REFLEKSI Jangan Asal Terlihat Kaya, Jaga Keuangan Anda! 19 Oct 2026 16:49
Kemiskinan sejati bukanlah semata soal angka di rekening, melainkan soal jiwa yang tidak pernah merasa cukup karena terus membandingkan diri dengan orang lain.
Oleh: Valens Daki-Soo*
Izinkan saya -- meski bukan pakar keuangan, bukan Certified Financial Planner -- berbagi pikiran tentang keharusan kita menjaga keamanan finansial, terutama dalam situasi ekonomi yang kurang bagus saat ini.
Sering kali orang lebih ingin "terlihat kaya" daripada benar-benar kaya -- dalam hal ini, kaya secara finansial dan material.
Padahal, tampak kaya di mata orang lain itu tidak penting sama sekali.
Yang jauh lebih penting adalah Anda benar-benar memiliki kondisi keuangan yang sehat.
Jebakan di Era Media Sosial
Media sosial membuat kita terbiasa melihat orang memamerkan mobil bagus, ponsel terbaru, liburan mewah ke luar negeri, atau barang-barang bermerek. Semua tampil begitu sempurna di layar.
Tanpa sadar, banyak orang akhirnya berlomba mengejar citra, bukan menjaga kestabilan finansial. Demi terlihat kaya, dompet dikuras, tabungan dikorbankan, bahkan utang ditumpuk.
Kita membeli barang yang tidak kita butuhkan, dengan uang yang tidak kita punya alias terpaksa berutang, untuk mengesankan orang yang sebenarnya tidak peduli dengan kita.
Padahal, orang yang benar-benar mapan biasanya tidak sibuk membuktikan bahwa dirinya kaya. Mereka lebih fokus membangun masa depan daripada mencari pengakuan.
Apa Kata Para Pakar?
Fenomena ini sudah lama dibaca oleh para pemikir atau pakar terkait.
Sosiolog dan ekonom Amerika, Thorstein Veblen, lebih dari 100 tahun lalu dalam bukunya "The Theory of the Leisure Class", memperkenalkan istilah conspicuous consumption atau konsumsi mencolok.
Menurut Veblen, banyak orang membeli barang mahal bukan karena fungsinya, melainkan untuk memamerkan status sosial. Kekayaan dijadikan simbol status dan pertunjukan di ruang publik.
Filsuf Stoik, Seneca, mengingatkan dengan lebih keras, "Bukan orang yang memiliki terlalu sedikit, melainkan orang yang menginginkan lebih banyaklah yang miskin."
Kemiskinan sejati bukanlah semata soal angka di rekening, melainkan soal jiwa yang tidak pernah merasa cukup karena terus membandingkan diri dengan orang lain.
Penulis keuangan ternama, Morgan Housel, dalam bukunya "The Psychology of Money", menuliskan kalimat yang sangat menohok, "Tidak ada seorangpun yang sekagum itu pada Anda karena mobil mewah Anda, seperti kekaguman Anda pada mobil itu sendiri."
Seringkali orang lain lebih sering melihat mobilnya, bukan Anda. Kita mengira akan dihormati, padahal orang hanya melihat objeknya sekilas lalu lupa.
Ini sejalan dengan temuan psikolog pemenang Nobel Ekonomi, Daniel Kahneman. Dia menjelaskan bahwa manusia terjebak dalam social comparison bias. Kita mengukur kebahagiaan bukan dari apa yang kita miliki, melainkan dari apa yang dimiliki orang lain. Media sosial memperparah bias ini, membuat kita merasa selalu tertinggal, sehingga terdorong untuk belanja demi validasi.
Psikolog Thomas Gilovich dari Cornell University juga menemukan bahwa kebahagiaan karena membeli barang (material purchase) sangat singkat dan cepat memudar. Dia kalah jauh dari kebahagiaan yang datang dari rasa aman secara finansial dan pengalaman hidup yang bermakna.
Barang mewah dapat membahagiakan Anda cuma sehari, tetapi dompet yang sehat menenangkan bertahun-tahun.
Kaya yang Sesungguhnya
Orang yang benar-benar kaya tidak perlu berisik. Kekayaan mereka bekerja dalam diam. Yaitu dalam bentuk tabungan yang aman, investasi yang bertumbuh, utang yang lunas, dan tidur yang nyenyak di malam hari.
Tampak kaya adalah soal gengsi. Benar-benar kaya adalah soal ketenangan.
Tampak kaya mengharuskan Anda terus membeli untuk mendapat tepuk tangan orang lain. Benar-benar kaya membebaskan Anda untuk tidak membutuhkan tepuk tangan itu.
Jadi, sebelum tergoda untuk meng-"upgrade" ponsel padahal yang lama masih baik, atau membeli tas bermerek demi terlihat berkelas di kelompik arisan, tanyakan pada diri sendiri:
"Apakah ini membuat saya benar-benar kaya, atau hanya membuat saya terlihat kaya?"
Jaga dompet Anda lebih daripada menjaga citra Anda di mata orang lain. Karena ketika masa sulit datang, bukan jumlah "like" di medsos yang akan menyelamatkan Anda, melainkan isi tabungan dan ketenangan finansial yang telah Anda bangun dalam diam.
Lebih baik dianggap biasa saja, tapi keuangan sehat dan masa depan aman.
*) Penulis adalah entrepreneur; peminat filsafat dan psikologi; Pendiri & CEO VDS Group (PT Veritas Dharma Satya, PT Veritas Media Bangsa, Firma Hukum "Veritas Dignitas Salus")
Komentar