Breaking News

REGIONAL Wujud Solider, Relawan LSM MRB dan PSI Kota Bogor Selamatkan Pasien Kritis ke Rumah Sakit 28 May 2020 13:18

Article image
Aksi Kemanusiaan oleh Relawan LSM MRB dan PSI Kota Bogor saat mengevakuasi pasien ke Rumah Sakit. (Foto: bogorchannel.id)
"Saya tidak paham bagaimana Dokter IGD RSUD tidak mau merawat. Begitu mudahnya menyebutkan bahwa cukup berobat di poli klinik," sesal Jamal.

KOTA BOGOR, IndonesiaSatu.co-- Bentuk nyata solidaritas kemanusiaan ditunjukkan Relawan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Mitra Rakyat Bersatu (MRB) dan Relawan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kota Bogor.

Tergerak oleh kepedulian dan rasa solider, para Relawan melakukan advokasi kemanusiaan ke rumah satu keluarga yang beralamat di Kampung Katulampa, RT 003/RW 019, Kelurahan Katulampa, Kecamatan Bogor Timur, Kota Bogor.

Dengan kondisi rumah yang sudah kategori tak layak huni, para Relawan kemanusiaan itu menemui sang ibu (SN) dan anaknya (WNF) yang sedang berbaring tak berdaya akibat menderita sakit, dan tak punya biaya termasuk jaminan kesehatan oleh pemerintah setempat untuk dirawat di Rumah Sakit.

Menyikapi kondisi kedua pasien yang hanya pasrah dalam keterbatasan itu, Relawan LSM MRB dan PSI Kota Bogor menunjukkan aksi solider konkrit dengan  turun langsung membantu menangani kedua pasien tersebut yakni mengurus pemeriksaan di Puskesmas setempat dan selanjutnya mengurus perawatan ke sebuah Rumah Sakit milik Pemda Kota Bogor.

Ketua Umum LSM Mitra Rakyat Bersatu, Jamal Nasir menerangkan bahwa sebelum kedua pasien dievakuasi ke Rumah Sakit, pihaknya mendapat informasi dari sumber di lapangan bahwa ada satu keluarga yang sakit dan sedang dalam kondisi memprihatinkan.

“Usai mendapat informasi, kita langsung mengirim tim investigasi yakni Sekjen MRB, Frengky Alexander Silitonga, Feny dan Inces untuk segera mendatangi keluarga pasien guna mendapatkan informasi yang komprehensif. Ternyata benar ada satu keluarga di mana ibu dan anaknya sedang sakit dan terbaring berdaya,” terang Jamal seperti dilansir BogorChannel, Rabu (27/5/20).

Berdasarkan keterangan oleh pihak Rumah Sakit, pasien WNF (8 tahun) menderita lambung kronis dan kondisinya samakin memburuk hingga tidak mampu lagi berdiri dan pendengarannya menghilang.

Sementara ibunya, SN, mengalami sakit miow dan diduga terdapat benjolan cancer di tulang pinggulnya.

Respon Miris Petugas Medis dan Pemkot

Jamal mengungkapkan, bahwa pada saat kedua pasien tersebut dibawa ke Rumah Sakit, diakuinya, mereka mendapatkan pelayanan yang kurang maksimal.

“Dalam kondisi pasien yang begitu lemah, tidak berdaya (kritis, red), namun setelah dicek lab oleh pihak RSUD, dinyatakan bahwa mereka sehat. Faktanya, anak WNF merintih kesakitan dan kondisi badannya pun tinggal tulang karena tidak bisa makan. Saya tidak paham bagaimana Dokter IGD RSUD tidak mau merawat. Begitu mudahnya menyebutkan bahwa cukup berobat di poli klinik," sesal Jamal.

Guna menghindari perdebatan, kata dia, tim Relawan pun membawa kedua pasien ke Rumah Sakit yang lain dan di sana mereka mendapat perawatan intensif. Oleh pihak medis, mereka dinyatakan memiliki penyakit lambung, terdapat radang tenggorokan dan paru-paru bermasalah.

Jamal pun mengkritisi lalainya Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor dalam merespon dan menangani hal ini. Menurutnya, hal tersebut menyangkut pemenuhan hak-hak rakyat kecil yang harus dijamin oleh negara termasuk hak untuk mendapatkan jaminan kesehatan yang layak.

“Bisa dibayangkan, dalam situasi sulit seperti ini, di mana ibu dan anak sedang menderita sakit sementara ayah hanya bekerja serabutan. Ini menunjukkan bahwa negara (Pemkot) abai terhadap hak-hak dasar masyarakat terutama kaum marjinal. Namun setelah jadi konsumsi publik, baru terbangun dan sadar,” sorot Jamal.

Ia juga menyinggung soal Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Dijelaskan bahwa negara menjamin terpenuhinya hak-hak anak agar dapat hidup, tumbuh, berkembang dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusian serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi demi terwujudnya anak Indonesia yang berkualitas, berahlak mulia dan sejahtera.

“Dasar konstitusi dalam UU sudah jelas. Namun, situasi konkrit justru sebaliknya. Bahkan wacana ‘Bogor Layak Anak' hanya slogan yang tidak dijabarkan secara konkrit. Lalu di mana kita meletakkan harkat dan martabat kemanusian anak?” timpalnya.

Sebelumnya, seperti diberitakan media ini, Ketua DPD PSI Kota Bogor, Sugeng Teguh Santoso (STS) menegaskan bahwa akti tersebut murni karena panggilan kemanusiaan dan kepedulian bukan pencitraan (politis).

"Dalam ranah advokasi keadilan sosial dan kemanusiaan, urusan rakyat miskin dan kaum marjinal adalah kepentingan umum yang menjadi tanggung jawab moril melalui porsi masing-masing. Maka atas nama kemanusiaan, PSI Kota terlibat langsung mendukung aktivis MRB dalam mengadvokasi persoalan tersebut hingga memperoleh hak mereka untuk dilayani. Semoga mereka dilayani dengan baik oleh pihak Rumah Sakit," kata Sugeng.

--- Guche Montero

Komentar