Breaking News

INTERNASIONAL Kudeta Myanmar: 'Puluhan Tewas' Dalam Aksi Kekerasan Militer di Bago 11 Apr 2021 16:55

Article image
Demo anti militer di Myanmar. (Foto: BBC)
Kelompok pemantau Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik atau Assistance Association for Political Prisoners (AAPP) mengatakan jumlah kematian sebenarnya kemungkinan besar jauh lebih tinggi.

NAUPYIAW, IndonesiaSatu.co -- Lebih dari 80 orang telah dibunuh oleh pasukan keamanan Myanmar dalam tindakan keras terhadap protes di kota Bago, demikian kata para aktivis seperti dilaporkan BBC.

Militer dilaporkan telah mengambil jenazah mereka yang terbunuh, dan jumlah sebenarnya dari kematian mungkin tidak pernah dapat ditentukan secara akurat.

Saksi mata mengatakan kepada media lokal bahwa tentara telah menggunakan senjata berat dan menembak apa pun yang bergerak.

Lebih dari 600 orang telah tewas sejak kudeta militer bulan lalu.

Militer telah menggunakan kekerasan yang meningkat untuk mempertahankan cengkeramannya pada kekuasaan.

Pembunuhan terakhir di Bago, dekat kota utama Yangon, dilaporkan terjadi pada hari Jumat (9/4/2021) tetapi membutuhkan waktu seharian untuk muncul karena banyak penduduk terpaksa mengungsi ke desa-desa terdekat.

Kelompok pemantau Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik atau Assistance Association for Political Prisoners (AAPP) mengatakan jumlah kematian sebenarnya kemungkinan besar jauh lebih tinggi.

Outlet berita Myanmar Now mengutip penyelenggara protes Ye Htut yang mengatakan: "Ini seperti genosida. Mereka menembaki setiap bayangan."

Protes massal telah terjadi di seluruh Myanmar, juga dikenal sebagai Burma, sejak militer menguasai negara Asia Tenggara itu pada 1 Februari dan mengumumkan keadaan darurat selama setahun.

Angkatan bersenjata mengklaim telah terjadi kecurangan yang meluas selama pemilihan umum akhir tahun lalu yang telah mengembalikan pemimpin terpilih Aung San Suu Kyi dan partainya Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) ke tampuk kekuasaan. Komisi pemilihan telah menolak ini.

Pada hari Jumat anggota parlemen yang digulingkan dan duta besar PBB Myanmar meminta anggota Dewan Keamanan PBB untuk mengambil tindakan terhadap militer, termasuk memperpanjang sanksi dan memberlakukan embargo senjata dan zona larangan terbang.

Pertemuan PBB itu juga diperingatkan bahwa Myanmar "di ambang kegagalan negara".

Penasihat senior International Crisis Group Richard Horsey mengatakan tindakan militer itu menciptakan situasi di mana negara bisa menjadi tidak bisa diatur.

--- Simon Leya

Komentar