INSPIRASI Belajar tentang Karakter dari Xanana dan Kiki Syahnakri 27 Jan 2016 01:05
Karakter Kiki yang tenang, arif, tidak suka berpolitik dan tak biasa "politicking" membuatnya cepat diterima berbagai kalangan saat bertugas di Timor Timur.
Oleh Valens Daki-Soo
JIKA Anda seorang prajurit sejati dan profesional, selain keterampilan dan kompetensi militer (military skill and competence) yang memadai, Anda harus punya daya juang tinggi, keberanian herois, komitmen yang kuat, esprit de corps yang tebal, dan kesabaran yang besar. Itulah yang disebut karakter keprajuritan (military character).
Jadi, meski Anda terlatih baik, mahir mengoperasikan mesin perang, jago menembak runduk, cekatan bergerak taktis, piawai melakukan bunuh senyap (tentu saja dalam operasi di hutan atau melawan musuh negara), hebat dalam melancarkan bombing dan rocketting, itu belum cukup sebagai prajurit profesional. Anda baru bisa dianggap dan dinilai sebagai prajurit yang sejati jika memiliki karakter keprajuritan yang baik.
Beroperasi di hutan berbulan-bulan dalam suatu operasi counter insurgency atau anti gerilya -- biasa disebut GLG (Gerilya Lawan Gerilya), tentu butuh kesabaran luar biasa, selain kekuatan fisik yang prima dan kemahiran bertempur yang handal. Sering perlu waktu sangat lama dalam pergerakan taktis, mengendap di suatu titik berhari-hari, bergerak di suatu sektor berminggu-minggu bahkan bulanan, sebelum melakukan penyergapan terhadap target/musuh.
Seorang jenderal senior yang makan asam-garam di daerah operasi Timor Timur (kini Timor Leste) pernah berbagi kisah tentang "kesabaran" dan ketangguhan mental Xanana Gusmao, Panglima Falintil (sayap militer Fretilin) yang kemudian menjadi Presiden dan Perdana Menteri Timor Leste.
Saat itu dalam fase "Operasi Kikis" di Timor Timur tahun 1981 dengan fokus operasi di kawasan Gunung Matebian dan Gunung Aitana, pasukan Fretilin terdesak dan terkepung. Banyak menjadi korban karena dihabisi melalui pergerakan 'pagar betis' TNI didukung elemen rakyat di suatu kawasan pegunungan. Singkat cerita, pasukan Xanana sudah banyak gugur, dan hampir dipastikan Xanana juga tewas saat itu. Namun, ternyata dia lolos dari kepungan total itu. Bagaimana caranya?
Belakangan, setelah masuki era damai, Xanana berkisah sendiri kepada Letnan Jenderal (Purn) Kiki Syahnakri, nama jenderal senior tersebut, yang pada waktu Operasi Kikis masih berpangkat Mayor sebagai Wakil Komandan Batalyon (Wadanyon) 744 dan kemudian berpangkat Letnan Kolonel sebagai Komandan Batalyon 514/Kostrad. Sebagai unit tempur di Kodam Udayana, Yon 744 -- seluruh prajuritnya direkrut dari putra daerah NTT dan Timtim -- yang sangat disegani dan berprestasi itu langsung berhadapan di front terdepan melawan Fretilin.
Tentang Yon 744 Kiki bercerita, satuan ini tangguh dan teruji. Para prajuritnya punya nyali petarung berani. Naluri mereka amat peka secara alamiah, misalnya mampu mendeteksi kehadiran musuh lewat bunyi burung, mengendus aroma yang "tidak biasa" dari jarak jauh (misalnya aroma sabun dan makanan), membaca jejak musuh berupa geseran batu, pijakan di batang pohon, dan sebagainya. Kelemahan mereka, seperti anak-anak muda NTT umumnya, adalah cenderung emosional. Misalnya, mereka pernah menghabisi musuh yang ditangkap. Sejak itu Kiki perintahkan, tawanan harus diperlakukan dengan baik sesuai "etika perang", selain agar dapat dijadikan sumber info intelijen, sekaligus dibina agar mereka berbalik menjadi teman.
