Breaking News

TOKOH Mgr Hilarius Moa Nurak SVD dan Pendekatan Pastoral PIPA 01 May 2016 19:02

Article image
Mgr Hilarius Moa Nurak, SVD. (Foto: hidupkatolik.com)
Pater Hila adalah sosok imam yang sangat rendah hati, penampilan sederhana dan punya jiwa kebapaan yang tinggi. Kecintaan dan kedekatannya dengan anak seminari menjadikannya sebagai figur pastor pembimbing yang sangat disukai oleh siswa-siswa seminari.

Oleh Simon Leya

Suatu malam, pada awal Mei 1987, usai ibadat malam. Pembimbing kami, P Johanes Ghono SVD mengumumkan kabar yang amat mengejutkan kami semua. “Pater rektor kita diangkat menjadi uskup.” Kami semua, siswa Seminari St Yohanes Berkhmans, Todabelu Mataloko, Flores menyambut berita itu dengan sorak-sorai. Kami saling berpelukan lalu berhamburan menuju ruang rektor. Kami bergantian memeluk pater rektor, Pater Hilarius Moa Nurak SVD yang tampak tidak percaya dengan pengangkatan dirinya menjadi Uskup Keuskupan Pangkalpinang.

Suasana seminari yang seharusnya tenang, tanpa suara, kecuali gesekan alas kaki sontak menjadi hiruk-pikuk. Kami tidak peduli dengan keheningan (silentium magnum). Para siswa seminari berhamburan ke luar kompleks asrama, mewartakan kabar pengangkatan Pater Hila menjadi uskup kepada para guru dan umat Mataloko. Kami tidak percaya, sosok yang ‘terlalu biasa ’ dan sederhana itu diangkat menjadi uskup.

Sudah cukup banyak kesaksian yang diceritakan dan ditulis orang tentang Mgr Hila. Hampir semua orang yang pernah mengenalnya punya kesan yang sama: Mgr Hila, demikian sapaan akrabnya, adalah sosok yang ramah, sederhana, dan bersahaja. Kesederhanaan itu terpancar dari tutur kata, sikap, dan penampilan, baik ketika masih menjadi imam, maupun ketika sudah memangku jabatan uskup.

Keramahan dan kesederhanaan Mgr Hila dirasakan para rekan imam dan anak didiknya. Yohanes Diaz dalam blog pribadinya menulis, “Bagi anak-anak seminari Hokeng (Seminari Mengengah San Dominggo, Hokeng, Flores Timur), Pater Hila adalah sosok pater yang sangat rendah hati, penampilan sederhana, dan punya jiwa kebapaan yang tinggi. Kecintaan dan kedekatannya dengan anak seminari menjadikannya sebagai figur pastor pembimbing yang sangat disukai oleh siswa-siswa seminari.” Sebelum diangkat menjadi Rektor Seminari Mataloko dan Uskup Keuskupan Pangkalpinang, Mgr Hila cukup lama menjadi pendidik dan pembimbing di Seminari Hokeng selama 12 tahun.

Kesan yang sama kami rasakan ketika Mgr Hila menjadi Rektor Seminari Menengah St Yohanes Berkhmans, Todabelu, Mataloko, Flores. Profil rektor yang biasanya ‘angker’ dan penuh wibawa tidak kami rasakan. Pater Hila sangat dekat dan manyapa setiap siswa dan para guru dengan sapaan seorang anak dan sahabat. Bagitu sederhananya sampai kami tidak percaya kalau Pater Hila akhirnya diangkat menjadi uskup.

Sikap sederhana dan egaliter juga tercermin dalam seluruh sikap dan karyanya. Mgr Hila menjadi gembala bagi umat Keuskupan Pangkalpinang dengan visi "Gereja Partisipatip". Mgr Hila selalu menekankan pendekatan dan partisipasi aktif akar rumput dengan Komunitas Basis Gerejawi (KBG) sebagai ujung tombak. Di dalam KBG, umat beriman diajak untuk terlibat aktif dalam semua sendi hidup dan karya pelayanan Gereja.

Merujuk ke Gereja Katolik Korea sebagai contoh, Mgr Hila menekankan pentingnya memberdayakan umat akar rumput, karena dengan itu umat disadarkan akan tanggung jawabnya sebagai anggota gereja yang memiliki hak dan kewajiban. “Mereka berhak mendapat pendampingan dan pelayanan pada semua aspeknya. Pada sisi lain, mereka berkewajiban untuk memelihara kelangsungan hidup gereja,” demikian svdbiblecentre.org.

