Breaking News
  • 12 parpol lama lolos verifikasi faktual
  • 150 ton bahan narkoba asal China gagal masuk ke Indonesia
  • Eropa murka, siap jawab tantangan perang dagang Donald Trump
  • KM Pinang Jaya tenggelam di Laut Jawa akibat cuaca buruk
  • Presiden Jokowi masih pertimbangan Plt Gubernur dari Polri

OPINI Yerusalem dan Peran Israel Dalam Genosida di Guatemala 27 Dec 2017 15:56

Article image
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu (Kanan) sedang berjabat tangan dengan Presiden Guatemala Jimmy Morales. (Foto: The Times of Israel)
Misteri yang kala itu tidak terungkap adalah dari mana Guatemala mendapatkan helikopter jenis UH-1H “Huey” itu, karena Kongres AS waktu itu melarang militernya menjual peralatan militer kepada Guatemala.

Oleh Simon Leya

 

GUATEMALA, sebuah negara kecil di Amerika Tengah menjadi perbincangan dunia sepekan terakhir ini. Dukungannya  kepada Isreal untuk memindahkan ibu kota ke Yerusalem mengundang tanya tentang seberapa dekat dan pentingnya Isreal di mata Guatemala? 

Media internasional menyebutkan bahwa sikap Guatemala yang tercermin dari pengumuman  Presiden Jimmy Morales lewat laman Facebook-nya sebagai "hubungan baik" antara Guatemala dan Israel. Beberapa negara yang berpendirian sama tidak lebih dari negara-negara kecil yang nyaris tak dikenal dalam peta dunia, sebut saja Honduras, Kepulauan Marshall, Mikronesia, Nauru, Palau, dan Togo.

Kedekatan Guatemala dan Isreal (bersama Amerika Serikat) sudah berlangsung lama. Ketergantungan ekonomi yang menyebabkan Guatemala tak bisa berbuat lain selain mendukung apapun yang diinginkan AS. Namun ada satu konspirasi jahat antara Guatemala dan Israel yang belum banyak diangkat ke permukaan. Isreal disebut-sebut turut ambil bagian dalam pembunuhan massal (genocide) terhadap sekitar 7.000 orang dari Suku Maya di Guatemala selama berlangsungnya perang sipil pada tahun 1980-an.  

Robert Parry dalam artikelnya berjudul Israel’s Hand in Guatemala’s Genocide yang pernah dimuat consortiumnews.com (14/1/2014) menulis, dalam pembantaian massal pada tahun 1980-an, termasuk genosida terhadap suku Indian Ixil (Suku Maya), pemerintahan Reagen bekerja sama dengan Israel. Dari dokumen dan para saksi mata, Perry memaparkan peran Israel yang menyediakan helikopter yang digunakan militer Guatemala untuk memburu penduduk sipil yang melarikan diri.

Dalam sidang pengadilan terhadap mantan diktator Guatemala Efrain Rios Montt, para korban yang masih hidup menceritakan bagaimana tentara menggunakan helikopter untuk membumihanguskan warga Suku Maya secara brutal.

Journalis Allan Nairn, yang pernah ikut meliput perang di Guatemala dan menghadiri persidangan terhadap Rios Montt mengatakan, “Satu hal menarik dari kesaksian para saksi mata dalam persidangan, mereka menuturkan tentang aksi pengejaran ke gunung dan mereka dibom, diserang dan ditembak dari pesawat-pesawat dan helikopter AS."

Misteri yang kala itu tidak terungkap adalah dari mana Guatemala mendapatkan helikopter jenis UH-1H “Huey” itu, karena Kongres AS waktu itu melarang militernya menjual peralatan militer kepada Guatemala yang memiliki catatan buruk dalam hal hak asasi manusia. Kemudian terungkap bahwa helikopter-helikopter tersebut diatur secara rahasia oleh staf National Security Council (NSC) Presiden Ronald Reagan melalui jaringan intelijen Israel.

Rios Montt mulai mendesak AS untuk mendatangkan 10 helikopter UH-1H pada Juni 1983. Berhubungan Guatemala kekurangan dana untuk membelinya dari the U.S. Foreign Military Sales, baik secara kredit maupn tunai, tim keamanan nasional Reagan mencari cara yang tidak biasa untuk merancang pengiriman helikopter tersebut.

