Breaking News
  • BI Sudah Habiskan Rp 11 T untuk Kuatkan Rupiah
  • Gempa 7,8 SR Guncang Fiji
  • Kemensos: Bansos Saja Tak Cukup Tangani Kemiskinan
  • Resmi! Pendaftaran CPNS 2018 Dibuka 19 September
  • Wadahi Mahasiswa yang Suka Piknik, Kemenpar Resmikan GenPI UBM

TEROPONG Mengapa Jokowi Memilih Ma’ruf Amien? 10 Aug 2018 14:43

Article image
Pasangan Capres-Cawapres 2019-2024 Jokowi-Ma'ruf Amin. (Foto: Ist)
Kalau dikalkulasi, lebih dari 100 juta pemilih dari (180 juta pemilih nasional-KPU) berdiam di Pulau Jawa atau 60 lebih persen pemilih terpusat di Jawa. Memenangkan pemilih Jawa berarti memenangkan Pilpres 2019!

Oleh Redem Kono

 

ADA yang mengatakan untuk menetralisir fitnah-fitnah yang ditujukan selama ini ke Joko Widodo (Jokowi). Ada pula yang membacanya sebagai cara Jokowi mempertahankan soliditas partai-partai koalisi pendukungnya.

Namun, saya punya pendapat yang lain. Bahwa Jokowi pada saat-saat terakhir (yang membuatnya memilih Ma’ruf Amin) memiliki perhitungan tersendiri tentang cara memenangkan pertarungan di Pilpres atau dengan kata lain menemukan cara memenangi pertarungan Pilpres 2019.

Koalisi dengan “ciri nasionalis-religius” (umaro-ulama), bagi saya, sudah terprediksi sejak pelaksanaan Pilkada Serentak 2018. Terutama di tiga basis pemilih terbesar di Pulau Jawa dengan daftar pemilih terbesar: Pilkada Jawa Barat (31.708.330), Jawa Tengah (27.348.878), dan Jawa Timur (30.385.739). Akan lebih lengkap lagi bila ditambah Banten (4.275.415), DKI Jakarta (DKI Jakarta: 7.230.130), dan DI Yogyakarta (2.726.359). Kalau dikalkulasi, lebih dari 100 juta pemilih (dari total 180 juta pemilih nasional-KPU) berdiam di Pulau Jawa atau 60 lebih persen pemilu terpusat di Jawa. Memenangkan pemilih Jawa berarti memenangkan Pilpres 2019!

Pilkada Jabar dimenangi Ridwan Kamil-UU Ruzhanul Ulum Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum (Partai pengusung: Partai Nasdem, PKB, PPP, dan Partai Hanura Perolehan suara: 7.226.254 suara: 32,88 persen),  Tubagus Hasanudin-Anton Charliyan (Partai pengusung: PDI-P Perolehan suara: 2.773.078 suara: 12,62 persen, Sudrajat-Ahmad Syaikhu (Partai pengusung: PKS dan Partai Gerindra, Perolehan suara: 6.317.465 suara: 28,74 persen), Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi (Partai pengusung: Partai Golkar dan Partai Demokrat Perolehan suara: 5.663.198 suara: 25,77 persen).

Menarik bahwa Jawa Barat yang menjadi basis PKS kalah dalam pemilihan Pilgub Jabar 2018. Mengapa? Karena suara militan PKS “dirampas setengahnya” oleh suara Deddy Mizwar, yang notabene cukup dekat dengan irisan pemilih militan PKS. Sedangkan Ridwan Kamil-UU memenangi para pemilih rasional, generasi milenial, dan pemilih Nahdlatul Ulama (NU) yang tergabung dalam PKB dan PPP. PDIP meskipun berada di bawah urutan paling buncit mampu menjaga pemilih tradisionalnya untuk pileg dan Pilpres 2019.

Menarik bahwa Ridwan Kamil-Uu, Dedy Mulyadi, dan Tubagus-Anton (dan partai-partai pendukung) telah mendeklarasikan dukungannya kepada Jokowi pada Pilpres 2019. Khusus Dedy Mulyadi memiliki pengikut militan (di Karawang, Subang, Purwakarta) sebesar 15 % dari perolehan suara yang dimilikinya bersama Deddy Mizwar (dari 25,77 persen). Maka potensi pemilih ke Jabar ke Jokowi sebesar 55 persen, jika ditotal dari dukungan ketiganya, berbanding 45 persen pendukung Prabowo yang diwakili Sudrajat-Syaikhu, ditambah irisan pemilih Deddy Mizwar.

Kasus berbeda terjadi di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kombinasi nasionalis-religius terpantau pada pertarungan sengit antara Ganjar Pranowo-Taj Yasin (PDIP, Golkar, PPP, Nasdem, Demokrat) dan Sudirman Said-Ida Fauziah di Jawa Tengah (Gerindra, PKS, PKB, PAN). Lebih sengit lagi duel panas antara Gus Ipul-Puti Guntur (PKB, PDIP, Gerindra, PKS, PAN) berhadapan dengan Khofifah Indar Parawansa-Emil Dardak (Golkar, Demokrat, Nasdem, PAN, PPP).

