Breaking News

INTERNASIONAL Militer Israel: Menara Al-Jaala Bukan Pusat Media, Tapi Markas Intelijen Hamas 17 May 2021 21:01

Article image
Menara al-Jaala di Gaza yang dirobohkan oleh pasukan Israel. (Foto: AP)
Juru bicara IDF mengatakan, Menara Al-Jalaa merupakan markas operasi intelijen militan Hamas dan juga kantor ekstremis Palestina.

GAZA, IndonesiaSatu.co -- Pasukan Pertahanan Israel (IDF) membantah tudingan berbagai pihak bahwa militer Israel sengaja menargetkan Menara Al-Jalaa yang menampung outlet media internasional Jalur Gaza, Sabtu (15/5/2021) lalu untuk membungkam aktivitas jurnalisitik global.

Seperti dikutip dari faz.net, Senin (17/5/2021), IDF menegaskan tujuan utama dari serangan tersebut bukanlah jurnalis, melainkan fasilitas yang berfungsi sebagai markas besar untuk gerakan Hamas dan faksi Palestina lainnya.

IDF telah memberikan waktu evakuasi selama satu jam sebelum melakukakan serangan udara yang merobohkan gedung perkantoran berlantai 12 dan menjadi kantor "The Associated Press" dan "Al-Jazeera" tersebut.

Otoritas IDF menyatakan, al-Jaala menampung aset militer milik intelijen militer Hamas, sehingga salah satu gedung tertinggi di Gaza itu menjadi target yang sah dalam konflik yang sedang berlangsung.

Juru bicara IDF Letnan Kolonel Jonathan Conricus menepis anggapan bahwa gedung perkantoran itu harusnya dilindungi karena kehadiran wartawan dan merupakan pusat media internasional.

"Itu bukan menara media dan bukan pusat media, melainkan markas intelijen Hamas. Informasi dari intelijen kami sangat akurat," ungkap Conricus seperti disitir dari faz.net, Senin (17/5/2021).

Dia menambahkan, gedung perkantoran itu merupakan markas operasi intelijen militan Hamas dan juga kantor ekstremis Palestina.

Dia menyebutkan tiga alasan utama bangunan itu sebagai bagian dari organisasi ektremis Palestina. Pertama, menara tersebut digunakan oleh "perwira intelijen militer, yang pada dasarnya mengumpulkan dan menganalisis intelijen militer (ekstremis), pastinya untuk tujuan militer melawan kami (Israel).”

Kedua, tempat itu merupakan lokasi "penelitian dan pengembangan, di mana para ahli terbaik (ekstremis) beroperasi dari dalam gedung itu, menggunakan perangkat keras, komputer, dan fasilitas lain di dalam gedung untuk mengembangkan senjata, juga senjata militer."

Ketiga, Hamas memanfaatkan "alat teknologi sangat maju yang ada di dalam atau di atas gedung" tersebut.

Meski demikian, Conricus tidak menjelaskan secara spesifik. Ia menegaskan, Hamas menggunakan berbagai peralatan yang ditempatkan di Menara al-Jaala  "dalam berperang melawan kami (Israel) untuk menghambat atau membatasi aktivitas IDF di wilayah Israel dan pada aktivitas sipil bersama di Gaza”.

Seperti diberitakan, konflik di Jalur Gaza meletus pada Senin (10/5/2021), ketika Hamas menembakkan ratusan roket ke wilayah Israel. Hingga kini jumlah roket Hamas diperkirakan mendekati 3.000 yang diluncurkan ke Israel dan mengenai sejumlah target.

Sebagian besar roket Hamas berhasil dihancurkan di udara oleh sistem pertahanan Iron Dome yang dimiliki Israel.

Serangan Hamas lantas dibalas secara intensif oleh IDF dengan serangan udara dan darat ke Jalur Gaza sehingga menewaskan ratusan orang dan memicu kritik dan kecaman masyarakat internasional.

--- Henrico Penu