Breaking News

REFLEKSI Menjadi Pribadi yang Kuat dan Tangguh 30 Sep 2026 14:26

Article image
Valens Daki-Soo, entrepreneur, Pendiri & CEO VDS Group (Foto: Ist)
Tatkala Anda berada dalam kesulitan besar tetapi tidak mau menyerah -- bahkan semakin bersemangat untuk terus maju -- itulah ketangguhan. Itulah kekuatan jiwa. Itulah keberanian.

Oleh: Valens Daki-Soo*

 

Pernahkah Anda menyadari bahwa “waktu emas” bagi pembentukan karakter dan penempaan jiwa justru sering hadir ketika hidup sedang sulit?

Saya teringat masa "susah" -- ketika menjadi pengangguran di Jakarta pada pertengahan 1990-an. Anehnya, saat itu saya jarang sakit flu, tak pernah mengalami sakit maag, dan merasa jiwa justru begitu kuat.

Padahal penghasilan tetap belum ada alias kerja serabutan, makan tidak teratur, gizi seadanya, dan satu botol Teh Sosro terasa seperti sebuah kemewahan.

Bersama sahabat sekaligus saudara saya, Bung Abraham Runga Mali, yang kemudian menjadi jurnalis harian ekonomi terkemuka Bisnis Indonesia, kami yang sebelumnya belajar filsafat dan teologi -- bukan mahasiswa ekonomi -- harus mengalami Jakarta sebagai “medan tempur” kehidupan. Mendapatkan beberapa potong pisang molen saja kadang bukan perkara mudah.

Sebagai "sharing" pribadi, sejak tamat SMA (Seminari Mataloko, Flores) hingga studi filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero, lalu merantau ke Jakarta, saya tidak pernah meminta uang kepada orang tua. Saya sadar, mereka mesti membiayai keenam adik saya.

Kini, pengalaman itu terasa indah untuk dikenang. Bukan karena kemiskinan atau kesulitan di Jakarta itu sendiri menyenangkan, melainkan karena dari sanalah kami belajar bertahan, beradaptasi, berbagi, dan terus melangkah ketika keadaan tidak berpihak.

Psikolog Amerika Serikat, Ann Masten, yang banyak meneliti resiliensi, menyebut ketangguhan manusia sebagai sesuatu yang sering tumbuh melalui proses adaptasi terhadap kesulitan. 

Dia menggunakan istilah “ordinary magic” untuk menggambarkan bahwa kemampuan bangkit bukan selalu sesuatu yang luar biasa atau ajaib, tetapi dapat berkembang dari sumber-sumber sederhana dalam kehidupan: relasi yang baik, keyakinan, kemampuan beradaptasi, dan pengalaman menghadapi tantangan.

Dengan kata lain, ketangguhan tidak selalu lahir dari kehidupan yang mudah. Ia sering ditempa justru ketika kita dipaksa menghadapi kehidupan yang sulit.

Psikolog Martin Seligman juga memperkenalkan konsep "learned optimism", yakni kemampuan membangun cara pandang yang tidak melihat kesulitan sebagai akhir dari segala-galanya.

Kegagalan dan penderitaan tidak harus menjadi identitas permanen seseorang. Kita masih dapat belajar, berubah, dan mencoba lagi.

Oleh karena itu, jangan terlalu cepat mengutuk masa sulit dalam hidup Anda. Bisa jadi, justru di sanalah Tuhan sedang memberi Anda ruang untuk bertumbuh.

Kini, pada masa yang berbeda, tidak jarang adik-adik mahasiswa datang sharing kepada saya tentang berbagai kesulitan hidup mereka. Sejauh kemampuan dan pengalaman yang pernah saya lintasi, saya bahagia bisa merespons mereka secara empatik. Lebih bahagia lagi apabila sedikit pengalaman hidup dapat membantu mereka menemukan kembali keberanian untuk melangkah.

Saya selalu merasa tersentuh ketika melihat dari diri mereka terpancar tekad yang kuat, semangat yang menyala dan nyali untuk bergulat dengan kerasnya kehidupan di megapolitan ini.

Hidup memang bukan jalan yang selalu mulus. Ada saatnya kita berada di atas, tetapi ada pula saat kita terpuruk. Ada keberhasilan, ada kegagalan. Ada tawa, ada air mata. Ada cinta yang membahagiakan, tetapi ada pula kehilangan yang menyakitkan.

Jangan Pernah Menyerah!

Namun, justru dalam "ups and downs" itulah manusia ditempa. Mengutip semangat perjuangan Bung Karno, bagi seorang pejuang tidak ada kata “selesai”. Selama kehidupan masih berjalan, perjuangan pun terus berlangsung.

Maka, jangan menyerah hanya karena hari ini terasa sulit. Anda punya kehidupan yang hebat. Anda punya masa depan seluas cakrawala pandang Anda. 

Anda akan menikmati deru perjuangan yang mengasyikkan, pengalaman cinta yang indah dan mendebarkan dengan segala suka-dukanya, kesuksesan dalam usaha atau pekerjaan yang menyejahterakan, serta mencapai satu demi satu “puncak kecil” kehidupan dengan penuh syukur kepada Tuhan.

Kelak, ketika menoleh ke belakang, mungkin Anda akan tersenyum dan berkata: ternyata masa-masa sulit itulah yang telah membuat saya menjadi seperti sekarang!

Jadi, ketika Anda sedang berada dalam kesulitan besar tetapi tidak mau menyerah -- bahkan semakin bersemangat untuk terus maju -- itulah ketangguhan. Itulah kekuatan jiwa. Itulah keberanian.

Jadilah manusia berjiwa perkasa. Jangan takut pada kesulitan. Hadapi, jalani, pelajari, dan taklukkan satu demi satu.

Bukan keadaan apapun -- termasuk kesulitan -- yang menentukan siapa diri kita, melainkan bagaimana sikap yang kita pilih untuk menghadapi keadaan itu.

 

*) Penulis adalah entrepreneur, peminat psikologi, Pendiri & CEO VDS Group (PT Veritas Dharma Satya, PT Veritas Media Bangsa, Firma Hukum "Veritas Dignitas Salus")

Komentar