Breaking News

REGIONAL Sinkronisasi Data Lokasi Bandara Mbay, Dandim Ngada dan Ketua Tim APBM Sepakat Dorong Pembentukan TPF 07 Nov 2026 19:23

Article image
Dandim Ngada, Letkol Inf. Imam bersama Ketua Tim APBM, Justino Djogo, MA, MBA. (Foto: Ist)
Persoalan perbedaan data lokasi Bandara Mbay diharapkan dapat diselesaikan melalui mekanisme yang objektif, transparan, dan melibatkan pihak-pihak berwenang, bukan sekadar mempertahankan klaim berdasarkan data masing-masing.

BAJAWA, NTT, IndonesiaSatu.co-– Menjelang Rapat Dengar Pendapat (RDP) DPRD Kabupaten Nagekeo bersama Tim Akselerasi Pembangunan Bandara Mbay (APBM), Senin (9/11/2026), komunikasi strategis terkait polemik lokasi pembangunan Bandara Surabaya 2 Mbay mulai dibangun kembali.

Sebagai langkah awal untuk menyamakan persepsi dan menyinkronkan data, Dandim Ngada, Letkol Inf. Imam, bersama Ketua Tim APBM, Justino Djogo, MA, MBA menggelar pertemuan di Markas Kodim Ngada, Bajawa, Sabtu (7/11/2026) sore.

Pertemuan tersebut secara khusus membahas persoalan lokasi pembangunan Bandara Surabaya 2 Mbay yang selama ini menjadi salah satu isu krusial, terutama karena terdapat irisan kepentingan lahan dan bangunan milik TNI dengan rencana pembangunan fasilitas militer yang kini telah berdiri, yakni Batalyon TP Wakanga Mere dan Brigif.

Dalam pertemuan itu, Dandim Ngada mengakui bahwa komunikasi antarpihak selama ini sedikit tersendat, bahkan cenderung mengalami kebuntuan karena masing-masing pihak masih berpegang pada data dan informasi yang dimiliki.

Menurutnya, pihak TNI selama ini meneruskan data dan informasi yang diwariskan oleh para pendahulu. Karena itu, apabila ditemukan ketidaksesuaian data, diperlukan langkah objektif untuk mencari titik terang.

"Kami hanya meneruskan apa yang sudah diwariskan oleh pendahulu kami. Jika ada ketidaksesuaian data, maka sebaiknya ada semacam tim pencari fakta terkait lokasi Bandara Surabaya 2 yang memang beririsan langsung dengan lahan dan bangunan TNI yang saat ini sudah berdiri Batalyon TP Wakanga Mere dan Brigif. Hasil temuannya sebaiknya diteruskan ke Kementerian Pertahanan RI agar kita tidak terus berkutat di level daerah saja," ujar Letkol Imam.

Menanggapi pandangan tersebut, Ketua Tim APBM, Justin Djogo, menyambut positif usulan pembentukan tim pencari fakta. Menurutnya, RDP DPRD Nagekeo pada 9 November 2026 merupakan momentum penting untuk membangun kesepahaman sekaligus memperjelas arah perjuangan pembangunan Bandara Mbay.

"RDP 9 November merupakan momentum krusial pascagempa untuk membahas pembangunan Bandara Mbay. Hasilnya nanti akan direkomendasikan ke Kementerian Pertahanan RI. Bahkan, Tim APBM juga merencanakan audiensi dengan DPD RI dan Komisi V DPR RI pada awal tahun 2027," ungkap Justin.

Ia menegaskan, pembangunan Bandara Mbay memiliki arti strategis bagi masa depan Kabupaten Nagekeo. 

"Kehadiran bandara diyakini dapat mempercepat pertumbuhan Mbay sebagai pusat kegiatan ekonomi sekaligus memperkuat posisinya sebagai pusat pemerintahan dan aktivitas politik di wilayah Flores," ungkapnya.

Baik Dandim Ngada maupun Ketua Tim APBM sepakat bahwa komunikasi dan koordinasi strategis harus terus dibangun, termasuk setelah pelaksanaan RDP 9 November mendatang.

Keduanya juga berpandangan bahwa pembangunan Brigif dan Bandara Mbay merupakan dua agenda strategis yang sama-sama penting dan tidak seharusnya dipertentangkan. Keduanya perlu dikomunikasikan secara baik agar kepentingan pertahanan negara dan pembangunan daerah dapat berjalan selaras.

Pengalaman saat gempa bumi yang melanda Nagekeo beberapa waktu lalu menjadi salah satu gambaran nyata pentingnya sinergi antara TNI dan masyarakat. Kolaborasi tersebut dirasakan langsung manfaatnya oleh warga dalam situasi darurat.

Dengan demikian, persoalan perbedaan data lokasi Bandara Mbay diharapkan dapat diselesaikan melalui mekanisme yang objektif, transparan, dan melibatkan pihak-pihak berwenang, bukan sekadar mempertahankan klaim berdasarkan data masing-masing.

Publik kini menaruh harapan agar RDP DPRD Nagekeo yang juga akan dihadiri Senator asal NTT, Bung Angelo Wake Kako, mampu menghasilkan rekomendasi konkret dan menjadi pintu masuk bagi percepatan perjuangan pembangunan Bandara Mbay di jantung Pulau Flores.

Sebab, yang dibutuhkan saat ini bukan mempertentangkan kepentingan, melainkan menemukan titik temu agar kepentingan pertahanan negara dan masa depan pembangunan Nagekeo dapat berjalan beriringan.

--- Guche Montero

Komentar