Breaking News

REFLEKSI Iri dan Dengki Adalah Perusak Hati 29 Sep 2026 12:46

Article image
Valens Daki-Soo, entrepreneur, Pendiri & CEO VDS Group (Foto: Ist)
Orang yang iri sulit menikmati apa yang sudah dimilikinya karena matanya terus tertuju pada milik orang lain. Ia lupa menghitung berkat yang ada di tangannya karena sibuk menghitung kelebihan orang lain.

Oleh: Valens Daki-Soo*

Iri dan dengki adalah penyakit hati yang sering kali tidak terlihat dari luar, tetapi perlahan-lahan merusak kedamaian di dalam diri.

Ketika melihat orang lain berhasil, memperoleh rezeki, memiliki kehidupan yang lebih baik, atau mendapatkan penghargaan, hati yang dipenuhi iri tidak mampu ikut bersyukur. Keberhasilan orang lain justru terasa seperti kekalahan bagi diri sendiri.

Psikolog sosial Leon Festinger memperkenalkan Social Comparison Theory (1954), yang menjelaskan bahwa manusia secara alami cenderung membandingkan dirinya dengan orang lain.

Membandingkan diri dengan mereka yang dianggap lebih berhasil dapat memunculkan perasaan kurang dalam diri, meskipun dalam kondisi tertentu juga dapat menjadi sumber inspirasi.

Persoalannya bukan sekadar melihat keberhasilan orang lain, melainkan bagaimana hati kita meresponsnya.

Jika keberhasilan orang lain kita jadikan motivasi dan inspirasi, kita terdorong untuk belajar dan bekerja lebih baik. Tetapi jika keberhasilan itu melahirkan kebencian, keinginan menjatuhkan, atau berharap orang tersebut gagal, perbandingan berubah menjadi racun bagi diri sendiri.

Mudah Tumbuh di Era Medsos Ini

Di era media sosial ini, rasa iri dan dengki bahkan bisa tumbuh lebih mudah. Setiap hari kita disuguhi postingan orang-orang yang tampak serba hebat, sukses, kaya, bahagia, mesra, romantis, selalu bepergian, memiliki rumah dan kendaraan bagus, bahkan tampil semakin cantik, bening dan seolah tanpa cela.

Melihat semua itu terus-menerus dapat membuat seseorang tanpa sadar membandingkan hidupnya dengan kehidupan orang lain.
“Mengapa hidup saya tidak seperti dia?”
“Kenapa dia begitu sukses, sementara saya begini-begini saja?”

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu, jika terus dipelihara, dapat menjadi bibit iri dan rasa tidak puas terhadap kehidupan sendiri.

Padahal, media sosial bukanlah cermin utuh kehidupan seseorang. Yang ditampilkan biasanya adalah bagian yang ingin diperlihatkan kepada publik -- bukan seluruh cerita di baliknya.

Foto yang tampak sempurna bisa saja telah melalui kosmetik, pencahayaan, penyuntingan, filter digital, bahkan teknologi kecerdasan buatan (AI).

Kehidupan nyata tentu jauh lebih kompleks.

Di balik foto pasangan yang tampak romantis, mungkin ada persoalan yang tidak pernah dipublikasikan. Di balik wajah yang tampak sempurna, mungkin ada proses perawatan, tata rias, pencahayaan, filter, atau penyuntingan digital.

Di balik kesuksesan yang dipamerkan, mungkin ada perjuangan panjang, kegagalan, tekanan, dan air mata yang tidak pernah masuk ke dalam postingan.

Stop Bandingkan Diri dengan Orang Lain

Oleh karenanya, jangan membandingkan kehidupan nyata kita dengan “etalase” kehidupan orang lain di media sosial.

Psikolog sosial Susan Fiske menjelaskan, rasa iri terhadap orang yang dipandang lebih tinggi secara sosial dapat berkembang menjadi perasaan tidak suka dan mengganggu kemampuan kita untuk memandang orang lain secara positif.

Itulah sebabnya iri dan dengki bukan hanya merusak hubungan dengan orang lain. Lebih jauh, ia merusak diri sendiri.

Orang yang iri sulit menikmati apa yang sudah dimilikinya karena matanya terus tertuju pada milik orang lain. Ia lupa menghitung berkat yang ada di tangannya karena sibuk menghitung kelebihan orang lain.

Iri dan dengki juga memadamkan api cinta di dalam hati. Ketika hati dipenuhi keinginan agar orang lain jatuh, ruang untuk kasih, persaudaraan, dan kebahagiaan menjadi semakin sempit.

Padahal, rezeki orang lain bukanlah pencuri rezeki kita.

Keberhasilan orang lain tidak mengurangi nilai diri kita. Kebahagiaan orang lain tidak berarti kebahagiaan kita menjadi lebih sedikit.

Oleh karena itu, daripada iri, belajarlah mengagumi. Daripada dengki, belajarlah menginspirasi diri.

Ketimbang sibuk mencari kelemahan orang lain, lebih baik kita memperbaiki diri sendiri.

Belajarlah untuk selalu berkata dalam hati, “Jika dia bisa berhasil, saya pun harus berusaha menjadi lebih baik.”

Hati yang sehat bukan hati yang tidak pernah melihat kelebihan orang lain. Hati yang sehat adalah hati yang mampu melihat kelebihan orang lain tanpa kehilangan rasa syukur atas kehidupannya sendiri.

Kita tidak perlu menjadi lebih tinggi daripada orang lain untuk merasa berharga. Kita hanya perlu menjadi pribadi yang lebih baik daripada diri kita kemarin.

Jadi, buanglah iri. Lepaskan dengki. Rawatlah rasa syukur.
Sebab ketika hati terbebas dari iri dan dengki, kita memberi ruang bagi kedamaian, kasih, ketenangan batin, dan kebahagiaan sejati untuk tumbuh.

Hati yang bersih membuat hidup terasa lebih ringan, penuh sukacita dan damai.

*) Penulis adalah entrepreneur, peminat psikologi, Pendiri & CEO VDS Group (PT Veritas Dharma Satya, PT Veritas Media Bangsa, Firma Hukum "Veritas Dignitas Salus")

Komentar