Breaking News

KESEHATAN Larangan Mudik, Doni Monardo: Jangan Ada yang Keberatan, Menyesal Nanti 17 Apr 2021 22:36

Article image
Ketua Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Doni Monardo. (Foto: Sekretariat Kabinet)
Doni menegaskan bahwa mudik lebaran dilarang untuk keselamatan masyarakat karena pandemi Covid-19 belum terkendali.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co – Aturan larangan mudik yang berlaku pada 6-17 Mei 2021 dimanfaatkan warga untuk pulang kampung (mudik) lebih awal. Menanggapi hal tersebut, Ketua Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Doni Monardo meminta masyarakat jangan curi start mudik.

"Jadi kalau dilarang mudik, itu bukan berarti sebelum tanggal 6 bisa pulang kampung,” kata Doni dalam Rapat Koordinasi Penanganan Covid-19 bersama jajaran Pemerintah Provinsi Bengkulu di Bengkulu, Jumat (16/4/2021).

Doni mengatakan, dalam menangani pandemi, salah satu protokol kesehatan yang harus dijaga adalah mengurangi mobilitas orang.

Pemerintah melalui Satgas juga sudah dengan tegas mengeluarkan aturan pelarangan mudik dalam Surat Edaran (SE) Nomor 13 Tahun 2021 tentang Peniadaan Mudik Hari Raya Idul Fitri 1442 H telah dikeluarkan pada 7 April 2021 yang berlaku pada 6-17 Mei 2021.

“Jangan ada yang keberatan. Menyesal nanti,” kata dia.

Dengan adanya pelarangan ini, masyarakat diminta betul-betul memahami bahwa konteks aturan pemerintah itu juga lebih kepada upaya pencegahan.

Doni menegaskan bahwa mudik lebaran dilarang untuk keselamatan masyarakat karena pandemi Covid-19 belum terkendali.

“Tidak mudik. Dilarang mudik. Kita tidak ingin pertemuan silaturahmi berakhir dengan hal yang sangat tragis. Kehilangan orang-orang yang kita sayangi. Kehilangan orang-orang yang kita cintai. Jangan sampai terjadi,” kata Doni.

Doni meminta seluruh unsur pemerintah daerah, termasuk tokoh adat dan tokoh agama, berupaya memberikan pemahaman yang baik kepada masyarakatnya, sehingga larangan mudik Idul Fitri tahun guna mencegah penularan Covid-19 ini dapat diikuti dan terlaksana dengan baik.

Meski sudah jutaan orang terinfeksi Covid-19 dan telah menelan korban jiwa lebih dari 40.000 ribu orang di tanah air, namun masih ada sebanyak 17 persen masyarakat Indonesia yang sampai sekarang tidak percaya adanya Covid-19 dan menganggap hal itu adalah sebuah rekayasa serta konspirasi.

 

--- Simon Leya

Komentar