Breaking News

INTERNASIONAL Kunjungi Prancis, Paus Leo XIV Peringatkan bahwa AI dapat Merusak Kemanusiaan 26 Sep 2026 10:19

Article image
Paus Leo menaiki pesawat kepausan di Bandara Fiumicino, Roma, untuk memulai perjalanan apostoliknya ke Prancis. (Foto: Vatican News))
Ribuan orang berkumpul di Paris saat Paus memperingatkan tentang 'surga mesin' di Istana Elysee.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co -- Paus Leo XIV memperingatkan bahwa kecerdasan buatan, yang ia sebut sebagai "surga mesin", dan teknologi baru lainnya dapat merusak kemanusiaan dengan mengajukan pertanyaan mendasar tentang apa artinya menjadi manusia.

Diberitakan Al-Jazeera, ribuan orang berkumpul untuk menyambut Paus di Prancis pada hari Jumat (25/9/2026), tak lama setelah ia mengangkat pertanyaan-pertanyaan eksistensial tentang kemajuan teknologi dan hak asasi manusia selama pidato pembukaannya kepada Presiden Emmanuel Macron dan para pejabat di Istana Elysee dan kemudian kepada para diplomat dan karyawan PBB di markas besar UNESCO, organisasi kebudayaan dan pendidikan PBB.

“Jika kita ingin menghindari kehilangan kemanusiaan kita di tengah surga mesin yang menyerbu dan mengatur kehidupan kita sehari-hari, ada kebutuhan mendesak akan pendidikan dalam kearifan etis,” kata Paus Leo di samping Macron.

Kemajuan ilmiah seharusnya tidak berubah menjadi "usaha yang berorientasi pada keuntungan yang mempromosikan manipulasi genetik, ibu pengganti, perdagangan organ manusia, atau kemungkinan mengatur kematian sendiri," kata Paus, beberapa bulan setelah Prancis mengesahkan UU penting yang melegalkan euthanasia.

Ia menegaskan kembali penentangan Vatikan terhadap senjata nuklir, menyatakan bahwa doktrin pencegahan nuklir adalah "keliru" karena justru memicu perlombaan senjata baru.

Sejak awal masa kepausannya, Paus telah megidentifikasi AI sebagai salah satu tantangan terbesar yang dihadapi umat manusia saat ini, dan mendedikasikan ensiklik pertamanya untuk topik tersebut, menyerukan regulasi yang signifikan dan agar para pengembang bekerja untuk kebaikan bersama.

“Paradoks ini semakin terlihat jelas: sementara 'kecerdasan' dikaitkan dengan sistem komputasi, kita kesulitan untuk mengakui martabat manusia yang tak terpisahkan, yang hidupnya dinilai berdasarkan kriteria efisiensi dan, ketika dianggap tidak lagi produktif, ditolak dan dibuang,” katanya.

Sebelumnya, Paus telah mengatakan kepada wartawan bahwa ia senang pesannya didengar oleh para pengembang AI dan berharap dialog akan terus berlanjut antara perusahaan teknologi dan Vatikan.

“Dan saya pikir dari sudut pandang mereka, banyak dari mereka sangat terbuka untuk mencari cara memastikan bahwa AI tidak menggantikan atau pada akhirnya menghancurkan umat manusia, melainkan menjadi alat bagi umat manusia,” katanya.

Kunjungan Paus selama empat hari ini menandai kunjungan resmi kepausan pertama ke Prancis dalam 18 tahun. Meskipun sekularisme diabadikan dalam konstitusi negara tersebut, Paus menekankan bahwa "sekularitas sejati" tidak boleh mengecualikan agama "dari ruang publik atau dari pendidikan".

Ribuan umat bersorak menyambut Leo pada hari Jumat ketika ia maju untuk berdoa dan menyebut mereka yang berkumpul di sebuah stadion dekat Paris sebagai "orang-orang suci Prancis". Sebelumnya pada siang hari, Paus melintasi pusat kota Paris dengan mobil kepausannya.

Vatikan memperkirakan sekitar 300.000 orang datang untuk melihat Paus pada hari Jumat (25/9/2026) waktu setempat. ***

 

--- Simon Leya

Komentar