Breaking News
  • BI Sudah Habiskan Rp 11 T untuk Kuatkan Rupiah
  • Gempa 7,8 SR Guncang Fiji
  • Kemensos: Bansos Saja Tak Cukup Tangani Kemiskinan
  • Resmi! Pendaftaran CPNS 2018 Dibuka 19 September
  • Wadahi Mahasiswa yang Suka Piknik, Kemenpar Resmikan GenPI UBM

POLITIK Wanda Hamidah: Generasi Milenial Masih Antipati Terhadap Politik 03 Mar 2018 12:18

Article image
Wanda Hamidah (kedua dari kiri) saat hadir sebagai pembicara dalam Diskusi Politik yang digelar Vox Point Indonesia di Jakarta (Foto: Dok. Vox Point)
“Generasi milenial suka transparansi, diskusi, responsif. Di tengah kegelisahan, kaum muda cenderung mengharapkan sosok pemimpin yang responsif terhadap realita dan terus mengupayakan langkah-langkah solutif guna menuntaskan berbagai persoalan kebangsaan

JAKARTA, IndonesiaSatu.co-- Ketua Garnita Malahayati Partai Nasdem DKI Jakarta, Wanda Hamidah mengungkapkan bahwa generasi milenial saat ini adalah generasi yang suka dengan transparansi.

“Generasi milenial suka transparansi, diskusi, responsif. Di tengah kegelisahan, kaum muda cenderung mengharapkan sosok pemimpin yang responsif terhadap realita dan terus mengupayakan langkah-langkah solutif guna menuntaskan berbagai persoalan kebangsaan yang ada. Mereka cenderung berpikir praktis dengan situasi yang ada, terutama pemimpin yang mampu merealisasikan program tanpa banyak retorika," ujar Wanda dalam diskusi yang digelar Vox Point Indonesia bertajuk "Berebut Suara Milenial" di Jakarta, Kamis (1/3/2018).

Menyinggung antusiasme dan partisipasi kaum muda dalam dunia politik, Wanda menilai, secara umum generasi milenial juga antipati terhadap politik.

“Ada beberapa lembaga survey yang mencoba mengkaji arah suara generasi milenial menjelang pemilihan umum 2019 mendatang. Namun, pada umumnya, generasi milenial cenderung antipati bahkan bersikap apatis terhadap politik. Mereka tergolong pemilih yang cenderung tidak peduli dengan politik. Meski demikian, mereka justru tertarik dengan isu-isu keindonesiaan dan dunia internasional. Mereka sangat concern terhadap pendidikan dan pekerjaan," nilainya.

Menanggapi anggapan publik yang melihat  kaum milenial cenderung masa bodoh, egois bahkan dianggap hanya jargon semata, Wanda justru beranggapan bahwa generasi milienial memiliki kelebihan yakni berani mengambil resiko.

“Ada sisi keberanian. Mereka selalu mudah beradaptasi dengan pelbagai tuntutan zaman dan berani mengambil resiko. Artinya, mereka mau menginvestasikan segala potensi yang dimiliki dan percaya bahwa selalu ada dampak pada perubahan. Dengan pertimbangan rasional, generasi milenial juga berada pada posisi strategis sehingga tidak mudah menebak arah politik mereka," imbuhnya.

Sementara Sekretaris Jenderal Vox Point Indonesia, Lidya Natalia Sartono menilai, generasi milenial tidak perlu apatis dan ekslusif terhadap politik. Menurutnya, generasi milenial harus diberi pemahaman politik sehingga memiliki ruang untuk mengkaji setiap persoalan yang ada.

“Generasi milenial cenderung dijadikan tantangan terkait partisipasi dan arah pilihan secara politis. Sangat labil dan fluktuatif sehingga tidak mudah menebak arah pilihan politik. Kaum muda perlu diberi pendidikan dan kesadaran politik meski bukan menjadi satu-satunya orientasi kepentingan,” tambah Lidya.

Ketua Presidium Pengurus Pusat PMKRI periode 2013-2015 ini mengharapkan agar ruang politik praktis juga perlu diberikan kepada generasi milenial sehingga dapat membentuk pardigma konstruktif terhadap politik.

“Ini soal ruang kepercayaan kepada kaum muda dalam berbagai dimensi termasuk politik. Tantangan sekaligus kegelisahan yang sering dialami generasi muda yakni minimnya partisipasi dan keterlibatan dalam dunia politik. Alhasil, tantangan terbesar bagi generasi milenial yakni tidak sekadar mendapatkan pekerjaan, melainkan mampu menciptakan lapangan pekerjaan sendiri. Politik harus menjadi ruang edukatif guna menata tatanan hidup sosial termasuk generasi milenial,” tandas tokoh muda perempuan Kalimantan Barat yang mengaku peduli dengan dunia pendidikan dan kaum muda ini.

--- Guche Montero

Komentar