Breaking News

REFLEKSI Pribadi yang Dewasa Ikut Bahagia Melihat Orang Lain Sukses 08 Nov 2026 18:10

Article image
Valens Daki-Soo, pengusaha, Pendiri & CEO VDS Group (Foto: Ist)
Mari bertumbuh tanpa saling menjatuhkan, bersaing tanpa membenci, dan sukses tanpa kehilangan ketulusan hati. Itulah tanda pribadi yang dewasa.

Oleh: Valens Daki-Soo*

 

Salah satu tanda kedewasaan seseorang bukan hanya terlihat dari keberhasilannya mencapai kesuksesan pribadi, melainkan juga dari kemampuannya ikut bahagia ketika melihat orang lain sukses. 

Ini mungkin terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya mencerminkan kualitas karakter, kematangan emosional, dan keluasan hati seseorang.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menjumpai orang yang sulit mengapresiasi keberhasilan orang lain. Ketika teman, saudara, rekan kerja, atau bahkan orang yang pernah berjalan bersama kita mencapai kesuksesan, sebagian orang justru merasa terganggu, iri, atau diam-diam tidak senang. 

Ada pula yang sibuk mencari kekurangan, meremehkan pencapaian, bahkan berusaha menjatuhkan.

Mengapa hal ini terjadi? Salah satunya karena seseorang terlalu sering membandingkan dirinya dengan orang lain. Ia melihat keberhasilan orang lain sebagai ancaman, bukan sebagai inspirasi. Padahal, kesuksesan seseorang tidak otomatis mengurangi peluang kita untuk berhasil.

Orang yang dewasa memahami bahwa setiap orang memiliki perjalanan, waktu, kesempatan, dan garis keberhasilannya masing-masing. Tidak semua orang harus sukses pada waktu yang sama. 

Ada yang berhasil lebih dahulu, ada yang membutuhkan waktu lebih panjang. Ada yang sukses dalam bisnis, karier, pendidikan, keluarga, maupun bidang pengabdian sosial. Semua memiliki proses dan ukurannya sendiri.

Filsuf Stoik, Seneca, mengajarkan pentingnya membangun kekayaan batin dan tidak menggantungkan kebahagiaan pada perbandingan dengan orang lain. 

Pemikiran ini relevan dengan kehidupan kita sekarang. Kita tidak perlu merasa rendah diri ketika orang lain lebih dahulu berhasil. Kita juga tidak perlu merasa terancam ketika orang lain memperoleh pencapaian lebih tinggi. 

Kedamaian batin justru lahir ketika kita mampu mengendalikan ego, menerima perjalanan hidup sendiri, dan menghargai keberhasilan sesama.

Dari perspektif psikologi, Alfred Adler, tokoh psikologi individual, memperkenalkan konsep "social interest" atau kepedulian sosial.

Menurut pendekatan Adler, kesehatan psikologis seseorang juga tercermin dari kemampuannya membangun hubungan yang positif, memiliki rasa kebersamaan, dan peduli terhadap kesejahteraan orang lain. 

Dengan demikian, pribadi yang matang tidak hanya sibuk mengejar keberhasilan dirinya sendiri, tetapi juga mampu mendukung dan menghargai keberhasilan sesama.

Oleh karena itu, mari membangun kebiasaan sederhana tetapi bermakna: berikan apresiasi ketika orang lain berhasil. Ucapkan selamat dengan tulus.

Jangan pelit memberikan pujian. Jangan merasa harga diri kita berkurang hanya karena orang lain memperoleh pencapaian lebih tinggi.

Kita juga perlu memahami bahwa ikut bahagia melihat keberhasilan orang lain bukan berarti kita berhenti mengejar impian sendiri. Justru sebaliknya. Kita tetap bekerja keras, meningkatkan kapasitas diri, memperluas wawasan, dan memperjuangkan cita-cita tanpa harus menjadikan kehidupan orang lain sebagai ukuran harga diri kita.

Dunia ini terlalu luas untuk diisi dengan persaingan yang tidak sehat. Kita membutuhkan lebih banyak orang yang saling mendukung, menguatkan, dan membuka jalan bagi keberhasilan sesama.

Kedewasaan bukan hanya tentang seberapa tinggi kita berdiri, tetapi juga seberapa lapang hati kita ketika melihat orang lain berhasil mencapai tempat yang lebih tinggi.

Jangan menjadi pribadi yang hanya bahagia ketika dirinya sukses. Jadilah pribadi yang juga mampu tersenyum ketika orang lain berhasil. Sebab, kemampuan ikut bahagia atas keberhasilan sesama adalah salah satu bentuk kemuliaan karakter.

Mari bertumbuh tanpa saling menjatuhkan, bersaing tanpa membenci, dan sukses tanpa kehilangan ketulusan hati. Itulah tanda pribadi yang dewasa.

 

*) Penulis adalah entrepreneur, peminat filsafat dan psikologi, Pendiri & CEO VDS Group.

Komentar