Breaking News

REFLEKSI Vitalitas Devosional dan Aksi Sosial 19 Oct 2020 09:49

Article image
Haruskah orang Kristen hanya mementingkan hal-hal ‘spiritual’ atau apakah tindakan kita dalam masyarakat atas nama orang miskin dan terpinggirkan memiliki dimensi ‘spiritual juga? (Foto: Loveinactionus.com)
Kombinasi yang sama antara vitalitas devosional dan aksi sosial juga ditekankan dalam dua perintah besar Yesus - untuk mencintai Tuhan dengan seluruh tenaga dan mencintai orang lain seperti diri kita sendiri

Oleh Valens Daki-Soo

 

BERAGAMA tidaklah sekadar urusan ritual-seremonial belaka. Kalau hanya berurusan dengan ritus/ritual, apa susahnya beragama? Cukuplah rajin ke rumah ibadah, selesai. Anda bisa meraih "kesalehan personal" dengan rutin-teratur mengikuti ibadah, apapun agama Anda.

Namun, agama sebenarnya bukan sekadar bagian dari hidup. Semestinya dan sejatinya, agama itu adalah kehidupan. Dia mewarnai dan meresapi semua dimensi kehidupan. Ajarannya tentang relasi vertikal dengan Allah dan hubungan horisontal dengan manusia (dan semua ciptaan) mesti termanifestasi dalam keseharian praksis kehidupan.

Cinta kasih yang selalu dikotbahkan di gereja hendaknya menjadi benang-benang sutera kehidupan yang dirajut menjadi "kesalehan sosial": mengasihi sesama, berbagi dengan yang papa, solider dengan yang tak berpunya, membiaskan cahaya (Daya Ilahi) kepada semesta.

Itu sebabnya spiritualitas terasa lebih dalam maknanya daripada religiusitas. Di balik permukaan setiap agama, mengalirlah arus spiritualitas yang sejatinya satu dalam hakikat dan arah tujuan. Menjadi manusia yang sungguh beriman (spiritual), tak cukup hanya berbaju agama (religius).

Seorang pemimpin agama bisa tampak agung dalam jubah kebesarannya, namun miskin dalam penghayatan nilai-nilai yang diwartakannya. Agama mesti "dihidupkan" menjadi jalan kebaikan dan kebenaran. Ya, jalan kesucian. Suci itu dalam pemahaman saya: terpancar dari dalam hati. Menyembur dari kedalaman jiwa.

 

Kesalehan pribadi atau keadilan sosial?

Tentang kesalehan pribadi dan keadilan sosial,  Rev. Danny Massie, seorang pendeta dari Gereja Presbyterian pernah bertanya, “Haruskah orang Kristen hanya mementingkan hal-hal ‘spiritual’ seperti kesalehan pribadi, pewartaan, dan doa, atau apakah tindakan kita dalam masyarakat atas nama orang miskin dan terpinggirkan memiliki dimensi ‘spiritual juga?”

Pertanyaan ini telah menjadi perdebatan tak berujung, dan muncul kembali setiap kali orang Kristen bergumul dengan masalah etika atau sosial yang kontroversial yang berkaitan dengan keadilan.

“Ketika saya melayani gereja di Charleston, saya membantu mengatur apa yang kemudian dikenal sebagai Kementerian Kehakiman Area Charleston, yang mengumpulkan sekitar 26 gereja, sinagoga, dan masjid dalam menangani masalah ketidakadilan yang dirasakan di masyarakat,” tutur Rev. Danny Massie.

Seperti yang dibayangkan, tidak semua orang di sidang gerejanya mendukung upaya ini. Seorang wanita datang kepadanya dan berkata dia telah mendengar komentator politik konservatif favoritnya, Glenn Beck, mengatakan bahwa gereja manapun yang menyebutkan “keadilan sosial” bukanlah gereja yang benar dan jika gereja Anda melakukannya Anda harus berbalik dan lari! Dia juga mengatakan bahwa "keadilan sosial" hanyalah kata sandi untuk komunisme dan nazisme.

Rev. Danny Massie menegaskan, jika Anda tidak peduli atau tidak aktif dalam keadilan sosial, maka Anda mengabaikan ajaran yang jelas dari para nabi Israel dan Yesus dalam Injil. Atau yang lain, seperti yang telah diperdebatkan dalam studi kita tentang Wahyu, Anda menempatkan pandangan Anda di hadapan pandangan Yesus dalam kaitannya dengan apa yang akan dan dilakukan oleh gereja-Nya.

Penginjil Matius menulis:  "Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu memberi persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan" (Matius 23:23).

Tidak mungkin tulus dalam menyembah Tuhan tanpa berusaha melakukan kehendak Tuhan. Demikian pula, sama tidak mungkinnya melakukan kehendak Tuhan terlepas dari pemberdayaan dan bimbingan hubungan yang penting dengan Tuhan itu.

Kombinasi yang sama antara vitalitas devosional dan aksi sosial juga ditekankan dalam dua perintah besar Yesus - untuk mencintai Tuhan dengan seluruh tenaga dan mencintai orang lain seperti diri kita sendiri  (Mat 22: 36-40).

 

Melayani Tuhan dan sesama

Setiap murid dan setiap gereja harus memutuskan apa yang Tuhan panggil untuk menjadi dan lakukan, dan tidak semua akan melakukan hal yang sama. Beberapa lebih nyaman dengan devosi pribadi dan beberapa dengan konsekuensi sosialnya, beberapa dengan keduanya, dan sayangnya beberapa tidak.

Bagaimana Tuhan menggunakan Anda dalam pelayanan yang saleh kepada Tuhan dan sesama?

Kasihi Tuhan, serempak mengasihi sesama dan diri sendiri sebagai "imago Dei" adalah saripati keberimanan dan spirit dasar keberagamaan.

Siapapun Anda dan apapun agamamu, Tuhan memberkati dan menyertai Anda.

 

Penulis adalah peminat filsafat-teologi, CEO VDS Group, Pendiri/Pemimpin Umum IndonesiaSatu.co

 

Komentar