Breaking News

REFLEKSI Pernah Ditolak dan Dianggap Tak Punya Masa Depan Tetapi Saya Bisa Maju — Anda Pun Bisa! 27 Oct 2026 11:03

Article image
Valens Daki-Soo, pengusaha, Pendiri & CEO VDS Group (Foto: Ist)
Jangan jadikan masa lalu sebagai vonis atas masa depan Anda. Penilaian orang lain bukanlah kata akhir tentang siapa diri Anda. Selama masih mau belajar, berjuang, memperbaiki diri, dan menjaga integritas, selalu ada ruang untuk bertumbuh.

Oleh: Valens Daki-Soo*

 

Tulisan ini merupakan "sharing" pengalaman pribadi untuk kaum muda, terutama mereka yang sedang berjuang menghadapi kompleksitas persoalan hidup. 

Saya ingin menyampaikan satu pesan sederhana: jangan pernah membiarkan penolakan dan kegagalan hari ini menentukan seluruh masa depan Anda.

Ketika masih muda belia, saya pernah ditolak keras oleh orang tua sang pacar. Salah satu alasannya, saya dianggap tidak memiliki masa depan cemerlang karena hanya seorang mantan frater, calon imam Katolik yang gagal.

Penolakan itu terasa menyakitkan dan menikam harga diri. Hubungan kami akhirnya bubar. Namun, setelah melewati pergumulan panjang, saya justru menemukan hikmah di balik pengalaman tersebut. Saya percaya "providentia Dei" (penyelenggaraan Ilahi) bekerja melalui jalan yang tidak selalu kita pahami pada awalnya.

Saya tidak sekadar berteori. Berikut ini saya ingin berbagi sekelumit perjalanan hidupku agar kaum muda yang sedang terpuruk memiliki keberanian untuk bangkit kembali.

Dari Penolakan Menuju Kemajuan 

Setelah baru sekitar dua tahun berkarier sebagai wartawan, pada usia 26 tahun saya mulai berkiprah sebagai staf Duta Besar Keliling RI dengan Tugas Khusus, FX Lopes da Cruz. Beliau diangkat Presiden Soeharto untuk membantu Menteri Luar Negeri Ali Alatas dalam penuntasan masalah Timor Timur di forum internasional.

Saya membantu menulis pidato, makalah, surat resmi, dan laporan kepada Presiden Soeharto terkait dinamika masalah Timor Timur. Dubes Lopes memiliki "jalur khusus" kepada Presiden, dan saya sendiri mengantarkan surat serta laporan beliau kepada Presiden melalui ajudannya.

Sambil mengasistensi Dubes Lopes, saya juga membantu Mayjen TNI (Marinir) Rusdi, yang saat itu menjabat Wakil Kepala Badan Intelijen ABRI (BIA), kini Badan Intelijen Strategis (Bais) TNI. Sebelumnya, beliau menjabat Direktur "B" BIA yang membidangi urusan luar negeri.

Tidak lama kemudian, saya menjadi staf khusus Letjen TNI Arie J. Kumaat, Kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara (Bakin) -- kini Badan Intelijen Negara (BIN), untuk membantu memantau situasi dan dinamika pasca-referendum di Timor Timur.

Serentak saya juga menjadi staf khusus Letjen TNI Kiki Syahnakri sejak beliau menjabat Asisten Operasi Kepala Staf Angkatan Darat (Asops KSAD); Panglima Penguasa Darurat Militer Timor Timur; Panglima Kodam IX/Udayana; hingga Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (Wakasad).

Hubungan personal dan profesional kami berlanjut sampai beliau purnabakti dan menjadi Komisaris Utama Bank Artha Graha Internasional Tbk hingga saat ini.

Pak Kiki sangat berjasa bagi perkembangan pribadi saya, mendukung kemajuan diri, serta memperkuat jiwa nasionalisme saya.

Sejak 2001, saya juga menjadi staf khusus Pak Gories Mere, sejak beliau berpangkat Komisaris Besar Polisi (Kombes Pol) hingga Komisaris Jenderal Polisi. Beliau menorehkan banyak prestasi di bidang reserse dan intelijen, antara lain mendirikan Satgas Bom Bareskrim Polri pasca-Bom Bali I dan merintis pembentukan Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri.

Dalam perjalanan kariernya, Pak Gories pernah menjabat Kapolres Jakarta Timur, Kaditserse Polda Metro Jaya, Wakapolda NTT, Direktur IV/Narkoba Mabes Polri, Wakil Kepala Bareskrim Mabes Polri, dan Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN). Setelah pensiun, beliau menjadi Staf Khusus Presiden RI Bidang Intelijen dan Keamanan pada 2015–2019.

Bekerja bersama Pak Gories memberikan banyak wawasan dan pengalaman berharga. Spirit pengabdian beliau dan tim Densus 88 menginspirasi saya untuk bekerja keras, bekerja cerdas, bekerja ikhlas, dan bekerja tuntas.

