Breaking News

OPINI Mendidik Manusia Merdeka: Apresiasi Emas Pernikahan Yohanes Bate dan Katharina Bhudhe 10 May 2021 19:36

Article image
Yohanes Bate dan Katharina Bhudhe memperingati yubileum emas pernikahan. (Foto: ist)
Guru membuat manusia semakin manusiawi, guru memerdekakan manusia dari kebodohan, kegelapan pengetahuan, perhambaan.

Oleh RD Stefanus Wolo Itu

 

MINGGU, 9 Mai 2021 kakak saya Yohanes Bate dan Katharina Bhudhe memperingati yubileum emas pernikahan. Mereka rayakan yubileum ini dalam kesederhanaan. Ada intensi misa di gereja Wolorowa. Selanjutnya kembali ke rumah bersama anak cucu. Mereka duduk dan makan bersama sambil membuka kartu kisah awal dan kisah-kisah indah selama 50 tahun perkawinan.

Awal cinta mereka lucu. Saat itu kami masih tinggal di Boamuzi/Rowa. Bapak dan mama mulai cemas karena kakak sulung kami Emanuel Buku Due yg saat itu mengajar di Wekaseko masih jomblo. Dia sdh 9 tahun menjadi guru dan sudah berusia 30 tahun.

Ketika itu bulan Juli 1970.Tanpa sepengatahuan kak Eman, mama kami Ine Mare bersama Ine Wea Deru(mama dari sepupu saya Rm. Anton Mite) pergi bertamu ke rumah ema Buku Baghi dan ine Mogi Nusa di Kurubuli/Kampung Feo saat ini. Ema Buku dan ine Mogi menerima baik kedatangan Ine Mare dan Ine Wea Deru.

Setelah makan sirih pinang, ema Buku dan ine Mogi bertanya: "Ai miu mori zua ne'e perlu gho? Apakah kamu dua ada perlu? Mama berdua menjawab: "Kami mai tana ripe kedhi dia sa'o miu di". Ripe kedhi adalah bakul kecil yg dianyam dari pandan. Bakul kecil ini biasanya bertali dan sering dibawa oleh mama-mama atau kaum perempuan. Mereka sering mengisi barang-barang penting di dalamnya, misalnya pisau atau juga sirih dan pinang.

Dalam urusan jodoh orang Sarasedu dan sekitarnya, "ripe kedhi" adalah ungkapan untuk anak gadis dalam rumah yang sudah boleh dipinang oleh pemuda. Ketika itu hanya ada satu "ripe kedhi atau gadis kecil" dalam rumah berusia 21 tahun namanya Katharina Bhudhe.

Ema Buku dan Ine Mogi menjawab: "Ripe kedhi dia ne'e. Miu wi pedu ne'e sei? Artinya kami punya anak gadis. Kamu mau pasang dengan siapa? Ine Mare menjawab: "Kami wi pedu ne'e anak kami Guru Ema/Kami mau pasang dengan anak kami Guru Eman".

Ema Buku dan Ine Mogi memberikan jawaban mengejutkan: "Molo, bholo kami ura dhera bodha ne'e da azi Hane. Kazi da petani, kami di bupu gha. Hane ne'e Bhudhe wi polu pi gami. Guru Ema kia ngata pao wolo leko, la'a aja bapo nua". Artinya, baik. Kami terima lamaran. Tapi kami lebih jatuh hati pada Hanes yang petani. Kami sudah tua. Nanti Hanes dan Bhudhe yang merawat kami di masa tua.

Ine Mare dan ine Wea Deru menerima "tawaran baru" itu. Mereka sepakat bahwa "ripe kedhi, Katharina Bhudhe" untuk Hanes. Hanes saat itu ada di Boamuzi dan tidak tahu tentang "rejeki jodoh tak terduga" itu. Kak Eman di Wekaseko pun tidak tahu "kerja senyap" mamanya berdua dan hasilnya untuk sang adik.

Malam itu ine Mare dan ine Wea Deru menginap di Kurubuli. Keesokan harinya ada kegiatan panen padi sawah ema Buku dan ine Mogi di Tiwuleke. Ema Buku dan Ine Mogi berpesan begini: "Kita we papa pedu me'a. Bhudhe hai gha. Ai sa Hane. Pa zale miu punu, kami hai Bhudhe bodha ne'e gazi. Ngaza kazi hai, robha di pas keti, kazi mu mai idi tua. Ele dhajo bhai apa-apa. Lozi kazi mai".

Artinya kita sudah sepakati bersama bahwa Bhudhe dengan Hanes. Tapi kita belum tahu apakah Hanes setuju. Beritahu dia, kalau dia mau dengan Bhudhe, besok langsung datang bawa moke.(minuman dari pohon lontar atau enau). Dengan membawa moke, orang sekampung Feo tahu bahwa Yohanes Bate dan Katharina Bhudhe sdh resmi sebagai tunangan.

Begitu tiba di Boamuzi, ine Mare langsung menyampaikan kabar suka cita itu kepada Yohanes. Beliau ternyata setuju dan tanpa menunggu lama beliau langsung ke Lambert Nane, bandar moke putih di Padhahegha saat itu. Hari itu bersama kak Bene Buku Due almarhum mereka membawa moke ke Tiwu Leke. Mereka tiba persis jam makan siang. Ya, jam makan kami di Tiwu Leke jaman itu sekitar jam tiga atau empat.

Kisah mereka menarik. Tidak ada masa pacaran seperti generasi milenial sekarang. Orang tua yang punya anak dan siap menikah, bisa langsung mendatangi rumah perempuan. Urusan jodoh masih didominasi orang tua. Prinsipnya keduanya tidak boleh memiliki hubungan darah dekat. Urusan cinta dan saling mengerti nanti berjalan dalam waktu. Yang penting sudah punya jodoh.

