Breaking News

BERITA Wabah Corona di Dunia: Dari Kelelawar ke Manusia 29 Mar 2020 21:32

Article image
Epidemi dari dua Virus Corona sebelumnya yaitu Severe Acute Respiratory Syndrome CoronaVirus (SARS-CoV) dan Middle East Respiratory Syndrome CoronaVirus (MERS-CoV) juga dibuktikan berasal dari Kelelawar. (Foto: Ilustrasi/shutterstock)
Menurut Tri, meningkatnya perdagangan ilegal satwa liar, merusak habitat alami, hingga pemburuan liar, mempercepat lompatan atau perpindahan patogen Virus Corona dari hewan inang alami Virus Corona yakni kelelawar ke manusia.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co-- Ahli Kesehatan Hewan, Kesehatan Masyarakat, Veteriner, dan Karantina Hewan, Tri Satya Putri Naipospos mengatakan perusakan alam oleh tangan manusia telah memicu penyebaran Virus Corona (SARS-CoV-2).

Menurut Tri, meningkatnya perdagangan ilegal satwa liar, merusak habitat alami, hingga pemburuan liar,  mempercepat lompatan atau perpindahan patogen Virus Corona dari hewan inang alami Virus Corona yakni kelelawar ke manusia.

Dikatakan Tri, Virus Corona merupakan salah satu contoh patogen yang berasal dari perdagangan satwa liar, termasuk juga SARS, MERS, Ebola, hingga flu burung.

"Virus melompat antar-spesies. Ini terjadi apabila manusia berburu satwa liar atau merusak habitat sehingga mempermudah patogen melompat antar-spesies," kata Tri Satya saat konferensi pers bersama World Wide Fund for Nature (WWF) yang disiarkan secara online, Jumat (27/3/20) dan diberitakan CNN Indinesia.

Tri Satya menjelaskan, aktivitas manusia mulai dari memakan daging kelelawar, menangkap di alam liar dan menjualnya di pasar, dapat mempermudah Virus Corona berpindah ke manusia. Sebelumnya, virus tersebut persisten di hewan liar dan bermutasi sehingga bisa berpindah ke manusia.

"Virus yang persisten di dalam hewan liar kemudian berpindah sehingga bermutasi dan bertemu dengan reseptor manusia sehingga menyebabkan manusia menderita sakit," ujar Tri Satya.

Diterangkan, epidemi dari dua Virus Corona sebelumnya yaitu Severe Acute Respiratory Syndrome CoronaVirus (SARS-CoV) dan Middle East Respiratory Syndrome CoronaVirus (MERS-CoV) juga dibuktikan berasal dari Kelelawar.

Ia menyebutkan bahwa inang perantara SARS-CoV adalah Musang Sawit, sementara inang perantara MERS-CoV adalah Unta Dromedari.

Tri Satya mengatakan bahwa binatang kelelawar jarang sekali mengalami gejala sakit, tetapi memiliki peluang menyebarkan patogen jarak jauh dan luas. Ada lebih dari 1.300 spesies kelelawar terdistribusi di enam Benua.

Adapun Indonesia menjadi rumah dari 219 spesies kelelawar. Angka ini lebih banyak dari negara lain. Di Indonesia, daging kelelawar secara rutin tersedia untuk dijual di sejumlah pasar dan supermarket di Sulawesi Utara.

"Jadi, ada ribuan virus dari berbagai spesies kelelawar yang bisa memaparkan virus kalau manusia mengganggu kehidupannya. Manusia harus mencari cara agar tidak mengganggu hidup mereka sehingga patogen dalam diri mereka tidak berpindah ke manusia," sarannya.

Manusia Diminta Jaga Lingkungan

Aktivitas manusia yang mengganggu alam disebut akan menimbulkan virus jenis Corona lainnya yang lebih parah di masa depan dibandingkan virus SARS-Cov-2 yang saat ini sedang mewabah. Virus corona yang sudah mewabah saat ini termasuk hanya merupakan 'puncak gunung es'.

Aktivitas tidak alami membuat manusia menjadi sumber pencemar, hal ini disebut sebagai antropogenik. Aktivitas antropogenik ini berupa perburuan liar hingga perusakan hutan sebagai habitat alami inang Corona yakni kelelawar. Antropogenik menyebabkan patogen virus semakin mudah melompat dan bermutasi ke manusia.

Ditegaskan, kelelawar juga merupakan inang alami epidemi dua Virus Corona sebelumnya yakni SARS-CoV dan MERS-CoV.

"Sejarah Virus Corona ini hanyalah 'puncak gunung es' karena banyak Virus Corona di sekitar kita sehingga dapat menyebabkan virus baru yang lebih parah di masa depan," kata Tri.

Tri juga menjelaskan perpindahan virus dari kelelawar ke manusia disebabkan oleh tumpahan (spillover) cairan, seperti darah. Potensi terjadinya perpindahan virus akibat spillover sangat tinggi dalam proses penangkapan dan pengolahan satwa liar. 

--- Guche Montero

Komentar