Breaking News

REGIONAL Fenomena "Haze" Selimuti Langit Labuan Bajo, Begini Penjelasan BMKG 19 Oct 2026 22:16

Article image
BMKG menjelaskan fenomena "Haze" di langit Labuan Bajo, NTT. (Foto: Ist)
BMKG mengimbau masyarakat tetap tenang dan mengikuti informasi resmi yang disampaikan lembaga tersebut.

LABUAN BAJO, IndonesiaSatu.co-– Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Manggarai Barat menjelaskan udara kabur yang kembali terlihat di langit Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT), dalam beberapa hari terakhir merupakan fenomena haze.

Kepala BMKG Manggarai Barat, Maria Patricia Christin Seran, mengatakan partikel penyebab udara kabur dapat berasal dari debu, asap kendaraan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), hingga garam laut yang terbawa angin.

Meski demikian, indikasi keberadaan partikel di udara tidak serta-merta menunjukkan bahwa udara di Manggarai Barat tercemar akibat asap kebakaran. Saat ini, angin di wilayah NTT masih didominasi dari arah timur.

"Sementara pantauan satelit Himawari menunjukkan adanya titik panas di sejumlah wilayah NTT. Kondisi ini menjadi bagian dari pemantauan BMKG, tetapi belum cukup untuk memastikan sumber partikulat yang terindikasi di Manggarai Barat," kata Maria. 

Maria menjelaskan, berdasarkan pemodelan BMKG, konsentrasi PM2.5 di wilayah Manggarai Barat diperkirakan berada pada kisaran 10–30 µg/m?3;. Pemodelan lainnya menunjukkan nilai Aerosol Optical Depth (AOD) sebesar 0,1–0,3. Nilai tersebut mengindikasikan keberadaan aerosol di atmosfer sekaligus memberikan gambaran mengenai potensi sebarannya.

Menurut Maria, aerosol di wilayah NTT yang dikelilingi laut juga dapat berasal dari percikan air laut. Percikan tersebut menghasilkan partikel garam yang dapat terangkat ke atmosfer.

"Perlu dipahami bahwa informasi tersebut merupakan hasil pemodelan, bukan pengukuran langsung kualitas udara di Manggarai Barat," terangnya.

BMKG mengimbau masyarakat tetap tenang dan mengikuti informasi resmi yang disampaikan lembaga tersebut. Anak-anak, lansia, serta orang dengan penyakit pernapasan atau jantung diminta lebih berhati-hati, terutama jika mengalami gangguan pernapasan.

Masyarakat juga disarankan menyesuaikan aktivitas di luar ruangan dengan kondisi yang dirasakan.

--- Guche Montero

Komentar