Breaking News

REFLEKSI Era Medsos: Anda adalah Apa yang Anda Katakan (Tulis dan Bicara) 28 Oct 2026 11:37

Article image
Valens Daki-Soo, pengusaha, Pendiri & CEO VDS Group (Foto: Ist)
Sebagian pengguna medsos membuat konten provokatif demi memperoleh penonton, komentar, dan popularitas. Kontroversi dianggap sebagai jalan pintas menuju ketenaran. Padahal, popularitas tidak selalu sejalan dengan kehormatan.

Oleh: Valens Daki-Soo*

 

Di era media sosial (medsos) ini, kata-kata dapat menjadi jembatan yang menghubungkan manusia, tetapi sekaligus bisa menjadi senjata yang melukai, merendahkan, bahkan menghancurkan kehormatan sesama.

Oleh karena itu, setiap orang perlu menyadari bahwa apa yang ditulis dan diucapkan di ruang digital bukan sekadar ekspresi spontan, melainkan juga cerminan karakter, kepribadian, dan kualitas moral dirinya.

Belakangan ini, kalangan masyarakat Nagekeo dan Ngada (NTT) bereaksi keras terhadap sebuah video di TikTok di mana seorang anak muda bernama Hans Mawo mencaci-maki warga Nagekeo dan melecehkan para perempuan dari daerah tersebut. Kasus ini sudah dilaporkan ke kepolisian setempat.

Terlepas dari apa yang melatarbelakangi peristiwa tersebut, penghinaan terhadap suatu kelompok masyarakat dan pelecehan terhadap perempuan merupakan tindakan melanggar etika dan hukum. 

Kata-Kata Mencerminkan Siapa Diri Kita 

Filsuf Prancis, René Descartes, terkenal dengan ungkapannya, “Cogito, ergo sum” -- “Aku berpikir, maka aku ada.” Ungkapan ini menegaskan pentingnya kesadaran berpikir dalam memahami keberadaan manusia.

Dalam konteks kehidupan digital, saya 'modifikasi' ungkapan tersebut menjadi: “Aku menulis dan berbicara, maka aku menunjukkan siapa diriku.” Atau: “Aku adalah apa yang aku katakan."

Tentu saja, identitas manusia tidak bisa dinilai hanya dari satu kalimat atau satu kesalahan. Setiap orang memiliki kesempatan untuk belajar, memperbaiki diri, dan berubah. Namun, cara seseorang berbicara, memilih kata, menyampaikan kritik, serta memperlakukan orang lain dapat memberikan gambaran tentang nilai-nilai yang dipegangnya.

Kata-kata yang santun tidak selalu berarti seseorang setuju dengan semua orang. Sebaliknya, orang yang berkarakter kuat justru mampu menyampaikan ketidaksetujuan secara tegas tanpa merendahkan martabat pihak lain.

Filsuf Stoik, Epictetus, mengajarkan pentingnya mengendalikan respons terhadap berbagai peristiwa. Kita mungkin tidak selalu mampu mengendalikan tindakan orang lain, tetapi kita dapat belajar mengendalikan pikiran, emosi, dan respons kita sendiri.

Pesan ini relevan di tengah budaya bermedia sosial yang serba cepat. Ketika tersinggung, marah, atau merasa dipermalukan, seseorang bisa terdorong menulis komentar kasar tanpa mempertimbangkan akibatnya. Padahal, kemampuan menahan diri sebelum berbicara merupakan bagian penting dari kedewasaan.

Jempol Juga Membutuhkan Etika 

Media sosial memberikan kebebasan yang luas kepada masyarakat untuk menyampaikan pendapat, berbagi informasi, mengkritik kebijakan, dan mengungkapkan pengalaman. Namun, kebebasan berekspresi tidak berarti kebebasan tanpa tanggung jawab.

Dalam komunikasi, pesan tidak hanya dinilai berdasarkan apa yang ingin disampaikan oleh pembicara, tetapi juga bagaimana pesan itu diterima oleh orang lain dan apa dampak yang ditimbulkannya.

Kata-kata yang dianggap sekadar lelucon oleh pengirimnya bisa menjadi penghinaan bagi orang yang menjadi sasaran, terutama jika menyangkut identitas daerah, martabat keluarga, atau kehormatan perempuan.

Psikolog Daniel Goleman, melalui konsep kecerdasan emosional, menekankan pentingnya kesadaran diri dan pengendalian emosi dalam hubungan antarmanusia.

