Breaking News
  • Defisit Lebih Rendah Dari Proyeksi APBN-P 2017
  • Menkeu: investasi tumbuh karena kepercayaan pelaku usaha
  • Penerimaan Bea Cukai hingga November Rp130,1 triliun
  • Presiden Jokowi setuju pendiri HMI jadi Pahlawan Nasional

WAWANCARA Butet: Saya dan Mas Owi Utusan Indonesia 11 Sep 2017 13:37

Article image
CEO HSC Komjen Pol (Purn) Gories Mere dan Chairman PT Veritas Dharma Satya (VDS) Valens Daki-Soo mendampingi Lilyana Natsir meniup lilin kue ulang tahun. (Foto: Redem)
Owi-Butet dinilai telah membanggakan dan mengharumkan nama Indonesia di kancah dunia atas capaian prestasi di kancah internasional.

HENDROPRIYONO Strategic Consulting (HSC) memberikan penghargaan kepada  pasangan juara dunia badminton ganda campuran asal Indonesia Tantowi Ahmad-Liliyana Natsir. Penghargaan tahunan HSC itu diserahkan kepada pasangan yang akrab disapa Owi-Butet oleh Chief Executive Officer HSC yang juga Staf Khusus Presiden Komjen Pol (Purn) Gories Mere di Yellowfin Restaurant, Jl Senopati No. 42, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Minggu (10/9/2017).

Tampak hadir dalam acara tersebut Dewan Penasihat PBSI Prof Hamid Awaludin, mantan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Irjen Pol (Purn) Ansyaad Mbai, Kapolresta Depok Kombes Pol Herry Heryawan, pakar hukum Prof Indrianto Seno Aji, dan pengamat militer yang juga pemilik PT Veritas Dharma Satya (VDS) Valens Daki-Soo.

Hadir pula pebulutangkis nasional seperti Kevin Sanjaya, Muhammad Ahsan, dan Ryan Saputra. Acara tersebut diwarnai kehadiran mantan bintang legendaris bulutangkis dunia Liem Swie King dan nama-nama besar lainnya yang pernah berjaya di arena bulutangkis dunia yakni Ade Chandra, Lius Pongoh, Ivana Lie, Alan Budikusuma dan Edy Hartono.

Owi-Butet dinilai telah membanggakan dan mengharumkan nama Indonesia di kancah global atas capaian prestasi di arena bulutangis dunia.

Pasangan ini telah mengembalikan tradisi medali emas Olimpiade untuk Indonesia pada 2016 di Brazil. Kemenangan Butet/Owi ini sekaligus menjadi kado manis untuk Indonesia bertepatan dengan HUT kemerdekaan ke-71 tahun 2016.

Pada Juni 2017, keduanya merebut gelar juara Indonesia Open 2017. Raihan tersebut ini juga sekaligus mengakhiri dahaga gelar juara ganda campuran Tanah Air yang tercatat sudah tidak pernah juara selama 12 tahun. Terakhir, Indonesia meraih gelar juara di nomor ganda campuran pada 2005 silam.

Butet tercatat sebagai satu dari dua pemain Indonesia yang berhasil meraih gelar juara dunia sebanyak 3 kali, selain Hendra Setiawan. Bersama Owi, keduanya meraih tiga kali juara berturut-turut alias hattrick Juara All England 2012, 2013, dan 2014.

Wartawan IndonesiaSatu.co Redem Kono (RK) mendapat kesempatan melakukan wawancara singkat dengan Liliyana alias Butet (LN) seusai menerima penghargaan dari HSC.

RK: Lilyana, pertama-tama kami dari media IndonesiaSatu.co mengucapkan profisiat atas kesuksesan-kesuksesan yang diraih bersama Tantowi. Apa komentar Anda terhadap pencapaian prestasi, termasuk menjadi juara dunia ganda campuran baru-baru ini?