Menghadapi kepungan Yon 744 dan berbagai satuan lain itulah, Xanana mampu bertahan dan meloloskan diri. Dia sendiri mengaku, itu sudah menjadi mukjizat karena nyaris tak ada jalan sama sekali untuk lolos.
Kata Xanana, dia akhirnya bisa luput dari kepungan karena "menyusup masuk" jauh ke dalam sebuah lobang kecil di tengah rumpun bambu. Lobang itu begitu kecil, hanya cukup untuk badannya dan badan ajudannya. Arloji, senjata dan segala yang metalik mereka buang jauh supaya tidak terdeteksi TNI.
Menurut Xanana, dia bisa bertahan dan lolos karena "bantuan Tuhan dan para leluhur". Namun, yang juga mengagumkan, dia punya kesabaran 'tingkat tinggi' alias amat sabar, tangguh dan bermental prima. Tiga hari dia bertahan dalam lubang kecil itu hanya dengan sedikit makanan tepung jagung. Seandainya dia tidak sabar dan cepat keluar dari lubang perlindungan itu, kisah hidupnya pasti berbeda.
***
Karakter serupa -- mental petarung, disiplin tinggi, daya juang prima, kesabaran yang luar biasa -- juga dimiliki Kiki Syahnakri, prajurit 'jago tempur' yang tangguh bergerak di hutan berbulan-bulan dalam operasi seperti dilukiskan di atas. Secara akumulatif Kiki menghabiskan karir militernya sebagai perwira lapangan di Timor Timur selama sebelas tahun. Penggalan waktu yang tidak pendek.
Meski sebagai Danrem Wira Dharma/Dili, Kolonel Kiki sempat "bentrok" dengan Kolonel Prabowo Subianto (saat itu menjabat Wakil Komandan Kopassus) yang ditengarai membuat karir Kiki kemudian "mengendap lama" pada posisi kolonel, toh pria Karawang yang mempersunting putri Solo-Rote/NTT, Ratna Ningsih, itu terus menapaki karir hingga pensiun dengan jabatan terakhir Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (Wakasad) berpangkat letnan jenderal.
Sebelum pensiun sebagai Wakasad, Kiki Syahnakri sempat menjadi Asisten Operasi (Asops) KSAD, Panglima Penguasa Darurat Militer Timor Timur, Pangdam IX/Udayana (membawahi Bali, NTB, NTT). Saat menjabat Wakasad, Kiki dibantu Sekretaris Pribadi (Sespri) bernama Letnan Kolonel (Inf) Gatot Nurmantyo yang kelak menjadi Pangkostrad dan KSAD, kini Panglima TNI.
Karakter Kiki yang tenang, arif, tidak suka berpolitik dan tak biasa politicking membuatnya cepat diterima berbagai kalangan saat bertugas di Timtim. Dia bersahabat dengan Uskup Belo. Kefasihannya berbahasa Tetun (bahasa asli rakyat Timor Timur) bikin Kiki gampang masuk ke tengah masyarakat.
Ketika Kiki hendak "digeser" dari Dili menyusul suatu insiden -- dikenal dengan sebutan "Insiden Gariana" -- yang terjadi tak lama setelah benturan dengan Prabowo, Uskup Belo mendatangi Kiki di Makorem. Dia menawarkan diri untuk ke Jakarta dan bicara langsung dengan Panglima TNI Jenderal Feisal Tanjung guna 'membela' posisi Kiki. Namun, Kiki menolak dengan halus tawaran Mgr. Belo atas alasan, hal itu bisa makin mempersulit posisi Kiki.
Ada kisah menarik terkait persahabatannya dengan Uskup Belo tatkala Kiki menjabat Danrem WD/Dili. Suatu ketika terjadi peristiwa "pencemaran Hostia" (Hostia: "roti yang dikuduskan" dalam ibadah Katolik) di sebuah gereja di Remexio, 20 kilometer arah selatan dari kota Dili. Pelakunya dua tentara dari Lumajang Jawa Timur. Karena ingin tahu, dua prajurit muda itu masuk, berdiri di belakang dan ikut-ikutan menerima Hostia Kudus. Karena mereka membuang Hostia Kudus itu, umat/massa menganiaya kedua orang itu hingga babak-belur dan untungnya diselamatkan pastor dan beberapa tokoh umat. Belakangan dalam interogasi oleh Polisi Militer, keduanya mengaku ingin tahu karena tidak pernah saksikan ibadah Katolik.
