Breaking News
  • Defisit Lebih Rendah Dari Proyeksi APBN-P 2017
  • Menkeu: investasi tumbuh karena kepercayaan pelaku usaha
  • Penerimaan Bea Cukai hingga November Rp130,1 triliun
  • Presiden Jokowi setuju pendiri HMI jadi Pahlawan Nasional

LINGKUNGAN HIDUP Wiranto: Perlu Ada Terobosan Baru dalam Penanganan Bencana 24 Feb 2017 11:31

Article image
Menkopolhukam Wiranto. (Foto: Antara)
Wiranto menegaskan bahwa visi pemerintah harus dijabarkan dalam berbagai kegiatan. Belum lagi mengenai ancaman, yaitu ketika paradigma ancaman di Indonesia dan dunia sudah berubah.

YOGYAKARTA, IndonesiaSatu.co -- Menteri Koordinasi Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Wiranto membuka secara resmi rapat kerja nasional (rakernas) penanggulangan bencana pada Kamis (23/2) di Yogyakarta. Wiranto menyampaikan apresiasi terhadap para pejuang kemanusiaan dalam konteks bencana baik BNPB dan BPBD di seluruh Indonesia. 

Dalam sambutan pembukaan, Wiranto mengatakan bahwa secara kodrati manusia membutuhkan keamanan dan keselamatan. Konteks itu telah tercermin dalam konstitusi Indonesia.

“Ini artinya founding fathers sadar untuk membentuk pemerintah dengan visi rakyat harus merasa aman dan terlindungi,” kata Wiranto di hadapan 3.200 peserta dari kementerian/lembaga dan BPBD provinsi, kabupaten, dan kota seluruh Indonesia, seperti dikutip dari siaran pers Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB, Jumat (24/2/2017).

Wiranto menambahkan bahwa visi pemerintah harus dijabarkan dalam berbagai kegiatan. Belum lagi mengenai ancaman, yaitu ketika paradigma ancaman di Indonesia dan dunia sudah berubah.

“Saat ini ancaman bersifat multidimensional. Ancaman merambah pada spektrum kehidupan manusia. Kita tahu bahwa ancaman ada dua, yaitu ancaman oleh alam dan ulah manusia,” ujarnya.

Wiranto menegaskan, ada korelasi bencana alam karena ulah manusia dan lebih kompleks, seperti banjir, kebakaran hutan dan lahan. Oleh karena itu, Wiranto mengatakan bahwa perlu usaha dalam penanggulangannya. 

“Perlu ada terobosan baru, tadi disampaikan Kepala BNPB dan jajaran di bawahnya melakukan terobosan baru yang dinamis dan cerdas. Terhadap dinamika ancaman alam dan ulah manusia,“ ujarnya.

Sementara itu, Kepala BNPB Willem Rampangilei menyampaikan bahwa rakernas tersebut sebagai momentum untuk bekerja lebih baik lagi terhadap pelayanan masyarakat dalam konteks penanggulangan bencana. Willem menyampaikan bahwa dibutuhkan paradigma baru dalam penanggulangan bencana, seperti dicontohkan pada konteks pascabencana gempabumi Pidie Jaya beberapa waktu lalu.

Menurutnya, siklus penanggulangan bencana harus beradaptasi dengan konteks bencana yang terjadi. Willem mengisahkan bagaimana Presiden Joko Widodo memberikan kritikan terhadap kinerja BNPB saat itu, khususnya penanganan para korban bencana. 

“Kemudian, sesuai arahan Presiden untuk penanganan yang cepat, BNPB memutuskan untuk melakukan proses rehabilitasi dan rekonstruksi di tengah masa tanggap darurat,” ujarnya.

Willem menambahkan bahwa sejumlah keluarga yang telah diidentifikasi kemudian langsung dibuatkan surat keputusan dari Bupati sehingga proses pencairan anggaran untuk pemulihan dapat secara cepat dilakukan.

Sementara itu, Gubernur DI Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono X menyampaikan sambutan selamat datang kepada para tamu undangan. Sultan berpesan agar pengalaman bencana harus dapat digunakan sebagai cermin dalam penanggulangan bencana berbasis masyarakat yang didukung oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

Rakernas kali ini mengambil tema “Mewujudkan BPBD yang Tangguh, Teruji dan Profesional dalam Bingkai Kebersamaan”.

Pembukaan rakernas yang berlangsung pada 21 – 24 Februari 2017 dihadiri Menteri PAN RB, Ketua Komisi VIII DPR RI, Gubernur Jawa Tengah, Rektor UGM, perwakilan kementerian/lembaga, kepala daerah, dan mitra penanggulangan bencana. 

--- Very Herdiman

Komentar