Semua pengalaman itu mengajarkan bahwa kesempatan dapat mengubah jalan hidup seseorang. Namun, kesempatan harus dijawab dengan kesungguhan, integritas, dan kemauan untuk terus belajar.

Merintis Usaha dan Berbagi kepada Sesama 

Sejak 2012, saya mulai belajar berbisnis dengan mendirikan PT Veritas Dharma Satya, disusul PT Veritas Media Bangsa dan Firma Hukum "Veritas Dignitas Salus" (VDS Law Firm). Saya juga menjadi konsultan di dua grup usaha swasta nasional, yakni Artha Graha Group dan Bumi Biru Group (PT Galuh Citarum).

Perjalanan tersebut tidak saya tempuh sendirian. Saya berutang budi kepada sejumlah pengusaha yang memberi kepercayaan dan membantu VDS Group bertumbuh.

Berkat kemurahan Tuhan dan dukungan banyak pihak, kami juga berusaha membantu sesama. Kami memberikan beasiswa kepada sejumlah mahasiswa asal Flores di Jakarta dan pernah membantu beberapa mahasiswa awam (nonfrater) di STFK, kini IFTK, Ledalero, Flores. Kami turut membantu pembangunan beberapa gereja dan taman bacaan di Flores.

Di Jakarta, kami sering mendukung berbagai kegiatan sosial-budaya masyarakat NTT diaspora.

Pasca-gempa dahsyat yang mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026, kami membentuk tim relawan dan menyalurkan bantuan berupa sekian ton beras serta kebutuhan lainnya bagi masyarakat terdampak.

Saya menceritakan semua ini bukan untuk membanggakan diri. Proses bertumbuh masih berlangsung dan saya pun masih harus terus belajar. 

Lalu apa gunanya kisah di atas? Saya hanya ingin menunjukkan bahwa seseorang yang pernah diremehkan atau tidak dianggap berpotensi tetap memiliki kesempatan untuk bertumbuh, mengabdi, membangun usaha, dan memberi manfaat bagi sesama.

Jangan Menyerah pada Penilaian Orang Lain 

Filsuf Stoik Epictetus mengajarkan pentingnya membedakan hal-hal yang berada dalam kendali kita dan yang berada di luar kendali kita. Kita tidak dapat mengendalikan penilaian orang lain, tetapi kita dapat menentukan bagaimana menyikapinya dan apa yang kita lakukan untuk memperbaiki hidup.

Marcus Aurelius, filsuf Stoik sekaligus Kaisar Romawi, juga mengingatkan pentingnya menghadapi rintangan dengan keteguhan. Hambatan tidak harus menjadi alasan untuk berhenti; justru dapat menjadi kesempatan untuk melatih karakter dan memperkuat diri.

Sementara itu, psikolog Carol Dweck melalui konsep "growth mindset" menjelaskan bahwa kemampuan dapat terus dikembangkan melalui proses belajar, usaha, dan keterbukaan terhadap masukan. Artinya, kegagalan bukan bukti bahwa kita tidak mampu. Kegagalan dapat menjadi pelajaran untuk memperbaiki strategi dan melangkah lebih baik.

Tentu saja, kerja keras saja tidak menjamin setiap orang memperoleh hasil yang sama. Kesempatan, lingkungan, dan dukungan orang lain juga berpengaruh. Karena itu, jangan mudah menghakimi orang yang belum berhasil, termasuk diri sendiri.

Kepada kaum muda yang sedang menghadapi penolakan, kesulitan ekonomi, kegagalan karier, atau "mental block", saya ingin berpesan: Anda boleh kalah, kecewa, bahkan merasa hancur. Namun, jangan berhenti di sana. Bangkitlah, perbaiki diri, perluas wawasan, bangun relasi yang sehat, dan terus berjuang.

Ini sangat penting: bawa segalanya dalam doa. Bagi saya, iman justru menjadi sumber kekuatan untuk terus melangkah ketika jalan di depan belum terlihat jelas.

Kesuksesan sejati juga bukan tentang membalas orang-orang yang pernah meremehkan kita. Kesuksesan adalah kemampuan mengatasi keterbatasan diri, hidup dengan bermartabat, dan menjadi berkat bagi orang lain.

Saya pernah ditolak dan dianggap tidak punya masa depan. Namun, saya memilih untuk terus melangkah, belajar, bekerja, dan memberi yang terbaik dalam setiap karya pengabdian.

Jangan jadikan masa lalu sebagai vonis atas masa depan Anda. Penilaian orang lain bukanlah kata akhir tentang siapa diri Anda. Selama masih mau belajar, berjuang, memperbaiki diri, dan menjaga integritas, selalu ada ruang untuk bertumbuh.

Saya pernah diremehkan, tetapi saya tidak menyerah. Saya terus berjuang sambil selalu percaya pada penyelenggaraan Tuhan. Anda pun bisa!

 

*) Penulis adalah pengusaha; peminat filsafat dan psikologi; Pendiri dan CEO VDS Group.

Komentar