Breaking News
  • BI Sudah Habiskan Rp 11 T untuk Kuatkan Rupiah
  • Gempa 7,8 SR Guncang Fiji
  • Kemensos: Bansos Saja Tak Cukup Tangani Kemiskinan
  • Resmi! Pendaftaran CPNS 2018 Dibuka 19 September
  • Wadahi Mahasiswa yang Suka Piknik, Kemenpar Resmikan GenPI UBM

MUSIK Yon Koes Plus Sang Legenda: Memori dan Ironi 05 Jan 2018 16:06

Article image
Yon Koeswoyo. (Foto: Musixmatch)
Yon dan saudara-saudaranya telah menjadi legenda, tapi ironi yang menyertai masa tua mereka harus menjadi keprihatinan seluruh bangsa terutama insan musik tanah air.

Oleh Valens Daki-Soo

 

SELASA, 29 Juni 1965 petugas kejaksaan menjemput Koes Bersaudara untuk diinterogasi. Di rumah hanya ada Yon. Yon dibawa petugas tanpa sempat membawa apa-apa. Pulang dari berburu, Yok melihat tiga petugas sudah menunggunya di rumah.

“Masmu ditahan kejaksaan dan kamu disuruh menyusul,” kata sang ibu.

Tanpa sempat bersih-bersih, Yok dibawa pula ke kejaksaan.

Nomo yang baru pulang menjelang sore juga ikut dibawa seorang petugas kejaksaan yang masih menunggu. Keempat bersaudara dibawa ke kantor kejaksaan yang terletak di Jalan Gajah Mada. Mereka dianggap tak mengindahkan peringatan polisi tentang pelarangan musik ngak-ngik-ngok.

Di kantor kejaksaan mereka diinterogasi dan diinapkan di sebuah ruang sidang karena kejaksaan tidak punya sel tahanan sendiri.

Pada hari ketiga, mereka diperiksa kembali satu per satu. Saat pemeriksaan mereka diberi wejangan tentang kepribadian nasional. Kepada petugas, Nomo balik bertanya, “Kepribadian nasional itu seperti apa? Kasih contoh?”

“Kulintang, keroncong, gamelan…”

“Keroncong dari Portugis, gamelan itu Jawa, itu suku bukan nasional.”

Petugas itu marah, mengeluarkan pistol, dan meletakkannya di atas meja. Brakkk! Usai diperiksa, mereka dititipkan ke Lembaga Pemasyarakatan Khusus Glodok.

Penangkapan mereka diikuti dengan penyitaan seluruh peralatan musik Koes Bersaudara  termasuk dokumen yang kemudian diketahui hanya terdiri dari surat-surat dari para penggemar.

Sampai pada hari kelima, petugas tidak memberitahukan ke mana empat bersaudara itu dibawa. Keluaga Koeswojo mulai panik.

Koes Bersaudara baru dibebaskan tiga bulan kemudian tepatnya pada 29 September 1965 malam.

"Kami dilepaskan begitu saja pada malam hari," kata Yok. Saat itu mereka berempat agak heran karena melihat banyak kendaraan lapis baja berlalu lalang di jalan-jalan ibu kota (Kompas, 13 Oktober 2004).

Dengan melewati suasana mencekam itu mereka tiba di rumah mereka di Jalan Mendawai III No. 14 Blok C, Kebajoran Baru. Yok mengaku langsung tidur. Ia tidak pernah menduga, malam hari 30 September kemudian terjadi peristiwa yang mengubah secara total sejarah negeri ini.

Penggalan cerita di atas hanyalah sekelumit perjalanan hidup musisi Yon Koewoyo, anggota Koes Bersaudara/Koes Plus yang hari ini, Jumat (5/1/2017) pagi menghembuskan napasnya yang terakhir. Yon meninggal setelah berkali-kali masuk dan keluar rumah sakit akibat penyakit komplikasi yang dideritanya selama ini.

