Breaking News

INTERNASIONAL Imbas Krisis Politik Myanmar, Gelombang Rakyat Tinggalkan Kota 21 Mar 2021 12:55

Article image
Dampak kudeta militer dan krisis politik di Myanmar. (Foto: AP)
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melaporkan sudah lebih dari 220 orang tewas dalam bentrokan antara aparat dan pedemo anti-junta militer sejak kudeta berlangsung.

YANGON, IndonesiaSatu.co-- Sepanjang jalanan Yangon, kota terbesar di Myanmar, terus dipadati kendaraan yang sibuk berlalu-lalang.

Bukan sibuk karena aktivitas perkotaan, namun sebagian besar masyarakat sibuk berlomba keluar kota tersebut menghindari kebrutalan aparat sejak kudeta militer berlangsung pada 1 Februari lalu.

Krisis politik di Myanmar semakin memprihatinkan dunia internasional.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melaporkan sudah lebih dari 220 orang tewas dalam bentrokan antara aparat dan pedemo anti-junta militer sejak kudeta berlangsung.

Sejumlah kelompok pemerhati HAM di Myanmar juga menuturkan lebih dari 2.000 orang telah ditahan aparat.

Gerakan pemberontakan sipil terhadap junta militer yang semakin meluas di penjuru Myanmar membuat aparat keamanan juga bertindak semakin brutal terhadap pedemo.

Pada Jumat (19/3/21), media lokal menunjukkan kepadatan lalu lintas terjadi di jalan raya utama utara Yangon. Kemacetan disebabkan oleh orang-orang yang ingin melarikan diri dari kota itu menuju pedesaan yang dinilai lebih aman.

"Saya tidak lagi merasa aman dan aman lagi. Beberapa malam saya tidak bisa tidur," kata seorang penduduk di dekat salah satu distrik tempat pasukan keamanan membunuh pengunjuk rasa pekan ini kepada AFP seperti dilansir CNN Indonesia.

"Saya sangat khawatir yang terburuk akan terjadi selanjutnya karena tempat saya tinggal kerusuhannya sangat intens, dengan pasukan keamanan menciduk orang-orang dari jalanan," ujarnya.

Sekelompok wanita di Yangon juga mengatakan mereka telah membeli tiket bus untuk pulang ke kampung asal mereka di barat Myanmar.

Seorang tukang emas berusia 29 tahun bahkan mengatakan telah meninggalkan Yangon pada pekan ini karena takut terkena tindakan aparat yang semakin brutal tersebut.

"Terlalu menyedihkan untuk bertahan. Setelah tiba di sini di rumah saya, saya merasa jauh lebih lega dan aman," ujar pria tersebut.

Selain memilih keluar Yangon, sebagian warga Myanmar juga nekat kabur ke luar negeri demi mencari keamanan.

Pemerintah Provinsi Tak, Thailand, yang berbatasan langsung dengan Myanmar, memaparkan telah mempersiapkan tempat penampungan untuk mengantisipasi gelombang pengungsi yang masuk.

"Jika banyak orang Myanmar melintasi perbatasan karena kasus yang mendesak, kami telah menyiapkan langkah-langkah untuk menerima mereka," kata Gubernur Provinsi Tak, Pongrat Piromrat.

Pongrat mengatakan provinsinya mampu menampung sekitar 30 ribu sampai 50 ribu pengungsi Myanmar.

Selain Thailand, sekelompok warga Myanmar bahkan telah kabur ke India. Beberapa dari mereka bahkan dilaporkan merupakan anggota polisi yang menjadi buronan karena menolak mengabdi pada junta militer.

Sebelum kudeta militer berlangsung, sebanyak 90 ribu pengungsi dari Myanmar juga telah tinggal di sepanjang perbatasan negara Asia Tenggara itu. Mereka tinggal di perbatasan karena melarikan diri dari perang saudara selama puluhan tahun antara militer dan kelompok etnis bersenjata.

--- Guche Montero

Komentar