Dalam konteks medsos, kecerdasan emosional berarti kita tidak membiarkan kemarahan sesaat mengambil alih peran akal sehat.

Sebelum mengunggah sesuatu, ada baiknya kita bertanya diri: Apakah tulisan ini benar, baik dan bijak? Apakah kata-kata saya perlu disampaikan dengan cara seperti ini? Apakah saya sedang mengkritik suatu tindakan atau justru menyerang martabat seseorang? Apakah unggahan ini membawa manfaat atau hanya memperbesar permusuhan?

Pertanyaan sederhana tersebut dapat menjadi rem bagi jempol yang terlalu cepat bergerak. Kita juga perlu memahami bahwa jejak digital tidak selalu mudah dihapus. Unggahan yang dibuat dalam beberapa detik dapat disimpan, disebarkan, dan dibicarakan orang lain dalam waktu yang panjang. 

Permintaan maaf mungkin dapat memperbaiki keadaan, tetapi tidak selalu mampu menghapus seluruh dampak yang telah ditimbulkan.

Jangan Mengorbankan Martabat Demi Sensasi

Di tengah persaingan mendapatkan perhatian, sebagian pengguna medsos tergoda membuat konten provokatif demi memperoleh penonton, komentar, dan popularitas. Kontroversi dianggap sebagai jalan pintas menuju ketenaran. Padahal, popularitas tidak selalu sejalan dengan kehormatan.

Kita perlu membedakan keberanian berbicara dengan keberanian menghina. Kritik yang tajam dapat menjadi sumbangan bagi perbaikan masyarakat apabila didasarkan pada fakta, disampaikan dengan argumentasi, dan diarahkan pada persoalan yang memang perlu diperbaiki.

Sebaliknya, makian dan pelecehan hanya mengalihkan perhatian dari substansi persoalan menuju konflik pribadi atau kelompok.

Menghina orang lain tidak akan membuat seseorang terlihat hebat, malah jadi tampak rendah dan tak berharga. Melecehkan sesama, terutama kaum perempuan, justru mencerminkan tiadanya etika dan keadaban. 

Di era medsos ini, kita harus membangun budaya digital yang menghormati kejernihan berpikir, ketepatan informasi, keberanian bertanggung jawab, dan kemampuan menjaga martabat sesama.

Berpikirlah Sebelum Menulis atau Bicara

Medsos adalah ruang publik yang memperlihatkan sebagian dari diri kita kepada orang lain. 

Apa yang kita tulis, ucapkan, dan sebarkan ikut membentuk reputasi pribadi, lingkungan sosial, bahkan nama baik komunitas tempat kita berasal.

Oleh karena itu, mari membiasakan diri untuk berpikir sebelum berbicara, memeriksa sebelum membagikan informasi, dan mempertimbangkan akibat sebelum menulis komentar. 

Kita tidak boleh diam ketika melihat ketidakadilan. Kita juga tidak harus menyetujui semua pendapat orang lain. Namun, kita dapat bersikap tegas tanpa kehilangan kesantunan dan berbeda pendapat tanpa merendahkan kemanusiaan.

Bagi generasi muda, ruang digital seharusnya menjadi tempat mengembangkan gagasan, memperluas wawasan, membangun jejaring, dan menunjukkan potensi diri. Bukan panggung untuk mempertontonkan kemarahan atau merendahkan orang lain.

Setiap kali kita menulis atau berbicara, kita sedang memperkenalkan diri kepada dunia. Orang mungkin tidak mengenal seluruh perjalanan hidup kita, tetapi mereka dapat menilai cara kita memperlakukan sesama melalui kata-kata yang kita pilih.

Jadi, sebelum menekan tombol “kirim”, bertanyalah kepada diri sendiri: apakah kata-kata ini menunjukkan kualitas diri yang ingin saya perlihatkan kepada dunia?

Mari ingat ini. Bukan hanya wajah dan penampilan yang memperkenalkan siapa kita. Kata-kata pun berbicara tentang kualitas diri dan "isi" kepribadian kita. Sering kali, kata-kata itulah yang paling lama diingat orang.

 

*) Penulis adalah entrepreneur, peminat filsafat dan psikologi, Pendiri & CEO VDS Group (PT Veritas Dharma Satya, PT Veritas Media Bangsa, dan Firma Hukum Veritas Dignitas Salus/VDS Law Firm)

Komentar