REFLEKSI Pangkat dan Jabatan Itu Penting, Tapi yang Terpenting Tindakan dan Perbuatan 02 Nov 2026 15:52
Pakar kepemimpinan John C. Maxwell mengatakan kepemimpinan bukan semata-mata soal posisi, melainkan tentang pengaruh. Seorang pemimpin sejati bukan hanya orang yang memiliki kewenangan, tetapi orang yang mampu menggerakkan, menginspirasi, dan memberi tel
Oleh: Valens Daki-Soo*
Masih selalu terngiang dalam benak saya ucapan sahabat saya, almarhum Letjen TNI Doni Monardo. Bang Doni—begitu beliau biasa disapa—adalah sosok prajurit yang melewati perjalanan karier, pengalaman, dan pengabdian luar biasa bagi bangsa dan negara.
Ketika masih perwira muda, Bang Doni diterjunkan ke medan konflik Timor Timur, kini Timor Leste. Ia memiliki pengalaman dalam intelijen tempur, operasi militer, hingga tugas teritorial.
Kariernya terus menanjak. Ia pernah menjabat Komandan Paspampres, Danjen Kopassus, Pangdam XVI/Pattimura, Pangdam III/Siliwangi, Sesjen Wantannas, hingga Kepala BNPB. Saat memimpin BNPB, Presiden RI menunjuknya sebagai Kepala Satgas Penanganan Covid-19.
Dalam setiap penugasan, Bang Doni dikenal sebagai sosok yang tenang, berdedikasi, dan berorientasi pada hasil. Banyak perwira TNI AD yang mengagumi dan belajar dari kepemimpinannya.
Suatu ketika, saat masih menjabat Danjen Kopassus, beredar kabar bahwa Bang Doni akan dipromosikan menjadi Pangdam Jaya. Jabatan itu dipandang strategis karena bertanggung jawab atas pengamanan Ibu Kota Jakarta dan sekitarnya dan menjadi "jalur cepat" menuju bintang tiga (letnan jenderal).
Namun, kenyataannya berbeda. Bang Doni justru ditugaskan ke wilayah timur Indonesia, menjadi Pangdam XVI/Pattimura di Ambon.
Saya sempat menyampaikan penyesalan kepadanya. “Bang, saya menyesal Abang ditempatkan di Maluku. Harusnya Abang di Jakarta atau paling tidak di Bandung, di Kodam Siliwangi.”
Bang Doni menjawab dengan tenang, “Pak Valens, tidak apa-apa. Sebagai prajurit mesti siap ditugaskan di mana saja. Apalagi saya punya prinsip: yang terpenting bukan pangkat dan jabatan, tapi tindakan dan perbuatan.”
Jawaban sederhana itu menginspirasi saya dan menyimpan pelajaran kepemimpinan yang sangat mendalam.
Jabatan adalah Amanah, Bukan Tujuan Akhir
Dalam kehidupan profesional maupun sosial, pangkat dan jabatan memang penting. Keduanya merupakan bentuk kepercayaan, pengakuan atas kompetensi, sekaligus sarana untuk memperluas pengabdian.
Namun, pangkat dan jabatan bukanlah ukuran mutlak nilai seseorang. Jabatan bisa berubah, pangkat bisa bertambah, tetapi karakter dan kualitas perbuatanlah yang menentukan bagaimana seseorang dikenang.
Filsuf Yunani, Aristoteles, dalam pemikirannya tentang etika, menekankan bahwa karakter tidak dibentuk hanya melalui pengetahuan, melainkan melalui kebiasaan bertindak. Kita menjadi pribadi yang baik dengan terus melakukan perbuatan baik.
Pandangan ini sejalan dengan pemikiran psikolog Albert Bandura tentang "self-efficacy", yakni keyakinan seseorang terhadap kemampuannya untuk bertindak dan menghadapi tantangan. Keyakinan tersebut tumbuh melalui pengalaman nyata, usaha, dan keberhasilan menyelesaikan tugas.
Artinya, kualitas seseorang tidak cukup dibuktikan melalui gelar, pangkat, atau jabatan. Semua itu perlu diwujudkan dalam tindakan nyata yang membawa manfaat bagi orang lain.
Pakar kepemimpinan John C. Maxwell juga mengingatkan bahwa kepemimpinan bukan semata-mata soal posisi, melainkan tentang pengaruh. Seorang pemimpin sejati bukan hanya orang yang memiliki kewenangan, tetapi orang yang mampu menggerakkan, menginspirasi, dan memberi teladan.
Di Mana Pun Bertugas, Tetaplah Memberi Makna
Sikap Bang Doni mengajarkan bahwa seorang profesional dan pemimpin sejati tidak boleh terlalu terikat pada tempat, posisi, atau fasilitas yang menyertai jabatannya.
Di mana pun ditempatkan, ia tetap memiliki kesempatan untuk berkarya, memberikan yang terbaik, dan menghadirkan perubahan positif.
Tidak semua orang memperoleh jabatan yang diimpikan. Tidak semua kerja keras langsung mendapat pengakuan. Bahkan, terkadang seseorang harus menerima penugasan yang jauh dari harapannya.
Namun, jangan sampai kekecewaan terhadap posisi membuat kita kehilangan semangat untuk berbuat baik.
Seorang guru yang mengajar dengan tulus di pelosok negeri, seorang dokter yang melayani masyarakat kecil, seorang pengusaha yang membuka lapangan kerja, atau seorang pemimpin yang memperjuangkan kepentingan rakyat, semuanya memiliki kesempatan untuk memberi makna bagi kehidupan.
Ukuran keberhasilan bukan semata-mata seberapa tinggi posisi yang kita capai, melainkan seberapa besar manfaat yang kita berikan.
Warisan Terbaik Adalah Perbuatan
Kini, Bang Doni telah berpulang. Namun, keteladanan dan nilai-nilai yang diwariskannya tetap hidup dalam ingatan banyak orang.
Bagi saya pribadi, ucapan beliau menjadi pengingat untuk terus bekerja, berkarya, dan mengabdi tanpa terlalu mempersoalkan di mana posisi kita berada.
Pangkat dan jabatan dapat membuka pintu kesempatan. Tetapi tindakan dan perbuatanlah yang menentukan apakah kesempatan itu digunakan untuk kebaikan atau justru sebaliknya.
Manusia tidak hanya dikenang karena apa yang pernah dijabatnya, melainkan karena apa yang telah diperbuatnya.
Di mana pun kita berada, apa pun jabatan kita, mari terus berbuat yang terbaik.
Kehormatan sejati tidak hanya terletak pada tingginya pangkat, tetapi pada besarnya manfaat yang kita berikan kepada sesama, bangsa, dan negara.
*) Penulis adalah entrepreneur, peminat filsafat dan psikologi, Pendiri & CEO VDS Group (PT Veritas Dharma Satya, PT Veritas Media Bangsa, Firma Hukum "Veritas Dignitas Salus")
Komentar