Breaking News

REGIONAL Waspada, Virus Malaria Paling Berbahaya dari Afsel Masuk Kota Kupang 22 Jul 2019 12:16

Article image
Ilustrasi nyamuk. (Foto: Kantor Berita Kemanusiaan)
Virus malaria itu, kata dia, diderita oleh Garanta setelah sebelumnya yang bersangkutan sempat bertugas di daerah endemis malaria di Kota Bangui, Afrika Selatan.

KUPANG, IndonesiaSatu.co – Warga Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) harus mewaspadai masuknya satu jenis virus malaria berbahaya dari Afrika Selatan (Afsel).

Virus tersebut masuk pada tubuh manusia melalui nyamuk anopheles betina yang menyebabkan infeksi paling berbahaya dan memiliki tingkat komplikasi dan mortalitas malaria tertinggi.

Masuknya virus asal Afsel tersebut disampaikan Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Kupang Sri Wahyuningsih di Kupang, Senin (22/7/2019).

Menurut Dinkes Kota Kupang, satu jenis virus malaria dari Afsel yang masuk ke ibu kota Provinsi NTT melalui salah seorang pengidap asal Cimahi, Jawa Barat bernama Garanta berusia 54 yang bertugas di Kupang.

Virus malaria itu, kata dia, diderita oleh Garanta setelah sebelumnya yang bersangkutan sempat bertugas di daerah endemis malaria di Kota Bangui, Afrika Selatan.

"Kami menduga Garanta digigit nyamuk saat sedang bertugas di Bangui, dan baru ketahuan saat dirinya tiba di Kupang dan dirawat di RS," katanya seperti dilansir Antara.

Ia menambahkan bahwa Garanta sempat dirawat di RS Wirasakti Kupang, dan dari hasil pemeriksaan laboratorium, Garanta positif terkana malaria falsifarum plasmodium (plasmodium falciparum/PF).

Plasmodium falciparum adalah protozoa parasit, salah satu spesies Plasmodium yang menyebabkan penyakit malaria pada manusia. Protozoa ini masuk pada tubuh manusia melalui nyamuk anopheles betina. Plasmodium falciparum menyebabkan infeksi paling berbahaya dan memiliki tingkat komplikasi dan mortalitas malaria tertinggi.

"Gejala malaria falciparum timbul antara 9-30 hari setelah terinfeksi yakni demam, menggigil dan sakit kepala," katanya. Namun, Garanta telah diberikan terapi kombinasi berbasis artemisinin (artemisini-based combination therapy (ACT) sebanyak empat tablet dan primaquine sebanyak tiga tablet.

"Syukurnya saat ini pasien telah kembali ke daerahya di Cimahi, Jawa Barat untuk istirahat," demikian Sri Wahyuningsih.

--- Simon Leya

Komentar