Breaking News

PARIWISATA Dukung Program 'Tante Nela Paris', IRCI: Harus Dongkrak Perekonomian Ngada 21 Mar 2021 21:30

Article image
Direktur IRCI, Gabriel Goa Sola. (Foto: Dokpri GS)
"Rakyat Ngada harus menjadi pelaku utama pembangunan, bukan sebaliknya menjadi penonton dan terasing di daerah sendiri," tandas Gabriel.

BAJAWA, IndonesiaSatu.co -- Program Tani, Ternak, Nelayan, Pariwisata atau disingkat "Tante Nela Paris" yang merupakan visi dan misi unggulan Bupati dan Wakil Bupati Ngada, Andreas Paru dan Raymundus Bena (AP-RB) dinilai dapat mendongkrak perekonomian di Kabupaten Ngada selama masa kepemimpinan lima tahun mendatang.

"Jika benar-benar dikerjakan secara serius dan melibatkan partisipasi aktif lima unsur (Pentahelix) pariwisata, yakni pemerintah, masyarakat, pengusaha, akademisi, dan pers, maka akan meningkatkan roda perekonomian, laju pembangunan dan kemajuan daerah," ungkap Direktur Institute for Research, Consultation and Information of International Investment (IRCI), Gabriel Goa dalam keterangan rilis kepada media ini, Sabtu (20/3/2021).

Menurut Gabriel, promosi dan publikasi secara sistemik dan masif akan menarik Wisatawan Nusantara (Wisnu) dan Wisatawan Mancanegara (Wisman) ke daerah Ngada yang memiliki berbagai destinasi wisata dan kearifan lokal.

Gabriel mengaku, pihaknya tertarik dengan pemaparan dari Mansuetus Gisi, seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) di Dinas Pariwisata Ngada yang dimuat di media online suluhdesa.com

Ia menilai, Bupati Ngada wajib memberdayakan sumber daya ASN Ngada sesuai kapasitas dan kompetensi sehingga mampu merealisasikan dan menjabarkan Program 'Tante Nela Paris'.

"Pengalaman kami saat mengunjungi destinasi pariwisata di mancanegara dan Indonesia, pasti berhubungan erat dengan konteks agrowisata mencakup tani, ternak, nelayan, dan pariwisata," ujarnya.

Ia mencontohkan perkebunan anggur di Eropa yang menjadi destinasi agrowisata. Diterangkan, pada destinasi tersebut, para wisatawan mendapatkan gambaran utuh sejak proses tanam hingga pemasaran anggur.

Selain itu, wisatawan juga bisa menikmati kuliner dan menikmati berbagai jenis minuman anggur yang diproduksi. Demikian juga destinasi peternakan sapi dan babi, mulai dari proses pemeliharaan hingga menghasilkan berbagai produk dari babi dan sapi yang bisa dinikmati.

Di lokasi destinasi tersebut juga tersedia spot-spot untuk pengambilan gambar sekalian wisata kuliner dari produksi sapi dan babi. Begitu juga destinasi wisata bahari dan nelayan, juga tersedia informasi proses penangkapan hingga ikan-ikan yang ditangkap sekaligus produk-produk yang dihasilkan untuk konsumsi wisata kuliner laut maupun untuk produk-produk ekspor. 

"Hal ini bisa dikembangkan di Ngada," imbuh Gabriel.

Salah satu contohnya adalah kopi Arabika Flores Bajawa yang sudah mendunia sehingga dapat menjadi magnet untuk menarik wisatawan baik domestik maupun mancanegara.

"Ada destinasi wisata kopi yang sudah dibuat Pemkab Ngada yakni jalan memasuki kebun kopi dan belum ada tempat destinasi yang lengkap, proses pengolahan kopi serta produksi kopi dan menikmati seruput kopi asli Arabika Bajawa," ujarnya.

Terkait program 'Tante Nela Paris", hal itu bisa dikembangkan dan diimplementasikan di Ngada karena saling berkaitan. 

"Ngada harus tangkap peluang berkembangnya pariwisata Labuan Bajo yang tengah digenjot menjadi wisata skala super-premium. Ngada harus mempersiapkan kebutuhan pokok pariwisata yakni listrik, air, sarana telekomunikasi serta infrastruktur jalan menuju destinasi pariwisata," imbuhnya.

Tujuh Kawasan Strategis Wisata Ngada

Gabriel beranggapan, hal itu bisa direalisasikan karena sudah ada Perda Nomor 2 Tahun 2017 tentang Rencana Induk Pembangunan Pariwisata 7 Kawasan Strategis Pariwisata; yakni Riung, Wolomeze, Soa, Bajawa, Golewa, Jerebuu, Aimere, dan Inerie.

"Di kawasan strategis ini bisa dikembangkan destinasi agrowisata, pariwisata budaya, pariwisata rohani, pariwisata alam dan pariwisata kuliner. Pemkab Ngada perlu ada Tim Promosi dan Publikasi Ngada yang akan mempromosikan dan mempublikasikan Ngada di tingkat nasional maupun internasional," lanjutnya. 

Gabriel berkomitmen, sebagai putra daerah Ngada, pihaknya siap membantu mempromosikan dan mempublikasikan setiap potensi wisata Ngada seperti yang telah dilakukan untuk daerah Sumba melalui Sumba Tourism Board, dengan melibatkan pentahelix.

"Program Tante Nela Paris merupakan visi ideal sejauh dapat diimplementasikan dan berdampak konkrit bagi kemajuan daerah Ngada. Pertumbuhan ekonomi harus menjadi tolok ukur utama dari setiap arah kebijakan dan program pembangunan. Rakyat Ngada harus menjadi pelaku utama pembangunan, bukan sebaliknya menjadi penonton dan terasing di daerah sendiri," tandasnya.

--- Guche Montero

Komentar