Breaking News

NASIONAL Pastor Philipus Tule SVD: Lawan Radikalisme dengan Mengusung Budaya Damai 30 May 2017 08:30

Article image
Salah satu buku yang ditulis Pastor Dr Philipus Tule, SVD. (Foto: Ist)
Kehadiran paham radikalisme yang marak diperbincangkan berbagai kalangan belakangan ini harus dihadapi dan dilawan dengan kekuatan nilai-nilai agama serta budaya yang telah lama hidup.

MAUMERE, IndonesiaSatu.co -- Bom Kampung Melayu yang menewaskan tiga polisi dan sejumlah warga luka-luka menunjukkan terorisme dan radikalisme menjadi isu hangat di Tanah Air.

Radikalisme harus dihadapi dengan menggunakan budaya damai. Nilai-nilai agama serta budaya yang telah lama hidup dapat menjadi kekuatan strategis untuk melawan radikalisme.

Hal ini disampaikan Pastor Katolik, Dosen Islamolog dan pegiat kebhinekaan dari Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero Maumere Kabupaten Sikka, Dr Philipus Tule, SVD, Sabtu (27/5/2017).

"Radikalisme dapat dilawan dengan mengembangkan wacana keagamaan baru dengan mengusung budaya damai," ujar Philipus, pastor yang belajar Islamologi di Roma dan Mesir.

Mantan Ketua STFK Ledalero itu mengatakan kehadiran paham radikalisme yang marak diperbincangkan berbagai kalangan belakangan ini harus dihadapi dan dilawan dengan kekuatan nilai-nilai agama serta budaya yang telah lama hidup.

"Kekuatan utama masyarakat NTT dalam membangun toleransi dan kebinekaan terletak pada kemampuan masyarakatnya secara turun-temurun dalam menghayati agama dan kebudayaan secara seimbang," kata Philipus.

Philipus yang sering melakukan aksi-aksi menggalang penguatan dan kebhinekaan itu menjelaskan, kata radikal tidak selalu bermakna negatif. Oleh karena itu, sebenarnya radikal bisa dibawa ke arah positif.

"Memang sebagai orang beriman kita harus menjadi radikal, kembali ke fundamen atau dasar agama yakni kitab suci, Injil, Alquran, teologi, hadis, dan tradisi," ucap Philipus Tule, yang menekuni kajian S2 Islamologi di Pontifical Institute of Arabic and Islamic Studies (PISAI) di Roma, Italia. 

Philip mengatakan kata radikal akan bermakna negatif ketika ditambah dengan akhiran "isme", menjadi radikalisme, fundamentalisme, fanatisme yang mengedepankan kekerasan dan pemaksaan kehendak pada orang lain.

Philip menambahkan akar radikalisme dan fundamentalisme adalah persoalan ekonomi, politik, dan penafsiran yang keliru terhadap agama.

Karena itu, jika kehadiran paham-paham tersebut tidak dibendung dengan baik, maka dapat merusak tatanan hidup individu, masyarakat, organisasi, partai politik, hingga lingkungan pendidikan.

"Paham radikalisme di Indonesia telah mengintai remaja dan anak-anak muda kita yang masih labil untuk dijadikan pengikut atau anggota kelompok radikal," imbuh Philipus Tule yang pernah studi S-3 di bidang antropologi di The Australian National University (ANU) Canberra, Australia hingga meraih gelar Ph.D pada 2001 dengan tesis berjudul "Longing for the house of God, Dwelling in the house of the ancestors: Local Belief, Christianity and Islam Among the Keo of Central Flores".

Philip mengimbau semua komponen masyarakat bangsa agar terus meningkatkan kewaspadaan untuk membendung penyebaran paham-paham tersebut, dengan bersatu padu membongkar radikalisme lewat upaya-upaya deradikalisasi dengan menanamkan nilai-nilai cinta damai.

"Para tokoh agama juga harus bisa membina umatnya menjadi orang yang militan, tekun, berdoa, membaca kitab suci, dan taat beribadah, " pungkasnya.

--- Redem Kono

Komentar