Masa pertunganan mereka terbilang singkat. Tanggal 9 Mei 1971 mereka saling menerimakan Sakramen Perkawinan. P. Yan Lobi, SVD meneguhkan perkawinan mereka dan disaksikan Bapak Gabriel Leto dan Mama Maria Rume dan dilanjutkan dgn resepsi pernikahan di Feo kampung lama.

Setelah menikah mereka tinggal di Kurubuli bersama Ema Buku dan Ine Mogi Nusa sejak tahun 1971-1976. Tahun 1977 - 1981 mereka pindah dan tinggal bersama kami di Rutowoghe Wolorowa. Tahun 1981 - kini tinggal di Pogo.

Sebagai keluarga muda mereka belajar banyak dari kedua pasangan orang tua: ema Buku Baghi dan ine Mogi Nusa, juga ema Sabu Dhoni dan ine Mare Bupu. Ayah kae Katharina "Mado Meze Buku" adalah seorang berpengaruh. Beliau adalah orang berpunya. Punya tanah luas, punya sawah, punya kerbau dan sapi. Itu semua diraih lewat keuletan dan kerja keras.

Sementara itu orang tua Yohanes, ema Sabu Dhoni dan ine Mare Bupu adalah juga pekerja keras yang disiplin. Prinsip mereka anak harus sekolah. Kak Hanes adalah lulusan terbaik SDK Rowa tahun 1965. Tapi dia satu-satunya di antara kami yang dengan sukarela memilih menjadi petani. Sebagai petani kak Hanes dan Katharina bekerja di kebun, sawah, beternak hewan, iris tuak, tukang kayu dan sempat berdagang. Hanes juga dipercayakan untuk pelbagai tugas publik di kampung. Beliau pernah menjabat kepala desa dan pengurus lingkungan Sarasedu.

Ema Sabu Dhoni dan Ine Mare selalu berpesan agar cucu-cucu mereka sekolah. Awal tahun 1990 bapak mempercayakan gaji pensiunnya pada kak Hanes. Bapak selalu beritahu: "Hani, engkau boleh tidak sekolah, tapi anak-anakmu harus sekolah. Gunakan uang pensiun saya untuk membiayai mereka".

Selama 50 tahun mereka menghayati hidup perkawinan dalam pengalaman jatuh dan bangun. Mereka tetap berdiri di atas cinta. Mereka ingin agar mereka berdua bahagia. Bahagia karena saling mengasihi. Bahagia karena dikaruniai anak-anak. Bahagia karena anak-anak boleh mengenyam pendidikan yang baik dan boleh memiliki masa depan yang lebih berkualitas.

Meski dengan susah payah mereka berusaha menyekolahkan anak-anaknya. Dan mereka lakukan itu sebagai amanat dari tujuan perkawinan Katolik. Bagi Yohanes dan Katharina, salah satu bentuk pengkhianatan terhadap keluhuran Sakramen Perkawinan terjadi ketika keluarga mengabaikan pendidikan yang layak untuk anak-anak.

Keenam anak mereka rata- rata cerdas secara intelektual. Tapi juga sederhana, rendah hati dan luwes dalam pergaulan. Rupanya karena faktor genetik, yang ditunjang dengan pasokan nutrisi bergisi dan iklim pendidikan dalam keluarga.

Lima anak mereka sarjana formal di bangku kuliah, empat ijazah guru dan satu biarawati dengan spesialisasi apoteker. Satu anak secara sukarela memilih jadi petani. Tapi saya sering menyapa dia Santus, S.Pt atau sarjana pertanian dan peternakan terapan. Dia kuliah di kebun dan sawah, di pohonan dan hewan-hewan piaraan.

Empat anaknya menjadi guru. Si sulung Petrus Buku barusan dilantik jadi pengawas di Boawae. Anak Kedua Rely Ninu kepala sekolah di SDK Ngorabolo. Anak ketiga Leonardus Lobo kepala SDK Olabolo. Anak bungsu Yustina Mogi guru SMP Syuradikara Ende.

Orang sering bertanya: mengapa mayoritas anak- anak sekolah guru? Menjadi guru itu berarti menjadi orang baik. Tugas guru itu "memanusiakan manusia" seperti kata Dick Hartoko. Tugas guru juga "mendidik manusia merdeka", seperti kata Gus Dur pada YB. Mangunwijaya. Guru membuat manusia semakin manusiawi. Guru memerdekakan manusia dari kebodohan, kegelapan pengetahuan, perhambaan.

Hari ini mereka merayakan 50 tahun perkawinan. Perayaan tanpa kiriman bunga-bunga indah seperti hari ibu atau Muttertag di Eropa. Perayaan tanpa glamour dan kemewahan karangan bunga emas seperti orang Jerman pada abad pertengahan.

Mereka berbahagia karena sudah berhasil mendidik manusia-manusia merdeka. Manusia-manusia merdeka mesti tetap mempertahankan kemerdekaan dengan rajin berdoa, bersikap jujur, berbuat baik dgn sesama dan setia pada panggilan hidup masing-masing.

Yubilaris Emas. Apresiasi dan Proficiat. Kamu berdua telah setia dalam perkara-perkara kecil. Sekarang Tuhan mempercayakan perkara-perkara besar itu kepada anak-anakmu. Kamu sudah mendidik mereka menjadi manusia merdeka. Sekarang saatnya mereka melipatgandakan manusia-manusia merdeka.

Foto kamu dua yang gagah perkasa dan cantik, mengingatkan anak cucu bahwa kamu dua adalah "Guru Besar". Guru yang mendidik manusia merdeka.

Salam dari adik bungsu di Eiken AG Swiss.

Komentar