Breaking News
  • Bos First Travel Andika Divonis 20 Tahun, Istrinya 18 Tahun
  • Dolar AS Melambung, Harga Premium dan Solar Tak Naik Tahun Ini
  • Hendropriyono: TNI/Polri Jangan Takut Tegakkan Hukum
  • JK: Eks Koruptor Dilarang Nyaleg Agar Wibawa DPR Baik
  • Jonan Targetkan Akuisisi Saham Freeport Rampung Juni

OLAHRAGA Wuamesu Indonesia Cup II Siap Digelar 12 Jun 2018 12:14

Article image
Kegiatan Workshop, Drawing dan Manager Meeting Wuamesu Indonesia Cup II di Jakarta (Foto: Dok. Tim)
“Dari pihak PSSI sendiri memberikan perhatian yang besar untuk NTT. Sebab, NTT memiliki potensi dan bakat sepakbola yang luar biasa. Namun, peluang ini belum ditangkap dan diterapkan secara baik," ungkap Albinus.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co-- Event sepakbola Wuamesu Indonesia Cup (WIC) II akan kembali digelar pada 30 Juni 2018 mendatang di Jakarta. Sebanyak 16 tim sepakbola akan kembali memperebutkan piala bergilir WIC II yang saat ini dipegang oleh PSN Ngada-Jakarta sebagai juara bertahan dua tahun silam.

Sesuai rilis yang diterima media ini, Ketua Panitia WIC II, Albinus Lorensius pada kegiatan Workshop, Drawing dan Manager Meeting di Hotel Balairung, Jatinegara, Jakarta Utara, Minggu (10/6/18), mengatakan bahwa ke-16 tim yang akan berlaga pada turnamen tersebut berasal dari kabupaten/kota di Nusa Tenggara Timur (NTT) yakni  Kesebelasan PSN Ngada Jakarta (juara bertahan), Manggarai Timur, Ende I, Kabupaten Kupang A, Malaka, Nagekeo, Lembata, Kota Kupang, Timor Tengah Utara (TTU), Sikka, Flores Timor, Kabupaten Kupang B, Ende II, Manggarai Tengah, Alor, dan Kabupaten Belu.

“Sebenarnya kami menargetkan 20 tim yang akan mengikuti turnamen ini. Namun hingga hari ini, sebanyak 4 tim lainnya belum memberikan informasi asti. Padahal, informasi dan pemberitahuan mengenai turnaman ini sudah disampaikan sejak enam bulan lalu,” kata Albinus yang juga Sekretaris Badan Yudisial PSSI ini.

Dijelaskannya, turnamen WIC II ini masing-masing dibagi dalam 4 PooL. Di Pool A terdiri dari Kesebelasan Ende I, Kabupaten Kupang, Malaka dan Nagekeo. Sementara di pool B terdiri dari kesebelasan Sikka, Flores Timur, Kabupaten Kupang A dan Manggarai Timur. Pool C dihuni oleh kesebelasan Ngada, Lembata, Kota Kupang dan TTU. Sedangkan di pool D terdiri dari kesebelasan Ende II, Manggarai Tengah, Alor dan Belu. Pembukaan turnamen resmi dibuka pada 30 Juni 2018 di Lapangan Sunter ,Jakarta Utara hingga bulan Agustus mendatang.

Oleh Panitia, pada turnemen ini selain memperebutkan trofi Wuamesu Indonesia Cup, juga memperebutkan uang ratusan juta. Juara umum mendapatkan piala bergilir dan uang Rp100 juta, juara kedua mendapatkan piala dan uang Rp75 juta, juara ketiga mendapatkan piala dan uang sebesar Rp 50 juta serta juara keempat mendapatkan piala dan uang Rp 25 juta.

Albinus menerangkan bahwa event kali ini adalah tahun kedua. Ia mengharapkan agar event ini dapat mendorong potensi dan bakat sepakbola anak-anak muda NTT yang tidak hanya menjadikan bola kaki sebagai hobi, tetapi harus menjadikan bola kaki sebagai profesi.

“Event ini digelar untuk mendorong anak-anak muda NTT agar menjadikan bola kaki bukan sekedar hobi saja, melainkan lebih sebagai profesi. PSSI yang baru sekarang ini lebih menghargai anak-anak muda. Untuk itu, saya ingin event ini bisa berjalan baik dengan semangat PSSI,” katanya.

Diakuinya, panitia pada dasarnya menginginkan agar para pemain yang bertanding berasal dari kalangan muda yang usianya di bawah 25 tahun. Namun karena tidak mudah merekrut anak-anak muda di daerah perantauan yang sibuk dengan berbagai kegiatannya, maka masih banyak pula dari kalangan tua (orang tua) yang dapat memperkuat tim di kabupaten.

“Dari sisi persyaratan, Panitia sebenarnya membuat lebih mudah, karena dari beberapa kabupaten masih banyak juga orang-orang tua yang masih berkeinginan bermain. Padahal, sebenarnya panitia ingin semuanya dari anak muda. Akhirnya kami haus cari posisi imbangnya sehingga bisa berjalan dengan baik,” ujarnya.

Menggali Potensi Sepakbola NTT

Panitia menegaskan bahwa inti dari pelaksanaan event ini, selain semangat untuk menjadi juara (raih trofi), juga pengenalan materi dan pelatihan sebagai sumber pengetahuan sehingga event ini dapat menjadi jembatan untuk melahirkan bibit-bibit pesepakbola asal NTT untuk tampil di laga-laga nasional.

“Dari pihak PSSI sendiri memberikan perhatian yang besar untuk NTT. Sebab, NTT memiliki potensi dan bakat sepakbola yang luar biasa. Namun, peluang ini belum ditangkap dan diterapkan secara baik. Meski demikian, kita belum terlambat. Kita masih punya banyak waktu dan kita mulai dari sekarang ini. Semua tim dapat mempraktekan teknik-teknik sepakbola yang baik dan berkualitas,” tandasnya.

Selain itu, lanjutnya, tujuan khususnya adalah menghapus stigma orang NTT yang keras ternyata bisa berubah. Dengan semangat sportivitas, diharapkan turnamen ini dari babak pembukaan sampai babak final, dapat berjalan dengan baik.

“Jika pelaksanaanya sukses, maka ini bagian dari citra sepakbola dan kebanggaan masyarakat NTT. Setidaknya, stigma buruk tentang orang NTT di kancah sepakbola bisa berubah dan terutama perubahan di dunia olahraga,” pungkasnya.

--- Guche Montero

Komentar