REFLEKSI Apapun Keadaan, Kuncinya di Tangan Kita 17 Oct 2026 11:36
Situasi di luar sering terjadi di luar harapan dan kendali kita. Kita tidak bisa mengatur kapan badai ekonomi datang, kapan harga naik, atau kapan ombak kehidupan menghantam. Tetapi satu hal yang mutlak berada dalam kendali kita adalah cara kita bersikap
Oleh: Valens Daki-Soo*
Saya sadar, tidak mudah berbagi semangat dalam situasi seperti sekarang, ketika ekonomi terasa sangat sulit bagi banyak orang. Harga-harga naik, pekerjaan tidak mudah, dan harapan kadang terasa menipis.
Namun, membiarkan jiwa layu dan semangat lesu bukanlah sikap yang positif. Justru di saat seperti inilah kita perlu saling menguatkan.
Teringat saya akan masa kecil, ketika harus berlibur ke kampung leluhur di Tonggo dan Maunori -- dua kampung kecil yang indah di pesisir selatan Nagekeo, Flores. Saat itu belum ada jalan yang bisa dilintasi kendaraan seperti sekarang.
Untuk mencapainya, saya mesti berjalan kaki sekian jauh menyusuri pantai. Bentangan pasirnya lembut dan indah. Saya terbiasa berjalan kaki tanpa sandal. Langkah terasa lebih ringan dan enak, merasakan sensasi butiran pasir yang halus dan deburan ombak yang menjilat bibir pantai.
Belakangan saya tahu, dalam ilmu kesehatan, berjalan tanpa alas kaki di atas pasir atau tanah — yang disebut grounding atau earthing — memang menyehatkan. Ia mengembalikan keseimbangan energi tubuh.
Namun, tidak selamanya pasir itu ramah. Kadang, di tengah terik matahari, pasir yang tadinya lembut berubah menjadi bara. Telapak kaki terasa menyengat, panasnya menusuk. Saat itu saya tidak bisa lagi berjalan santai. Saya harus lari dan terus berlari, secepat mungkin, agar telapak kaki tidak melepuh. Saya mesti cepat keluar dari situasi itu.
Hidup Seperti Menyusuri Pantai
Demikian pula hidup ini.
Ada saatnya kita berjalan santai, menikmati desir angin pantai yang segar membelai wajah. Semua terasa ringan, rezeki mengalir, pekerjaan lancar. Kita menikmati pemandangan.
Namun ada kalanya pasir kehidupan berubah menjadi panas membakar. Ekonomi sulit, usaha seret, tagihan datang bertubi-tubi. Pada saat seperti itu, kita tidak bisa lagi berjalan dengan gaya yang sama. Kita mesti bergegas lebih cepat agar "kaki tidak melepuh".
Ketika situasi sulit menerjang — dan ini tak terhindarkan, akan selalu ada musim sulit dalam hidup siapa pun — itulah momentum kita untuk "mengambil langkah" dengan jiwa berani.
Jika situasi ekonomi menjadi sulit dan kita terbiasa hidup boros, inilah saatnya untuk berhemat, melakukan pengetatan finansial. Jika satu pintu tertutup, inilah saatnya mencari kerja tambahan untuk mendapat extra income.
Mengeluh tentang panasnya pasir tidak akan membuat kaki kita dingin. Hanya dengan bergeraklah kita selamat.
Kuncinya: Cara Kita Bersikap
Filsuf Stoik, Epictetus, 2000 tahun lalu sudah mengingatkan kita dengan sangat jernih. Dalam "Enchiridion"-nya dia berkata, "Bukan kejadian di luar yang mengganggu manusia, melainkan penilaiannya tentang kejadian itu."
Situasi di luar sering terjadi di luar harapan dan kendali kita. Kita tidak bisa mengatur kapan badai ekonomi datang, kapan harga naik, atau kapan ombak kehidupan menghantam. Tetapi satu hal yang mutlak berada dalam kendali kita adalah cara kita bersikap.
Ini yang oleh filsuf Stoik, Marcus Aurelius, disebut sebagai benteng terakhir kebebasan manusia. Dunia boleh kacau, tetapi batin kita tetap bisa kita jaga untuk tetap teguh dan jernih.
Dalam psikologi modern, hal ini dikenal dengan konsep locus of control yang diperkenalkan psikolog Julian Rotter. Orang dengan internal locus of control percaya bahwa kuncinya ada di tangan mereka sendiri. Mereka tidak sibuk menyalahkan keadaan, melainkan bertanya, "Apa yang bisa saya lakukan sekarang dengan apa yang saya punya?"
Viktor Frankl, psikiater Austria yang selamat dari kamp konsentrasi Nazi, bahkan menulis, "Ketika kita tidak lagi mampu mengubah keadaan, kita ditantang untuk mengubah diri kita sendiri." Kekuatan untuk memilih sikap adalah kebebasan terakhir yang tidak bisa dirampas dari manusia.
Karena itu, semoga kita bisa belajar menjadi seperti rajawali. Rajawali tidak menghindari badai. Ia justru menggunakan angin badai itu untuk terbang lebih tinggi, melampaui awan gelap.
Atau, kalaupun kita mesti melintasi badai itu -- dengan kaki telanjang di atas pasir yang panas -- teruslah melangkah dengan gagah berani, dengan iman dan harapan yang pasti.
Sebab apapun keadaannya, kuncinya tetap di tangan kita.
*) Penulis adalah entrepreneur; peminat filsafat dan psikologi; Pendiri & CEO VDS Group (PT Veritas Dharma Satya, PT Veritas Media Bangsa, Firma Hukum "Veritas Dignitas Salus")
Komentar