Breaking News

INTERNASIONAL Uskup Agung Desmond Tutu Masuk Rumah Sakit 05 Dec 2019 11:15

Article image
Uskup Agung Anglikan Cape Town, Desmond Tutu. (Foto: Amazine.co)
Uskup Agung Anglikan Cape Town berusia 88 tahun itu selama hidupnya menggunakan mimbar untuk berkhotbah melawan ketidakadilan pemerintahan minoritas kulit putih selama era apartheid.

JOHANNESBURG, IndonesiaSatu.co -- Pemenang hadiah Nobel Perdamaian dan veteran perjuangan anti-apartheid Afrika Selatan Desmond Tutu dirawat di rumah sakit akibat infeksi yang dideritanya. Demikian dilaporkan Reuters.

"Uskup Agung telah dirawat di rumah sakit beberapa kali selama beberapa tahun terakhir untuk perawatan kondisi yang sama," kata Desmond & Leah Tutu Legacy Foundation dalam sebuah pernyataan, tanpa memberikan rincian lebih lanjut.

Uskup Agung Anglikan Cape Town berusia 88 tahun itu selama hidupnya menggunakan mimbar untuk berkhotbah melawan ketidakadilan pemerintahan minoritas kulit putih selama era apartheid. Selama beberapa tahun terakhir, Uskup Tutu berjuang melawan kanker prostat dan menarik diri dari kehidupan publik.

Tutu memenangkan Hadiah Nobel Perdamaian pada tahun 1984 atas penentangannya yang tanpa kekerasan terhadap rezim apartheid di Afrika Selatan.

 

Siapakah Desmond Tutu

Desmond Tutu seperti ditulis Amazine.co lahir pada 7 Oktober 1931 di Klerksdorp, Transvaal dan dibesarkan dalam lingkungan Gereja Anglikan.

Sekitar usia dua belas tahun, keluarga Tutu menetap di Johannesburg, Afrika Selatan.

Pada awalnya, Desmond Tutu memiliki impian menjadi seorang dokter sehingga bisa menyembuhkan orang dari berbagai penyakit.

Sayangnya, keluarga Tutu tidak memiliki biaya untuk mengantarkan keinginannya. Itu sebab, Tutu lantas memilih profesi sebagai guru.

Pada tahun 1957, Desmond Tutu menyatakan sikap publik pertamanya untuk kesetaraan ketika menentang Undang-Undang Pendidikan Bantu yang membuat semakin sulit bagi penduduk asli Afrika Selatan untuk mendapatkan pendidikan secara adil.

Mengundurkan diri dari posisi mengajar, Tutu lantas mulai belajar teologi. Pada titik ini, Desmond Tutu membuat keputusan untuk mendedikasikan hidupnya melayani kemanusiaan melalui naungan Gereja Anglikan.

Setelah menyelesaikan studi, dia ditahbiskan sebagai pendeta dalam tradisi Anglikan pada tahun 1960.

Seiring waktu, Desmond Tutu menjadi pemuka agama Afrika Selatan. Pelayanannya yang sungguh-sungguh membuat Desmond Tutu ditahbiskan sebagai orang kulit hitam pertama Afrika Selatan yang menjabat sebagai Uskup Agung Cape Town.

Dalam beberapa tahun kemudian, dia juga menjadi figur penting dari apa yang sekarang dikenal sebagai Gereja Anglikan Afrika Selatan.

Pelayanan Tutu banyak berfokus pada kasih Tuhan bagi seluruh umat manusia. Sudut pandang ini membuat Uskup Agung Desmond Tutu menjadi musuh apartheid di negeri asalnya.

Pada dasarnya, apartheid mencegah semua warga Afrika Selatan (khususnya warga kulit hitam) berpartisipasi penuh dalam kehidupan negara.

Upaya Tutu untuk mengakhiri apartheid menyentuh hati orang di seluruh dunia sehingga pada tahun 1984 dia diganjar Hadiah Nobel Perdamaian sebagai pengakuan upayanya untuk membawa kesetaraan bagi semua warga Afrika Selatan.

Uskup Agung Tutu juga menerima Hadiah Albert Schweitzer untuk Kemanusiaan pada tahun 1986.

Perjuangan Desmond Tutu untuk persamaan hak bagi semua warga negara tidak berhenti dengan berakhirnya diskriminasi rasial di Afrika Selatan.

Dalam kondisi ketika hanya sedikit orang peduli pada solusi medis untuk epidemi AIDS, Desmond Tutu menggunakan posisinya untuk menyerukan diakhirinya diskriminasi pada orang dengan AIDS.

Untuk tujuan itu, Desmond Tutu mendirikan Global AIDS Alliance yang terbukti menjadi salah satu pendorong global agar masyarakat dunia lebih peduli terhadap AIDS.

Upayanya membantu korban AIDS membuatnya menerima Penghargaan Perdamaian Gandhi pada bulan Februari 2007.

Uskup Agung Tutu terus berbicara perihal kesetaraan di berbagai bidang termasuk kesetraan jender dan orientasi seksual tak lazim.

Dia banyak melakukan perjalanan untuk berbagi visi tentang sebuah dunia di mana orang dihargai karena kualitas kemanusiaannya, bukan karena faktor eksternal yang sering digunakan sebagai alasan untuk berbuat diskriminasi.

--- Simon Leya

Komentar