doa semesta Sang Buddha.

Semoga setiap orang bahagia dalam keyakinan religiusnya.

Semoga setiap pribadi hidup dengan bahagia dan sejahtera.

Semoga damai ilahi menggenangi hati setiap orang dan alam semesta.

 

Penulis adalah peminat filsafat-teologi, CEO VDS Group, Pendiri/Pemimpin Umum IndonesiaSatu.co

Komentar