Breaking News

OLAHRAGA Perjuangkan Pencak Silat ke Olimpiade, Kemenpora Intensifkan Komunikasi dengan IOC 12 Apr 2019 08:11

Direktur Lembaga Kajian dan Aksi Kebangsaan Viktus Murin (baju batik) berbicara pada acara Focus Group Discussion dengan topik utama
Menurut Viktus Murin, raihan prestasi pencak silat di kancah olahraga internasional, khususnya pada ajang Asian Games 2018 di Jakarta, merupakan bagian dari diplomasi Indonesia dalam pergaulan antar-negara.

BOGOR, IndonesiaSatu.co -- Komunikasi dan kemitraan merupakan faktor kunci dalam mengakselerasi perjuangan Indonesia untuk menghantar cabang olahraga Pencak Silat menuju pentas Olimpiade. Apalagi pemerintah Indonesia, atas prakarsa langsung dari Presiden Jokowi, telah mengirimkan surat kepada IOC, untuk mengajukan diri sebagai tuan rumah Olimpiade 2032.

Hal tersebut disampaikan Staf Ahli Bidang Kerjasama Kelembagaan, Drs. Chandra Bhakti, M.Si, saat memberikan pengarahan sekaligus membuka Focus Group Discussion (FGD) dengan topik utama "Pencak Silat Road To Olympic", Selasa (9/4/2019) malam di Green Peak Hotel, Cisarua-Bogor, Jawa Barat. 

Menurut Chandra Bhakti, Kemenpora melalui Staf Ahli Bidang Kerjasama Kelembagaan terus berikhtiar membangun kominikasi dengan pihak IOC. Komunikasi itu dilakukan dengan menggandeng pihak Komite Olimpiade Indonesia (KOI) untuk lebih meyakinkan pihak IOC. Pemerintah, lanjut Chandra Bhakti, juga berkomunikasi dengan otoritas olahraga RRT agar  pencak silat juga tetap dipertandingkan pada Asian Games tahun 2022 di Shinjian-RRT.

Chandra Bhakti yang juga Plt Deputi IV Menpora Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga  ini, menegaskan, pemerintah  bersikap proaktif sekaligus terbuka menerima masukan dari segenap stakeholders olahraga pencak silat, untuk memastikan pencak silat menjadi cabang resmi di Olimpiade. 

Tampil pula sebagai Narasumber dalam FGD sesi keolahragaan tersebut adalah Direktur Lembaga Kajian dan Aksi Kebangsaan (LKAK) Viktus Murin, yang membedah topik "Pencak Silat sebagai Olahraga Khas Indonesia, Ketua Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Fahmi Idris, dan Suyadi Pawiro dari Biro Perencanaan Kemenpora yang membahas tahapan grand design pencak silat menuju Olimpiade. Moderator FGD pada sesi olahraga adalah Fransiskus Roi Lewar selaku pengamat olahraga nasional.

Viktus Murin mengatakan, pencak silat merupakan bagian dari identitas tradisi, budaya, dan olahraga Indonesia yang patut dilestarikan dan dikembangkan secara berkelanjutan sebagai bagian dari kebanggaan kolektif bangsa Indonesia.

Menurut Viktus Murin, raihan prestasi  pencak silat di kancah olahraga internasional, khususnya pada ajang Asian Games 2018 di Jakarta, merupakan bagian dari diplomasi Indonesia dalam pergaulan antar-negara. Namun demikian, belajar dari raihan prestasi tersebut, maka Indonesia harus terus mempersiapkan diri untuk terus meraih prestasi di kancah dunia. 

"Pencak Silat sebagai olahraga khas Indonesia, mesti terus ditingkatkan kualitas pembinaannya untuk dapat berbicara di kancah olahraga tertinggi dunia yakni Olimpiade. Membawa pencak silat ke arena Olimpiade adalah tanggung jawab kolektif dari pemerintah dan segenap stakeholders olahraga," tegas Viktus Murin, Sekjen Presidium GMNI periode 1999-2002. 

Hal senada disampaikan Ketua IPSI, Fahmi Idris, yang menekankan pentingnya kemitraan dari berbagai elemen bangsa untuk memperjuangkan pencak silat sebagai cabang olahraga resmi di Olimpiade. 

Sedangkan Suyadi Pawiro dari Biro Perencanaan Kemenpora RI menekankan pentingnya pemerintah dan seluruh stakehokders olahraga  mengampanyekan pencak silat secara masif, agar pencak silat lolos menjadi cabang olahraga resmi di Olimpiade.

 

Ekonomi Kreatif Pemuda

 

Pada sesi FGD bidang kepemudaan, Rabu (10/4/2019), hadir memberikan arahan kepada peserta FGD adalah Staf Ahli Menpora RI Bidang Ekonomi Kreatif, DR. Jonni Mardizal, yang sekaligus menutup FGD ini.

Jonni Mardizal menegaskan, pemerintah melalui Kemenpora RI terus memacu program-program pembangunan kepemudaan yang berbasis pada ekonomi kreatif. Apalagi, lanjut Jonni Mardizal, dunia saat ini telah memasuki era revolusi industri 4.0 atau era digitalisasi.

"Kemenpora bahkan memacu pengembangan potensi ekonomi kreatif hingga ke desa-desa. Para pemuda di desa memiliki potensi yang besar mengingat pemerintah saat ini, sesuai Nawacita Presiden Jokowi, telah menjadikan desa sebagai fokus pembangunan. Membangun negeri dari desa," tegas Jonni Mardizal..

Narasumber lainnya, Yohanes Don Bosco Doho dari London School, menekankan pentingnya kreativitas pemuda untuk menumbuhsuburkan budaya ekonomi kreatif pada lingkungan pemuda. 

Sedangkan praktisi kepemudaan yang juga mantan Asisten Deputi Kemenpora, Mandir Ahmad Syafii menegaskan pentingnya para pemuda meningkatkan ketrampilan di bidang digitalisasi, guna membuka akses atau jejaring untuk memasarkan hasil ekonomi kreatif. 

Sementara itu, Vincen de Ornai, Tim Asistensi Kemenpora mengatakan, supervisi kegiatan FGD sesi olahraga dan sesi kepemudaan ini dilakukan secara optimal oleh Staf Ahli Bidang Kerjasama Kelembagaan dan Staf Ahli Bidang Ekonomi Kreatif, semata-mata untuk meningkatkan kapasitas dan daya saing para atlet dan pemuda Indonesia.

--- Simon Leya

Komentar