Breaking News

REFLEKSI Pesta: Boleh, Tapi Terukur dan Jangan Bikin Beban 23 Oct 2026 15:17

Article image
Valens Daki-Soo, entrepreneur, Pendiri & CEO VDS Group (Foto: Ist)
Bukan karena kita memiliki sedikit, tetapi karena kita menginginkan lebih banyak, kita menjadi miskin.

Oleh: Valens Daki-Soo*

Di Flores, pesta adalah napas kehidupan sosial. Kita berpesta untuk hampir semua hal: syukuran rumah baru, sambut baru, pernikahan, tahbisan imam, ulang tahun, hingga panen yang berlimpah. Semua adalah ungkapan syukur yang indah.

Pesta sebagai ungkapan terima kasih atau ekspresi rasa syukur dan sukacita, boleh saja. Bahkan harus. Manusia perlu merayakan kebaikan hidup.

Tetapi, pesta itu perlu diatur sedemikian rupa, agar tidak malah meninggalkan beban berat secara ekonomi bagi keluarga yang bikin pesta.

Syukuran itu baik, tapi harus terukur — sesuai dengan kemampuan ekonomi keluarga yang bikin pesta.

Jangan sampai harus berutang sana-sini demi pesta yang mewah demi gengsi semalam, dengan menghamburkan uang ratusan juta.

Pesta Semalam, Utang Bertahun-Tahun

Benar, bikin pesta adalah hak siapa pun. Tidak ada yang boleh melarang. Namun saya tergerak hati untuk memberi saran kepada masyarakat kita di Flores, berdasarkan pengamatan pribadi selama ini.

Banyak orang terpaksa bikin pesta besar demi menjaga gengsi dan kehormatan yang semu saja.

Demi kata orang, demi tidak dibilang pelit, demi menjaga nama keluarga. Akhirnya tenda paling besar harus dipasang, organ tunggal paling mahal harus didatangkan, babi dan sapi puluhan ekor harus dipotong, minuman harus berlimpah, undangan harus ribuan.

Pesta digelar cuma sehari atau semalam, tapi setelah pesta mereka harus membayar cicilan utang di bank atau koperasi kredit selama bertahun-tahun.

Ada yang sampai menjual tanah warisan. Ada yang anaknya harus putus kuliah karena uang sudah habis untuk pesta. Ada yang rumah tangganya retak karena dikejar utang.

Pesta cuma semalam, tapi dampaknya berkepanjangan.

Apa Kata Para Pakar?

Fenomena ini bukan hanya soal ekonomi, tapi soal psikologi dan sosial.

Sosiolog Amerika, Thorstein Veblen, lebih dari 100 tahun lalu sudah mengingatkan tentang conspicuous consumption atau konsumsi demi pamer. Dalam masyarakat komunal seperti kita, pesta besar sering kali bukan lagi soal syukur, tapi soal pertunjukan status. Siapa yang lebih mewah, dialah yang dianggap lebih terhormat. Padahal kehormatan semacam itu semu dan cepat dilupakan orang.

Filsuf Stoik, Seneca, berkata sangat keras: "Bukan karena kita memiliki sedikit, tetapi karena kita menginginkan lebih banyak, kita menjadi miskin." Filsafat Stoik mengajarkan hidup secukupnya (moderation). Rasa syukur yang sejati tidak membutuhkan pembuktian yang berlebihan di mata orang lain. Syukur yang tenang lebih mulia daripada syukur yang berisik tapi menyiksa diri sendiri.

Psikolog pemenang Nobel Ekonomi, Daniel Kahneman, menjelaskan bahwa kita sering terjebak dalam social comparison. Kita tidak mengukur kebahagiaan dari apa yang kita miliki, tapi dari apa yang dimiliki tetangga. Jika tetangga pesta dengan 20 ekor babi, kita merasa harus 30 ekor. Lingkaran gengsi ini tidak akan pernah ada habisnya.

Psikolog Thomas Gilovich dari Cornell University membuktikan bahwa kebahagiaan dari pesta yang mewah itu sangat singkat. Orang akan ingat dua hari, lalu lupa. Yang tinggal adalah rasa cemas pemilik pesta yang harus memikirkan cicilan. Sebaliknya, rasa aman karena keuangan keluarga sehat akan memberi ketenangan bertahun-tahun.

Utang Produktif, Bukan Konsumtif

Dalam literasi keuangan, ada prinsip sederhana: boleh berutang, tapi harus untuk kegiatan produktif, bukan untuk urusan konsumtif.

Berutang untuk modal kebun, untuk biaya pendidikan anak, untuk usaha kecil, untuk beli alat kerja — itu investasi. Utang itu akan kembali dalam bentuk penghasilan.

Tapi berutang untuk pesta mewah demi gengsi semalam adalah utang konsumtif. Uang ratusan juta itu habis dalam sehari, tidak menghasilkan apa-apa, kecuali pujian semu yang hanya bertahan semalam.

Ini bukan soal pelit. Ini soal bijaksana.

Bukan Menyindir, Tapi Peduli

Saya menulis ini bukan karena ingin menyindir ataupun membatasi gairah berpesta orang Flores yang memang sudah menjadi budaya kita yang kaya dan penuh kekeluargaan.

Saya menulis ini karena tergerak oleh rasa prihatin dan peduli, mengingat banyak orang dililit utang demi pesta.

Budaya kita mengajarkan gotong-royong, kebersamaan, dan syukur. Mari kita jaga nilai itu. Tetapi mari kita kembalikan pesta pada makna asalnya: ungkapan syukur yang tulus, bukan ajang pamer yang mengorbankan masa depan keluarga.

Pesta yang baik bukan diukur dari seberapa besar tendanya, melainkan seberapa tulus doanya. Bukan dari seberapa banyak daging yang disajikan, melainkan seberapa damai hati tuan pesta setelahnya.

Lebih baik pesta sederhana, tapi tanpa utang dan hati tetap tenang. Daripada pesta megah semalam, tapi pusing bertahun-tahun.

Syukuri apa yang ada, rayakan sesuai kemampuan. Karena Tuhan tidak melihat meriahnya pesta kita, Ia melihat ketulusan hati kita.

 

*) Penulis adalah entrepreneur; peminat filsafat dan psikologi; Pendiri & CEO VDS Group (PT Veritas Dharma Satya, PT Veritas Media Bangsa, Firma Hukum "Veritas Dignitas Salus"/VDS Law Firm)

Komentar