LN: Saya bersyukur kepada Tuhan Yesus dan Bunda Maria yang selalu memberikan saya prestasi-prestasi ini. Apa yang saya capai bersama Mas Owi ini tentu tidak terlepas dari dukungan keluarga, pelatih, pihak Djarum, dan pemerintah. Penghargaan yang kami terima hari ini (penghargaan dari  HSC, Red) jadi bukti banyaknya dukungan itu. Kami ucapkan terima kasih.

RK: Setelah meraih juara dunia ganda campuran 2017, pecinta bulu tangkis dan rakyat Indonesia sepertinya terus menantikan prestasi dan kejutan dari Anda. Apa target selanjutnya?

LN: (tertawa) Kini kami mengalihkan fokus pada Asian Games 2018, apalagi Indonesia menjadi tuan rumah. Selalu ada semangat dan motivasi yang berbeda kalau kita menjadi juara di negeri sendiri. Mudah-mudahan kita dikasi penampilan yang terus meningkat, kelancaran, juga mempertahankan performa hingga Asian Games 2018. Kami minta dukungan semangat dan doanya.

RK: Mungkin diceritakan kunci dari kesehatan dan kebugaran dari Anda hingga kini. Baru-baru ini Anda dikabarkan belum sepenuhnya nyaman dengan cedera lutut Anda. Tetapi bersama mas Owi, Anda tetap menjadi juara dunia.

LN:  Memang saat pertandingan baru-baru ini, kaki saya masih agak nyeri. Soal cedera sempat kepikiran, tetapi karena sudah di lapangan, saya memikirkan bagaimana caranya mengeluarkan strategi dan kemampuan saya. Terkadang, saat ada bola-bola jauh, saya masih merasakan sakit. Meski demikian, saya tetap harus fokus ke permainan. Kami sempat berdiskusi dengan Owi dan pelatih, agar bola-bola jauh dan smash oleh Owi. Saya terbantu oleh itu. Namun, saya selalu berdoa untuk diberi kesehatan. Doa selalu berikan kekuatan sehat dan bugar.  

RK: Sebagaimana dikatakan Pak Hamid Awaludin, bersama mas Owi, Anda berdua adalah “pasangan Pancasila,” berbeda keyakinan agama, tetapi menuai banyak prestasi. Komentar Anda?

LN: Saya sangat setuju. Bersama mas Owi kami boleh berbeda, tetapi di lapangan kami adalah utusan dari Indonesia. Dan itu buat kami bangga.

RK:  Setelah banyaknya prestasi, apakah Anda pernah berpikir “sudah saatnya pensiun atau gantung raket?

LN: Sampai saat ini, rencana saya adalah sampai Asian Games. Setelah itu saya akan mencoba untuk melanjutkan hidup di luar bulutangkis. Namun, tentu saja ini bukan keputusan terakhir, karena tidak ada yang bisa memperkirakan masa depan. Kita lihat saja nanti apa yang terjadi pada masa mendatang. Tetapi saya sadar, akan tiba saatnya, ketika saya dan Owi harus berpisah. Saya juga pernah mengalami ketika berpisah dengan Nova Widianto dan akhirnya dipasangkan dengan Owi. Regenerasi di dunia bulutangkis harus saya alami dan terima.

RK: Kemarin ulang tahun Anda yang ke-31. Kalau boleh tahu, apa harapan dan rencana Anda setahun ke depan?  

LN: Di ulang tahun ini saya punya keinginan untuk membangun rumah sendiri. Saya sebenarnya sudah mendapat hadiah rumah. Tetapi, itu sudah berupa rumah jadi. Saya ingin membangun rumah dari bentuk tanah dengan desain sesuai keinginan saya. Rencananya, saya ingin punya ruangan khusus untuk menyimpan medali dan penghargaan yang saya dapat selama menjadi pebulu tangkis. Pastinya butuh waktu lama untuk membangun rumah seusai keinginan. Saat ini, prosesnya sudah mulai dilakukan. Untuk lokasi rumah, saya pilih Jakarta atau Serpong.

--- Redem Kono

Komentar