Koes Bersaudara – Koes Plus

Koes Brothers yang kemudian berubah nama menjadi Koes Bersaudara dibentuk pada tahun 1960 di Jakarta. Anggota band ini terdiri dari lima orang bersaudara, Koesdjono (Jon), Koestono (Tonny) atau Tonny Koeswojo, Koesnomo (Nomo), Koesyono (Yon) dan Koesroyo (Yok). Album piringan hitam Koes Bersaudara yang berisi 12 lagu diluncurkan bersamaan dengan acara Games of the New Emerging Forces (Ganefo) di Jakarta 1963.

Lagu-lagu Koes Bersaudara mulai mengudara di RRI dan radio Angkatan Udara. Duet Yon-Yok mengingatkan orang pada popularitas Everly Brothers dan Kalin Twin. Tony dalam kata pengantar piringan hitam pertama Koes Bersaudara mengakui pengaruh Everly Brothers dan Kalin Twin terhadap warna musik mereka.

“Itu tidak dapat kami sangkal dan salahkan. Karena merekalah yang mengilhami kami hingga terbentuknya orkes kami ini.”

Kemunculan duet terinspirasi oleh Kalin Twin dan Everly Brothers.

“Karena yang namanya musik itu selalu ada kaitannya. Misalnya, kita diilhami dari Everly Brothers. Sebelum ada Everly Brothers, ada Kalin Twin, penyanyi Inggris yang kembar. Terus di Amerika ada Elvis Presley. Gabungan antara Kalin Twin dan Elvis itu timbul grup yang namanya The Beatles. Itu pasti ada saling keterkaitan. Enggak mungkin tidak. Karrena yang namanya musik itu kan bunyi bunyian yang beraturan,” kata Yok.

Koes Bersaudara lahir ketika Indonesia dilanda demam musik ngak-ngik-ngok, istilah yang dipakai Presiden Soekarno untuk musik Barat.

Sebagai  pelopor music rock ‘n roll, Beatles muncul pada waktu yang tepat ketika Elvis Presley mulai turun pamor. Kelompok musik yang lahir di Liverpool ini terdiri dari John Lennon, Paul McCartney, George Harrison, dan Ringo Starr. The Beatles kemudian menjadi simbol anak muda generasi bunga (flower generation) yang suka hura-hura dan anti kemapanan.

The Beatles juga digandrungi anak-anak muda di Jakarta, Bandung, dan kota-kota lain di Indonesia. Gaya The Beatles memengaruhi para pemusik Indonesia, termasuk Koes Bersaudara. Tak mengherankan, dandanan Koes Bersaudara  mengikuti gaya The Beatles, seperti mode rambut berponi, celana ketat, dan sepatu berhak tinggi dan berujung lancip.

Pada awal kemunculannya, Koes Bersaudara secara berkala pentas di bioskop Megaria dan di International Airport Restaurant Kemayoran dua kali seminggu. Meski ada larangan, pengunjung selalu meminta Koes Bersaudara untuk memainkan dan menyanyikan lagu-lagu The Beatles.

Koran resmi Partai Komunis Indonesia, Harian Rakjat (14 Maret 1965) dalam tulisannya yang disertai karikatur menyindir Koes Bersaudara. “Koes Bersaudara dilarang di RRI, dilarang di Gelora Bung Karno, lho malah muncul di Airport Restaurant Kemayoran.”

Meski lagu-lagu Koes Bersaudara dilarang di dalam negeri, namun para penggemar Koes Bersaudara masih bisa mendengar lagu-lagu mereka melalui radio Singapura. Pada saat ditahan, lagu Koes Bersaudara berjudul “Pagi yang Indah”menjadi top hit di Singapura.

Presiden Soekarno dalam pidatonya di depan Corps Gerakan Mahasiswa Indonesia pada peringatan 17 Agustus 1965, sempat menyentil nama Koes Bersaudara.

“Jangan seperti kawan-kawanmu, Koes Bersaudara. Masih banyak lagu-lagu Indonesia, kenapa mesti Elvis-Elvisan?”

Pada 1967, Koes Bersaudara mengeluarkan dua buah piringan hitam bertajuk Jadian Aku Dombamu dan To Tell So Called the Gulties yang berisi 14 lagu.