Kalau di Gereja Katolik Korea, proses animasi kesadaran umat Allah digerakkan melalui pola pastoral ASIPA (Asian Integrative Pastoral Approach), di Keuskupan Pangkalpinang Mgr Hila melahirkan pola penggembalaan dengan sebutan PIPA (Pangkalpinang Integrative Pastoral Approach). Inti dari PIPA ialah, bahwa hidup umat Kristiani harus berpusat pada Kristus yang menjiwai semua sendi-sendinya.

Dalam berbagai forum, Mgr Hila selalu menekankan pengembangan umat Allah, dengan perhatian khusus pada kaum marjinal. Menurutnya, melalui pemberdayaan kaum marjinal ini, gereja menemukan jiwanya. Justru dari umat akar rumput jenis ini, komitmen pelayanan dan panggilan bertumbuh subur, sehingga masa depan gereja tidak mencemaskan, karena anggota gereja, baik umat awam maupun biarawan-birawati dan para imam, memiliki tekad yang sama untuk membesarkan Kerajaan Allah.

Kisah Hidup

Mgr Hila lahir dari sebuah keluarga sederhana pada 21 Februari 1943 di Pulau Sumba dan dibaptis dengan nama Hilarius Moa Nurak. Sebagaimana anak guru umumnya, Mgr Hila dididik dengan keras oleh ayahnya Ignasius Paulus Paoe. Tapi Hila kecil bertumbuh menjadi anak yang lembut berkat bimbingan ibunda Bernadetta Modesta Gobang. Ibu Bernadetta membentuk Hila menjadi anak kecil yang ceria, rajin, dan rendah hati. Meski demikian, Hila diam-diam sangat menyanjung bakat Bapaknya yang pintar dalam bahasa, matematika, dan sejarah.

Ketertarikan pada seminari bermula dari cerita ayahnya. Sang ayah sering bercerita tentang Seminari Mataloko, satu-satunya seminari menengah yang ada di Pulau Flores kala itu. Angan-angannya untuk masuk Seminari Mataloko tercapai juga. Mgr menyelesaikan pendidikan seminari menengah di Mataloko selama tujuh tahun sebelum bergabung dengan kongregasi Societas Verbi Divini (Serikat Sabda Allah) di Seminari Tinggi St Paulus Ledalero, Maumere, Flores.

Pada tanggal 2 Agustus 1972, Hila ditahbiskan menjadi imam. Antara 1974-1976 Pater Hila mendapat kesempatan belajar Kitab Suci di Roma. Sekembalinya dari Roma, Pater Hila  bertugas menjadi pastor pembimbing di seminari Hokeng hingga tahun 1984. Pada 2 Mei 1987, Pater Hila diangkat menjadi Uskup. Pada 2 Agustus 1987, Pater Hila ditahbiskan menjadi Uskup Keuskupan Pangkalpinang. Karena percaya pada kekuatan doa, Mgr Hila memilih nas dari Injil Lukas 22:32: Ego autem rogavi pro te (Aku telah berdoa untukmu) sebagai moto tahbisan uskup. Dengan demikian, Mgr Hila resmi meneruskan karya kegembalaan di Keuskupan Pangkalpinang menggantikan uskup pendahulunya Pater Nicolas Pierre van der Westen, SSCC yang berkarya antara 8 Feb 1951 - 11 Nov 1978.

Dalam lingkungan kegerejaan termasuk dalam KWI (Konferensi Waligereja Indonesia) Mgr Hila diberi kepercayaan untuk memangku berbagai tugas dan jabatan, di antaranya:  Ketua Komisi Kepemudaan KWI (1988-1997), Ketua Komisi PSE KWI (1997-2003), Anggota Badan Pengurus Yayasan LPPS, Ketua Komisi Seminari KWI), Anggota Presidium (2009-2012), Ketua BKBLII (2009-2015), Episcopal Advisor Karismatik Katolik sejak2015  hingga Tuhan, Sang Pemberi kehidupan memanggilnya kembali pada hari Jumat (29/4) di Mount Alvernia Hospital Singapura pukul 13.00 WIB atau 14.15 waktu Singapura.

Terima kasih imam dan guruku.

Penulis adalah alumnus Seminari Menengah St Yohanes Berkhmans, Todabelu Mataloko, Flores (1985-1989)

Komentar