Breaking News

TAJUK Perang Iran-AS dan Ancaman Resesi Global 02 Mar 2026 08:18

Article image
Para pakar telah memperingatkan, jika Iran menutup Selat Hormuz, maka pasokan minyak global akan terdampak, yang dapat menyebabkan kenaikan harga minyak dunia. (Foto: Ist)
Kita harus mengambil hikmah: Perang AS-Israel melawan Iran menjadi bukti bahwa kemajuan teknologi tidak dibarengi moralitas akan berujung pada kehancuran, kerusakan, dan kemelaratan.

Amerika Serikat (AS) dan Israel telah menyerang Iran pada Sabtu (28/2/2026). Operasi militer udara AS-Israel telah menghantam sejumlah titik lokasi.  Stasiun televisi Iran dan kantor berita resmi Iran, IRNA, melaporkan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, mantan Presiden Mahmoud Ahmadinejad dan sejumlah pejabat strategis Iran tewas dalam serangan tersebut.

Sebagai balasan, Iran melepas rudal ke wilayah Israel dan menyerang sejumlah aset AS di Qatar, Uni Emirat Arab (UEA), Kuwait, Bahrain, Jordania, Arab Saudi, dan Irak. Saat tulisan ini diturunkan, AS-Israel dan Iran masih berganti melakukan serangan udara menyasar kamp militer dan lokasi strategis.

Apapun motif dan alasan perang, dunia sedang tidak baik-baik saja. Perang di Iran menambah deretan konflik berdarah seperti Rusia vs Ukraina, Israel vs Hamas, Amerika vs Venezuala, Afganistan vs Pakistan, ataupun konflik di Afrika. Perang cenderung dilihat sebagai solusi untuk menyelesaikan sengketa. Si vis pacem, para bellum, jika kamu menginginkan perdamaian, bersiaplah untuk perang.

Dunia menunggu tanggapan Iran pasca kematian Khamenei. Apakah Iran dipicu dendam membara akan meningkatkan eskalasi serangan kepada AS-Israel? Pertanyaan sangat terkait suksesi kepemimpinan dan kemungkinan reorientasi sistem pemerintahan di Iran. Pasca kematian Khamenei, tampuk kepemimpinan Iran dijalankan secara kolektif oleh Dewan Keamanan Nasional Iran. Jika pilihan ini terus diambil, maka Iran akan memilih perang melawan AS-Israel.

Tetapi ada pilihan lain yakni meninggalkan skema negara teokrasi, dan kembali pada negara sekular. Artinya Iran menyetujui salah satu kehendak AS-Israel agar meninggalkan Republik Islam. Pilihan ini memberi kemungkinan fleksibilitas ruang komunikasi dan dialog dengan AS-Israel.

Saat ini, masyarakat Iran terbagi atas dua kubu, yakni pendukung Khamenei dan pemerintahannya, serta kaum progresif yang menginginkan perubahan rezim. Sebelum serangan AS-Israel, Iran diguncang demonstrasi besar-besaran di awal tahun 2026 karena kombinasi krisis ekonomi akut dan ketidakpuasan politik terhadap pemerintah. Polarisasi sosial di antara masyarakat Iran akan mengurangi soliditas sipil melawan AS-Israel.

Apapun dinamika perang, namun perang AS-Israel vs Iran mencemaskan dunia. Iran menguasai Selat Ormuz yang terletak antara Teluk Persia dan Laut Oman, sebagai salah satu jalur laut paling penting di dunia, dengan sekitar 20 persen produksi minyak global melintasinya.

Para pakar telah memperingatkan, jika Iran menutup Selat Hormuz, maka pasokan minyak global akan terdampak, yang dapat menyebabkan kenaikan harga minyak dunia. Selat Hormuz memiliki peran vital dalam perdagangan global sehingga blokade Iran dapat mengguncang ekonomi dunia saat ini.

Maka sambil turut aktif membangun diplomasi politik untuk meredakan ketegangan AS-Iran, Indonesia harus menyiapkan strategi ekonomi untuk menghadapi potensi krisis ekonomi dunia dan dampaknya bagi Indonesia.

Kita harus mengambil hikmah: Perang AS-Israel melawan Iran menjadi bukti bahwa kemajuan teknologi tidak dibarengi moralitas akan berujung pada kehancuran, kerusakan, dan kemelaratan. Karena itu kita berharap negara-negara yang berperang dapat menahan diri dan segera menggunakan pendekatan dialogis dalam menuntaskan sengketa.

Nasihat almarhum Paus Fransiskus kembali relevan: “Jangan lupa satu hal ini, peperangan adalah sebuah kekalahan. Permusuhan di antara kita adalah sebuah kekalahan untuk kita.”

Salam Redaksi IndonesiaSatu.co

Komentar