Pada 1 Agustus 1983, Oliver North dan Alfonso Sapia-Bosch dari NSC melaporkan kepada National Security Advisor William P. Clark bahwa deputinya Robert “Bud” McFarlane sedang membuat rencana untuk  memanfaatkan jaringan Israel-nya untuk ‘mengamankan’ helikopter buat Guatemala, demikian dokumen yang diperoleh Perry dari perpustakaan kepresidenan Reagan.

“Sehubungan dengan pinjaman untuk sepuluh helikopter, adalah pemahaman (kami) bahwa Bud akan mengambilnya dengan orang-orang Israel,” tulis North dan Sapia-Bosch.

“Ada harapan bahwa (helikopter-helikopter) itu akan datang. Kemungkinan lain adalah latihan bersama dengan orang Guatemala. Kita akan menggunakan mekanik AS dan komponen Guatemala untuk membawa helikopter mereka.”

 

Jaringan Israel

Pendekatan McFarlane kepada Israel untuk mendapatkan helikopter berjalan sukses, demikian menurut mantan personil intelijen Israel Ari Ben-Menashe, yang menjelaskan sejarah di balik aktivitas Israel di Guatemala dalam memoarnya berjudul  Profits of War yang terbit tahun 1992.

Ben-Menashe menelusuri penjualan senjata Israel ke Guatemala yang merupakan jaringan pribadi yang dibangun Jenderal Ariel Sharon pada tahun 1970-an. Waktu itu, Sharon masih berada di luar lingkaran pemerintahan. Perwakilan kunci Sharon di Guatemala adalah seorang pengusaha bernama Pesach Ben-Or, dan melalui channel tersebut, Israel menyuplai peralatan militer kepada pihak keamanan Guatemala pada tahun 1980-an, tulis Ben-Menashe.

(Pada awal 1980-an, Sharon menjadi Menteri Pertahanan Israel bekerja sama dengan pemerintahan Reagan secara diam-diam mengirim senjata ke Iran dan memberikan lampu hijau kepada Israel untuk menginvasi Lebanon, yang mengakibatkan terjadi pembantaian massal di kamp pengungsian Sabra dan Shatila pada 1982 di bawah perlindungan Sharon).

Dalam sebuah wawancara pada bulan Mei 2013, Ben-Menashe mengatakan, Israel menyuplai total enam helikopter ke Guatemala beserta komputer dan perangkat lunak untuk melacak mereka yang dicurigai sebagai pelaku subversif untuk diidentifikasi dan dieksekusi. Ben-Menashe mengatakan, dia mempelajari perihal pembantaian massal selama perjalanannya ke Guatemala dan melaporkannya kepada atasannya di Israel tentang kejahatan yang melibatkan peralatan yang sudah diotorisasi pihak Israel. Jawaban yang dia dapat adalah prihatin tapi tidak ada tindakan apa-apa.

“Peralatan-peralatan itu bukan untuk membunuh orang-orang itu, tidak sama sekali,” katan Ben-Menashe.

“Tapi mereka berpikir kepentingan mereka adalah untuk membantu orang-orang Reagan. Bila orang-orang Reagan menginginkan itu [peralatan dikirim ke Guatemala], mereka akan lakukan itu. [Mereka pikir,] ‘ini buruk, tapi bukankah ini bisnis kami? Sahabat-sahabat kami (Amerika) meminta bantuan kami, karena itu kami harus membantu mereka.’”

Pembunuhan massal dan pembersihan terhadap Suku Maya akhirnya menggiring sang diktator Rios Montt ke meja hijau. Oleh pengadilan kriminal pada 10 Mei 2014, Rios Montt dihukum selama 80 tahun penjara dengan tuduhan genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Perang di Guatemala antara pemerintah dan pemberontak sayap kiri telah memakan korban lebih dari 200.000 jiwa dan berakhir dengan perjanjian damai pada 1996.

Meskipun eks pemimpin Guatemala  Efrain Rios Montt sudah terbukti bersalah dan divonis selama 80 tahun penjara, namun pada 15 Mei 2014, Kongres Guatemala dalam sebuah pemungutan suara yang kontroversial telah memutuskan bahwa pada perang saudara Guatemala yang terjadi selama 38 tahun tidak pernah ada pembantaian.

 

Penulis adalah Redaktur Pelaksana IndonesiaSatu.co.

Komentar