Breaking News

NASIONAL Warna Pesawat Kepresidenan Diubah, Senator AWK: Pemerintah Kehilangan Sense of Crisis 04 Aug 2021 23:47

Article image
Anggota DPD RI Dapil NTT, Angelo Wake Kako (AWK). (Foto: Dok. Tim AWK)
Angelo juga mengritisi bahwa kita kerap terjebak pada nasionalisme semu yang hanya berbasis 'ritual' atau 'tampilan'

JAKARTA, IndonesiaSatu.co-- Anggota DPD RI, Angelius Wake Kako (AWK) turut merespons polemik terkait pengecatan ulang pesawat Kepresidenan dari yang semulanya berwarna biru-putih menjadi merah-putih.

Sebelumnya, Kepala Sekretariat Presiden Heru Budi Hartono mengatakan alasan pengecatan ulang adalah agar warna pesawat Kepresidenan sesuai dengan warna bendera RI.

Pengecatan ulang ini juga sebagai bagian dari cara memperingati HUT RI ke-75.

Heru mengatakan anggaran pengecatan pesawat tersebut mencapai Rp 2 miliar.

Menanggapi hal itu, Senator Angelo menilai cara memperingati HUT RI dengan menghabiskan anggaran sebesar Rp 2 miliar ini perlu dikritik.

“Meski anggaran Rp 2 miliar tidak sebanding dengan dana total Pemulihan Ekonomi Nasional 2020-2021 yang sudah sebesar Rp 984 triliun (Rp 679 triliun per September 2020 dan Rp 305 triliun per Agustus), pilihan waktu pengecatan yang tidak tepat yakni di tengah situasi ekonomi Covid-19 yang lagi terpuruk. Inisiatif ini sebuah pemborosan belaka,” kritik Senator Angelo seperti dilansir jpnn.com, Rabu (4/8/2021).

Senator muda dari Provinsi NTT itu turut menjadi bagian dari deretan tokoh publik yang mengritisi hal ini.

"Bagi saya, pemerintah memang sudah kehilangan sense of crisis. Di tengah situasi masyarakat yang terhimpit oleh beban ekonomi, pemerintah pusat justru membuang anggaran. Apa urgensi pesawat Kepresidenan diganti cat menjadi merah-putih? Kalau catnya berubah, apa ekonomi rakyat membaik? Kan tidak!" kritik Angelo.

Nasionalisme Semu

Angelo juga mengritisi bahwa kita kerap terjebak pada nasionalisme semu yang hanya berbasis 'ritual' atau 'tampilan'

Menurutnya, jika ingin memberikan kado ultah terbaik di bulan Kemerdekaan ini, pemerintah harus merapikan birokrasi dan komunikasi agar pengendalian virus Covid-19 dapat teratasi.

Angelo menegaskan, pemborosan anggaran sebesar Rp 2 miliar ini menjadi ironi di tengah kuatnya tekanan Pusat agar Pemerintah Daerah bertindak cepat dan efisien dalam merealisasikan anggaran.

"Selama ini Pemerintah pusat menekan pemerintah daerah untuk berkinerja baik dalam realisasi anggaran. Namun, pusat sekarang yang membuang-buang anggaran. Ini yang baru kelihatan. Jangan sampai selama ini banyak pemborosan juga yang tidak terendus,” sentil Angelo.

Senator AWK menerangkan bahwa dalam penelusurannya di daerah, banyak tenaga kerja (Nakes) yang mengeluh belum mendapat insentif, bahkan banyak juga masyarakat yang meninggal saat isoman.

"Di luar Jawa-Bali, masyarakat terkendala ikut vaksin karena pasokan minim. Ini tanda bahwa situasi kita sedang tidak baik-baik saja. Maka pusat harap stop melakukan aksi yang tidak penting di tengah situasi yang masih genting ini,” sorot senator muda ini.

Senator Angelo menilai, memperbaiki fasilitas Presiden di tengah situasi masyarakat yang sedang susah bukan keputusan yang tepat. Apalagi presiden cukup jarang melakukan perjalanan ke daerah-daerah atau luar negeri.

"Dari keputusan yang tergolong blunder ini dapat dikatakan bahwa pemerintah sedang kehilangan sense of crisis. Kalaupun ada, barangkali kepekaannya sedikit dan cepat puas dengan kinerja yang telah dilakukan. Pusat semestinya menjadi teladan. Jangan hanya tahu tekan pemerintah daerah tetapi kepemimpinan nasional masih buruk di sana-sini, baik di level birokrasi maupun komunikasi,” tandas Angelo.

 

--- Guche Montero

Komentar