Breaking News

INTERNASIONAL Yenny Wahid Terpilih sabagai Anggota KFP Paris 12 Nov 2018 10:54

Article image
Putri presiden RI keempat Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Yenny Wahid. (Foto: Merdeka.com)
Yenny menjadi satu-satunya anggota Komite Pengarah Forum Perdamaian Paris dari kawasan Asia Tenggara. Komite pengarah forum itu juga mencakup Rouba Mhaissen dari Libanon, Haifa Dia Al-Attia dari Yordania, dan Huiyao serta Zhimin Chen dari China.

PARIS, IndonesiaSatu.co -- Putri presiden RI keempat Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Yenny Wahid, terpilih menjadi satu dari 12 Anggota Komite Pengarah Forum Perdamaian Paris untuk berbicara tentang peran perempuan di Forum Perdamaian Paris (Paris Peace Forum) yang berlangsung 11-13 November di Prancis.

Demikian siaran pers Paris Peace Forum, Senin (12/11/2018).  Paris Peace Forum saat ini dipimpin oleh mantan Direktur Jenderal Organisasi Perdagangan Dunia Pascal Lamy dan pendiri organisasi nirlaba SheSays India Trisha Shetty.

Yenny mengatakan, aktivitasnya bersama Nahdlatul Ulama dan Wahid Foundation, yang membuat dianggap mampu bekerja mempromosikan perdamaian hingga akar rumput, dan pemberdayaan perempuan termarjinalisasi.

"Saat ini fokus saya secara profesional adalah membangun jaringan internasional untuk kampanye perdamaian yang sedang saya lakukan. Alhamdulillah pelan-pelan kami mulai mendapat pengakuan dari lembaga-lembaga dunia. Misalnya belum lama ini kami baru bekerja sama dengan UN Women, lembaga PBB yang menangani masalah perempuan untuk menjalankan program Perempuan Untuk Perdamaian," ujar Yenny seperti dikutip dari Antara. 

Yenny menjadi satu-satunya anggota Komite Pengarah Forum Perdamaian Paris dari kawasan Asia Tenggara. Komite pengarah forum itu juga mencakup Rouba Mhaissen dari Libanon, Haifa Dia Al-Attia dari Yordania, dan Huiyao serta Zhimin Chen dari China.

Dalam forum itu Yenny akan berbicara dalam salah satu sesi tentang peranan perempuan dalam memperjuangkan perdamaian, termasuk program Desa Damai dan sistem deteksi dini radikalisme. 

"Saya akan memaparkan tentang program bernama Desa Damai yang bertujuan memberikan tingkat harapan hidup lebih besar dan lebih tinggi. Dalam program Desa Damai ini ada beberapa komponen yang harus ada, di antaranya, pemberdayaan ekonomi masyarakat, dan ceramah agama," katanya.

Yenny, yang tahun 2017 menjadi perwakilan Indonesia dalam pembentukan dewan toleransi dan perdamaian global di Pulau Malta, juga akan mengampanyekan program pelatihan bagi warga untuk mendukung sistem deteksi dini potensi radikalisme di lingkungan sekitar mereka. 

Ia mengatakan persoalan radikalisme di pedesaan akan bisa diatasi dengan menggabungkan pemberdayaan ekonomi dan pendidikan agama.

"Setelah berjalan program ini ternyata mampu menginspirasi dunia dan banyak negara melirik program tersebut," kata Yenny, yang memulai program perempuan untuk perdamaian dengan fokus perempuan di desa sejak awal 2018.

--- Simon Leya

Komentar