Breaking News

HUKUM Berhasil Bekuk Munarman, FAPP: Bravo Densus 88! 29 Apr 2021 13:42

Article image
Tim Densus 88 Anti Teror saat menangkap Munarman di kediamannya. (Foto: Ist)
"Bravo Densus 88 Anti Teror, pilar penting penjaga kedaulatan negara," apresiasi Petrus.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co-- "Penangkapan Densus 88 terhadap Munarman, Selasa (27/4/2021) di Pamulang-Tangerang, Banten, dipastikan karena Munarman berdasarkan bukti permulaan yang cukup diduga terlibat dalam peristiwa tindak pidana terorisme di tiga tempat berbeda, yaitu kasus Baiat di UIN Jakarta tahun 2013, di Makassar tahun 2015 dan di Medan tahun 2019."

Demikian hal itu diutarakan Ketua Tim Task Force Forum Advokat Pengawal Pancasila (FAPP), Petrus Selestinus, dalam keterangan tertulis kepada media ini, Kamis (29/4/21).

Menurut Petrus, penangkapan Munarman olehnDensus 88 dipastikan telah didukung alat bukti yang sangat cukup berdasarkan hasil penyelidikan yang panjang yang digali dari pelaku lain, dan dari hasil penyadapan terkait aksi terorisme di tiga tempat berbeda.

"Dengan demikian waktu penangkapan terhadap Munarman selama hari, dipastikan sesuai dengan ketentuan UU Nomor 5 Tahun 2018 Tentang Perubahan Atas UU Nomor 15 Tahun 2003 Tentang Perppu Nomor 1 Tahun 2002 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme Menjadi UU dan KUHAP, sehingga penangkapan Munarman sah dan bisa dipertanggungjawabkan," nilai Petrus.

Densus 88 Wujudkan Komitmen Negara

Atas keberhasilan Densus 88, kata Petrus, publik patut menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada Polri Cq. Densus 88 dan Bareskrim, karena Densus 88 atas nama Negara telah memenuhi komitmen konstitusional yaitu menjaga dan mengawal ideologi negara, kedaulatan negara, keamanan negara, nilai-nilai kemanusiaan, serta berbagai aspek kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

"Bravo Densus 88 Anti Teror, pilar penting penjaga kedaulatan negara," apresiasi Petrus.

Advokat Peradi itu menyinggung kesaksian Achmad Aulia (30) mantan anggota FPI, terduga teroris di Makassar bahwa dalam kasus baiat, puluhan kader FPI masuk ke dalam jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD), sebuah organisasi teroris yang berafiliasi dengan ISIS, di Makasar tahun 2015, mengungkap fakta bahwa, Munarman, petinggi FPI turut hadir.

Ia beranggapan, kehadiran Munarman saat baiat angota FPI ke dalam jaringan JAD-ISIS tahun 2013 dan 2015 harus dipandang sebagai memberi restu dan melegitimasi peran FPI dalam baiat tersebut serta menjadi fakta yang tak terbantahkan mengungkap jejak FPI dan Munarman dalam jaringan JAD-ISIS, sejak tahun 2013 di UIN Jakarta, di Makasar 2015 dan untuk peristiwa terorisme di Medan 2019.

Penangkapan Berdasarkan Bukti

Petrus menegaskan bahwa fakta yang tak terbantahkan yakni jejak Munarman diungkap oleh Terdakwa Teroris Ade Supriadi, dkk, sebagaimana dalam Surat Dakwaan Jaksa dan dalam putusan Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Nomor 459/Pid.Sus.Teroris/2019/PN.Jkt.Utr. tanggal 30 Juli 2019, pada halaman 6, 18, 57 dan 70 a/n. Terdakwa teroris Ade Supriadi dkk. bahwa Munarman hadir saat baiat JAD-ISIS di Makasar.

Adapun Ade Supriadi dalam keterangannya sebagai Terdakwa, menyatakan bahwa sekitar pertengahan tahun 2015 mendapat undangan di grup BBM untuk datang di acara tabligh akbar FPI yang diadakan di markas FPI  di Jln. Sungai Limboto, Makasar, sekitar jam 09.00, dihadiri sekitar 500-700 anggota FPI, saat itu hadir juga Ustad Fauzan Anshori, Ustad Basri dan Munarman dari pengurus FPI Pusat.

Dalam Tabligh Akbar tersebut Ustad Fauzan Anshori, Ustad Basri dan Ustad Munarman (Pengurus Pusat FPI), dan materi yang diberikan antara lain tentang "Tegaknya Kilafah Islam" (sudah tegaknya negara Islam) di bawah pimpinan Abu Bakar Albahdadi, kilafah yang dimaksud adalah ISIS yang ada di Syriah", juga ada ajakan kepada umat Islam untuk bergabung dengan Kilafah Islam ISIS di bawah pimpinan Abu Bakar Albahdadi.

Penangkapan atas Munarman Sah!

Di dalam putusan Pengadilan Negeri Jakatta Utara a/n. Terdakwa Ade Supriadi, tanggal 30 Juli 2019, terungkap fakta bahwa mereka yang dibaiat sudah menyadari segala konsekuensi dari baiat tsb. yaitu mereka serta merta telah menjadi bagian dari Anshor Daulah dan daulah ISIS pimpinan Abu Bakar Albahdadi, sehingga semua seruan dan perintah yang diterima mereka yang dibaiat, harus dipatuhi.

Adapun seruan dan perintah dimaksud yakni Berhijrah dari darul kufar Indonesia ke darul Islam yaitu ISIS di Syuriah atau yang terdekat ke Marawi Filipina; Bunuhlah warga negara yang mengirim tentaranya menyerang ISIS di Syuriah seperti Amerika, Prancis, Rusia dll; Buatlah ladang jihad di daerah masing-masing dengan cara memerangi negara dan aparat pemerintah yang tidak menggunakan hukum Islam seperti Indonesia; Siapkan diri secara fisik dan kemampuan dana dalam rangka melakukan kegiatan yang diserukan oleh Amir ISIS.

Karena itu, tuntut FAPP, Rizieq Shihab, Munarman dan seluruh Elit FPI harus dipandang telah terikat di dalam komitmen dan segala konsekuensi dari baiat JAD-ISIS termasuk seruan atau perintah yang harus dipatuhi terhitung sejak baiat anggota FPI di UIN Jakarta 2013, di Makasar 2015 dan di Medan 2019, sehingga harus dimintai pertanggungjawaban secara pidana.

"Dengan demikian, penangkapan oleh Densus 88 terhadap Munarman sah menurut hukum dan dapat dipertanggung jawabkan keabsahannya, karena dilakukan berdasarkan standar hukum nasional dan standard internasional khususnya tentang pelindungan terhadap aparat penegak hukum (Penyidik, Jaksa dan Hakim) dalam Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme," pungkasnya.

--- Guche Montero

Komentar