Uskup Belo mendatangi lokasi itu beberapa hari kemudian untuk menenangkan umat. Kolonel Kiki pun berkunjung ke tempat itu untuk meminta maaf kepada Uskup Belo, pemuka Gereja lokal dan umat. Uskup Belo berujar, "Kedua tentara itu tidak perlu dihukum lagi, karena sudah menderita dianiaya massa."
Namun, Kiki mengatakan tetap memproses hukum sambil mengakui, ini akibat kurangnya pembinaan personel TNI di basis (satuan asal) sebelum mereka diterjunkan ke Timtim. Kiki berjanji akan lebih tegas dan meminta setiap satuan harus dibina agar adaptif dengan situasi lokal Timtim.
Terkait 'gesekan'nya dengan Prabowo, dalam bukunya Kiki mengapresiasi sikap Prabowo yang melupakan luka masa silam. Dengan besar jiwa dia mendatangi dan menyalami Kiki dalam dua-tiga kali pertemuan yang tak disengaja.
Tentang kisah historis di Timor Timur secara lebih utuh, yang dapat dijadikan pelajaran bagi para perwira TNI maupun generasi muda bangsa masa kini, Anda dapat menyimaknya di buku "TIMOR TIMUR The Untold Story" (Penerbit Kompas, 2013). Buku karya Kiki Syahnakri ini berhasil menjadi bestseller alias buku yang paling laris terjual di jaringan Toko Buku Gramedia.
Hal yang selalu dibicarakan Kiki Syahnakri sejak pensiun adalah "character building", membangun kepribadian berkarakter kuat dalam kerangka merevitalisasi jati diri bangsa. Menurutnya, salah satu persoalan bangsa adalah krisis kader yang berkarakter negarawan di tengah gelimpangan politisi pemburu kekuasaan. Melalui dua organisasi yang ikut dibangunnya, Yayasan Jati Diri Bangsa (YJDB) dan Persatuan Purnawirawan Angkatan Darat (PPAD), Kiki seolah tak kenal lelah menyebarkan pikiran mengenai "character building".
***
Dari tokoh-tokoh berkepribadian kuat seperti Nelson Mandela dari Afrika Selatan (yang mengaku amat diinspirasikan Bung Karno dan perjuangan bangsa Indonesia), kita belajar tentang keteguhan pribadi, ketangguhan jiwa dan kesabaran hati. Seperti itu pula, dalam konteks agak berbeda, kita bisa memetik pelajaran dari kisah Xanana Gusmao dan Kiki Syahnakri.
Dewasa ini semakin banyak kader muda potensial yang memiliki banyak peluang lebih besar untuk merakit kemajuan baik bagi pribadi maupun bangsanya. Selain memiliki kecerdasan intelektual yang meyakinkan, mereka punya akses informasi yang luas, punya jaringan yang hebat, dan banyak juga yang memiliki pengalaman di berbagai organisasi.
Apakah itu cukup? Belum tentu. Mereka boleh saja menjadi elite partai, pengurus organisasi profesi dan sebagainya, namun tanpa kejujuran dan integritas tinggi, mereka belum dapat disebut pejuang dan calon pemimpin sejati.
Kalau kita menelisik buku (oto-)biografi banyak tokoh besar, dengan cepat bisa dipetik kesimpulan bahwa mereka adalah pribadi-pribadi dengan kekuatan mental baja. Mereka punya kesabaran yang mengagumkan dalam berjuang, bertahan, lalu menang.
Jika Anda memiliki karakter kuat, Anda berpotensi menjadi 'pribadi besar' yang patut menerima banyak hal termasuk kepercayaan besar. Jika begitu, hanya soal waktu Anda pun akan memetik kesuksesan yang besar.
Penulis adalah pemerhati masalah Hankam, Chairman PT Veritas Dharma Satya, Pendiri dan Pemred IndonesiaSatu.co, mantan Staf Khusus Letjen TNI Kiki Syahnakri.