Breaking News

NASIONAL Jokowi: Islam Bukan Musuh Amerika 22 May 2017 12:15

Article image
Presiden RI Joko Widodo. (Foto: Ist)
Jokowi menganjurkan pentingnya menyeimbangkan pendekatan hard-power dengan pendekatan soft-power dalam menangani radikalisme.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co -- "Arab Islamic American Summit" dapat digunakan untuk mengirimkan pesan kemitraan dunia Islam dengan Amerika Serikat, sehingga menghilangkan persepsi AS yang melihat Islam sebagai musuh.

Hal ini disampaikan Presiden Jokowi ketika menjadi pembicara dalam konferensi yang mempertemukan para pimpinan negara-negara Arab dan Islam dengan Presiden AS Donald Trump di King Abdul Aziz International Convention Center Riyadh, Arab Saudi, Minggu (21/5/2017).

"Yang lebih penting lagi pertemuan ini harus mampu meningkatkan kerja sama pemberantasan terorisme dan sekaligus mengirimkan pesan perdamaian kepada dunia," ujar Presiden sebagaimana dilansir Antara.

Jokowi menegaskan ancaman radikalisme dan terorisme terjadi di mana-mana. 

"Indonesia adalah salah satu korban aksi terorisme, serangan di Bali terjadi tahun 2002 dan 2005 dan serangan di Jakarta terjadi Januari 2016," kata Presiden.

Jokowi menegaskan perlunya tanggung jawab bersama terhadap jatuhnya korban serangan terorisme di berbagai belahan dunia di Prancis, Belgia, Inggris, Australia dan lain-lain.

"Dunia seharusnya juga sangat prihatin terhadap jatuhnya lebih banyak korban jiwa akibat konflik dan aksi terorisme di beberapa negara seperti Irak, Yaman, Suriah, Libya," tegasnya.

Pada kesempatan itu, Presiden mengatakan umat Islam adalah korban terbanyak dari konflik dan radikalisme terorisme. Hal ini menyebabkan jutaan umat Muslim harus keluar dari negaranya untuk mencari kehidupan yang lebih baik dan jutaan generasi muda kehilangan harapan masa depannya.

Hal ini, demikian Presiden, membuat anak-anak muda frustrasi dan marah. 

"Rasa marah dan frustasi ini dapat berakhir dengan muculnya bibit-bibit baru ektremisme dan radikalisme," jelasnya.

Pada kesempatan itu Jokowi menganjurkan pentingnya menyeimbangkan pendekatan hard-power dengan pendekatan soft-power.

“Selain pendekatan hard-power, Indonesia juga mengutamakan pendekatan soft-power melalui pendekatan agama dan budaya," kata Jokowi.

Presiden mengungkapkan untuk program deradikalisasi, misalnya, otoritas Indonesia melibatkan masyarakat, keluarga, termasuk keluarga mantan narapidana terorisme yang sudah sadar; dan organisasi masyarakat

Untuk kontra radikalisasi, lanjut Jokowi, pihaknya merekrut para netizen muda dengan follower yang banyak untuk menyebarkan pesan-pesan damai.

"Kita juga melibatkan dua organisasi Islam terbesar di Indonesia, yaitu Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama untuk terus mensyiarkan Islam yang damai dan toleran," pungkasnya.

--- Redem Kono

Komentar