Dengan hengkangnya Nomo yang digantikan oleh Murry, mantan pemain drum grup Patas, Koes Bersaudara berganti nama menjadi Koes Plus pada 1969. Nomo lebih memilih bekerja untuk biaya hidup setelah menikah ketimbang bermain musik.

Perlahan tapi pasti Koes Plus meraih popularitas. Kaset-kasetnya laku keras. Tawaran untuk menjadi bintang iklan membanjir, sebut saja iklan minuman ringan F&N, mobil Kijang, dan bermain film. Foto-foto anggota Koes Plus menjadi sampul buku tulis.

Sejak kepergian Tonny Koeswoyo untuk selamanya pada 1987, Koes Plus mulai kehilangan pamor. Koes Plus mengalami bongkar pasang pemain. Yon satu-satunya anggota keluarga Koeswoyo yang tetap bertahan.

Yon pernah bernostalgia betapa Koes Plus pernah menjadi raja band Indonesia (Budi Setiyono, “Ngak-Ngik-Ngok” dalam Jurnalisme Sastrawi --  Antologi Liputan Mendalam dan Memikat).

“Wah, dulu Koes Plus itu rajanya band di Indonesia. Betul-betul meledak ke mana-mana. Saya enggak aman, keluar ke mana-mana dirubung (dikerumuni). Saya kira nggak ada artis Indonesia kayak Koes Plus. Sekarang artis jalan-jalan, aman. Akhirnya, saya jarang keluar karena tahu bakal dirubung,” kenang Yon.

Sepanjang sejarahnya, Koes Plus dan Koes Bersaudara telah melahirkan sekitar 450 lagu yang sebagian besar menjadi hit pada zamannya.

Lagu “Why Do You Love Me" ciptaan Yok Koeswoyo/Koes Plus yang dinyanyikan Yon Koeswoyo berhasil menduduki hit Radio Australia tahun 1970-an.

Yon Koewoyo dilahirkan di Tuban, Jawa Timur, 27 September 1940. Yon meninggal di usia 77 tahun. Yon (bersama Koes Bersaudara/Koes Plus) telah meninggalkan karya yang tak akan lekang oleh waktu.

Ironi

Di balik ketenaran dan julukan legenda yang mereka sandang, masa tua para personil Koes Plus terbilang ironis. Tidak seperti (sebagian) musisi masa kini -- apalagi di dunia Barat -- yang bergelimang uang dan kemewahan, Koes Plus tidak mendapatkan uang dari hasil penjualan kaset yang berisi lagu-lagu lama mereka.

Berbeda dengan grup-grup tersohor seperti Beatles atau Led Zeppelin yang bisa hidup enak hanya dari royalti kaset/VCD/CD/DVD yang mereka hasilkan, Koes Plus tidak mendapat apa-apa dari karya mereka.

Koes Plus hanya dibayar sekali untuk setiap album yang dihasilkan. Tidak ada royalti, tidak ada tambahan fee untuk setiap CD/kaset yang terjual. Itulah sebabnya, pada tahun 1992 Yon harus jualan batu akik untuk menghidupi rumah tangganya. Sementara kaset dan CD lagunya masih laris terjual di Indonesia.

Di usianya yang ke-63 Yon dan kawan-kawan harus manggung untuk mendapatkan uang dengan sisa-sisa suara dan kekuatannya yang mereka miliki.

Yon dan saudara-saudaranya telah menjadi legenda, tapi ironi yang menyertai masa tua mereka harus menjadi keprihatinan seluruh bangsa terutama insan musik tanah air. Anggota Koes Plus seakan sudah meramalkan sendiri nasib mereka lewat syair lagu berjudul Penyanyi Muda: "Tapi sayang dilupakan orang di hari tua..."

Selamat jalan Bung Yon, karya dan jasamu untuk kemajuan karya seni terutama musik  di tanah air akan selalu kami kenang. Hari ini Anda menggenapi kata-kata Hippocrates, “Vita brevis, sed ars longa” (kehidupan ini singkat tapi seni itu abadi).

 

Penulis adalah penggemar musik, CEO PT Veritas Dharma Satya, Pendiri/Pemimpin Redaksi IndonesiaSatu.co, Bidang Humas & Publikasi PAPPRI

Komentar