Meskipun keduanya merupakan kombinasi nasionalis religius, tetapi ceruk pengumpulan suara memperlihatkan pertarungan antara “NU Kultural” dan “NU Struktural”. NU struktural (berada di kepengurusan NU) diidentifikasi dengan PKB, sedangkan NU kultural diidentifikasi dengan loyalis Gus Dur yang terdepak dari persaingan antara Gus Dur (yang kalah) dan Muhaimin Iskandar di PKB. Pada Pilkada Jateng dan Jatim, suara NU struktural diarahkan ke Ida Fauziah dan Gus Ipul. Sedangkan Khofifah yang terkenal sebagai loyalis Gus Dur (Ketua PP Muslimat NU) dan Taj Yasin mendapat limpahan pendukung Gusdurian.

Dalam persaingan itulah Ganjar Pranowo-Taj Yasin Maimoen memperoleh suara: 10.362.694 suara (58,78 persen) dan Sudirman Said-Ida Fauziah memperoleh suara: 7.267.993 suara (41,22 persen). Sedangkan untuk Pilkada Jawa Timur: Khofifah Indar Parawansa-Emil Elistianto Dardak memperoleh 10.465.218 suara (53,55 persen) dan Saifullah Yusuf-Puti Guntur Soekarno meraup suara: 9.076.014 suara (46,45 persen).

Dari kalkulasi ini, maka saya bisa mengerti alasan Jokowi memilih Ma’ruf Amin. Tidak diterimanya Mahfud MD yang dikenal sebagai loyalis Gus Dur oleh PKB dan PBNU membuat ceruk suara Jokowi dapat terancam. Artinya, ada kemungkinan PKB yang teridentifikasi dengan NU Struktural dapat keluar dari Jokowi. Maka, ia memilih Ma’ruf Amin (bukan Cak Imin) yang relatif dapat diterima oleh PPP, PKB, dan pengikut Gusdurian. Diketahui bahwa Mahfud MD setelah tidak dipilih Jokowi legawa menerima keputusan tersebut. 

Alasan Jokowi tidak takut kehilangan pemilih loyalis Gusdurian adalah dukungan tegas dari Khofifah dan Taj Yasin kepadanya, ditambah dari loyalis Soekarwo, petahana Gubernur Jatim yang akan digantikan. Soekarwo, yang meskipun sebagai loyalis partai Demokrat, telah menyatakan dukungannya kepada Jokowi pada Pilpres 2019. Pemilih nasionalis Soekarwo yang telah dipelihara Emil Dardak akan berusaha dialihkan ke Jokowi, melalui dukungan Dardak-Soekarwo.

Bersatunya NU struktural-NU kultural ditambah basis "merah" PDIP di Jateng dan dukungan Soekarwo-Dardak dimaksudkan untuk menahan gempuran Prabowo-Sandiaga ke Jawa Tengah dan Jawa Timur. 

Sementara itu, dengan memilih Ma’ruf Amin Jokowi berusaha mengalahkan Prabowo di Banten, mengingat asal Ketua MUI tersebut. Jokowi diketahui kalah pada Pilpres 2014 di Banten. Maka Jokowi didukung partai Golkar yang merupakan partai tradisional di Banten berusaha memenangkan pertarungan tersebut.

Bagaimana di DKI Jakarta? Jokowi harus menjelaskan secara rasional alasan pemilihan Ma’ruf Amin, yang notabene dihadap-hadapkan dengan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) pada Pilgub DKI 2017. Tetapi menurut saya, cara agar Ahok diterima lagi untuk berbakti kepada Negara adalah dengan cara “berdamai” dengan para lawan-lawannya. Jika Jokowi menang Pilpres 2019, Ahok kemungkinan besar tidak mendapatkan perlawanan dari kalangan konservatif untuk berbakti kembali kepada Negara. Karena mereka sudah dirangkul dengan cara Jokowi sendiri.

Jokowi tahu bahwa ia akan lebih memastikan kemenangannya di Indonesia Timur, di mana hampir semua tokoh atau pimpinan daerah Provinsi terpilih telah menyatakan dukungan kepadanya. Harus diakui bahwa pembangunan massif Jokowi di Indonesia Timur membuat para mayoritas pemilih akan mendukung Jokowi, siapapun wakilnya. Sebanyak 20 persen dari perolehan suara nasional di Indonesia Timur akan mengunci kemenangan Jokowi, bila di Sumatra dan Kalimantan persebaran pendukung Jokowi-Prabowo cenderung merata.

Jokowi mungkin belajar dari Pilgub DKI 2017, bahwa idealisme politik tidak serta merta harus berbanding lurus dengan realitas politik. Dalam ajaran politiknya Machiavelli, kelicikan politik harus dilawan dengan kelicikan pula. Pertarungan kekuasaan adalah seharusnya pertarungan gagasan. Namun, kalau tanpa meraih kekuasaan (kemenangan), bagaimana gagasan itu dapat diterapkan?

Komentar