Breaking News

INTERNASIONAL Korsel Kembangkan Sistem Pertahanan Anti-Drone 18 Sep 2019 08:46

Article image
Sebuah pesawat nirawak (drone) Korea Utara yang diikutkan dalam parade militer di Pyongyang. (Foto: telegraph.co.uk)
Pengembangan sistem anti-drone dilakukan dalam hubungan dengan hasil penyelidikan terhadap satu pesawat nirawak Korut yang menerobos perbatasan Zona Demiliterisasi pada 2017.

SEOUL, IndonesiaSatu.co -- Pemerintah Korea Selatan (Korsel) akan menganggarkan dana sebesar 88 miliar won atau sekitar 1,2 miliar rupiah untuk program pengembangan sistem senjata anti-drone menyusul insiden penerobosan drone dari Korea Utara (Korut).

Seperti dilansir Deutsche Presse-Agentur (DPA), Rabu (18/9/2019), salah seorang pejabat senior Lembaga Pertahanan Korsel, Song Chang-joon, mengatakan, negaranya serius dengan program pengembangan sistem anti-drone sehingga mampu melakukan intersepsi serangan drone maupun jet tempur dan satelit.

"Kami akan mengembangkan sistem tersebut sehingga akan benar-benar mampu mengintersepsi jet tempur dan satelit," jelas Chang-joon seperti dikutip dari DPA, Rabu (18/9/2019).

Ia menambahkan, sistem pertahanan yang disebut Block-I tersebut didesain untuk melacak dan menghancurkan drone kecil dan pesawat lainnya dari jarak dekat.
Dengan sistem anti-drone ini, Korsel berharap dapat melindungi negaranya sementara mereka berupaya mengurangi ketegangan dengan Korut melalui jalur diplomasi.

Pengembangan sistem anti-drone dilakukan dalam hubungan dengan hasil penyelidikan terhadap satu pesawat nirawak Korut yang menerobos perbatasan Zona Demiliterisasi pada 2017.
Hasil penyelidikan mengungkapkan adanya 550 foto dari kamera drone tersebut, di antaranya foto sejumlah fasilitas penting negara termasuk Istana Kepresidenan Korsel.

Hingga saat ini Korut dan Korsel secara teknis masih dalam status berperang karena pasca Perang Korea 1950-1953 kedua negara masih dalam kondisi gencatan senjata dan belum mencapai kesepakatan damai.

Upaya perdamaian terus dilakukan oleh berbagai pihak, termasuk Presiden Korsel Moon Jae-in dan pemimpin tertinggi Korut Kim Jong-un yang bertemu untuk pertama kalinya tahun lalu.

Presiden AS Donald Trump juga berupaya melakukan langkah-langkah perdamaian di Semenanjung Korea melalui pertemuan dengan Jong-un dan dialog denuklirisasi Korut, meski hingga kini belum membuahkan hasil signifikan.

--- Rikard Mosa Dhae