REFLEKSI Tak Ada yang Mustahil di Dalam Tuhan 28 Sep 2026 13:35
Di atas segala usaha manusia, kita boleh menyimpan keyakinan ini, "Omnia possum in Eo qui me confortat." Segalanya mungkin di dalam Dia yang menguatkan aku.
Oleh: Valens Daki-Soo*
“Omnia possum in Eo qui me confortat!” — “Segalanya mungkin di dalam Dia yang menguatkan aku.” Atau bisa diterjemahkan begini, “Aku sanggup di dalam Dia yang menguatkan aku.”
Itulah salah satu pernyataan St. Paulus yang menjadi favoritku. Andaikan dahulu saya menjadi pastor atau imam Katolik, mungkin kalimat ini akan saya pilih sebagai motto tahbisan.
Bagi saya, kalimat tersebut bukan sekadar ungkapan religius. Ia mengandung sebuah keyakinan yang bisa menjadi spirit untuk menganyam hari-hari kehidupan dengan karya-karya positif.
Tulisan ini bukan kotbah atau renungan dari dan bagi agama tertentu. Saya juga bukan ulama, rohaniwan, psikolog, atau konselor. Saya hanya seseorang yang senang berbagi sesuatu yang saya pikir baik untuk sesama. Syukur-syukur jika ada yang merasa terbantu.
Saya menulis refleksi ini karena baru saja menerima pesan seseorang, “Kak VDS, berulang kali saya berusaha, selalu saja gagal. Rasanya segala jalan sudah tertutup untuk saya. Tolong dong, Kak. Mohon nasihatnya.”
Saya tidak tahu persis pergumulan yang sedang dia hadapi. Tetapi saya ingin mengatakan satu hal ini. Jangan terlalu cepat menyimpulkan bahwa semua jalan telah tertutup.
Kita sering mendengar ungkapan, “Bagi Tuhan, tidak ada yang mustahil.” Keyakinan semacam ini mestinya meneguhkan batin dan memperkuat keberanian kita untuk terus melangkah.
Namun dalam praktik kehidupan, justru kita sendiri kerap memperlemah keyakinan itu. Ketika mengalami kegagalan berulang kali, pikiran kita mulai berkata, “Saya tidak mampu. Tidak ada jalan. Semuanya sudah berakhir.”
Di sinilah kekuatan pikiran ikut memainkan peran penting.
Psikolog Martin Seligman, tokoh penting dalam psikologi positif, memperkenalkan konsep "learned helplessness" -- ketidakberdayaan yang dapat dipelajari ketika seseorang berulang kali mengalami kegagalan atau merasa tidak memiliki kendali atas keadaan.
Sebaliknya, cara pandang yang lebih optimistis dapat membantu seseorang melihat kemungkinan dan mengambil tindakan kembali.
Artinya, jangan sampai kegagalan membuat kita mengunci sendiri pintu yang sebenarnya masih terbuka.
Tentu, berpikir positif bukan berarti menutup mata terhadap kenyataan. Ada persoalan yang memang berat. Ada pintu yang benar-benar tertutup. Ada impian yang mungkin harus diubah.
Namun, satu pintu tertutup bukan berarti seluruh kehidupan selesai.
Kadang kita perlu mencari pintu lain. Kadang perlu mengetuk lebih lama. Kadang perlu mengubah cara. Dan kadang, kita harus berani memulai dari titik yang sama sekali berbeda.
Iman dan ikhtiar berjalan bersama
Keyakinan bahwa Tuhan menguatkan kita bukan alasan untuk duduk pasif menunggu mukjizat.
Justru keyakinan itu semestinya menjadi energi untuk terus berusaha, belajar, bangkit, memperbaiki diri, dan melakukan/berbagi kebaikan.
Saya percaya, daya Ilahi melampaui segala batas manusia. Ketika kita membuka diri kepada Tuhan, kita menemukan keberanian untuk menghadapi keterbatasan diri dan melihat kemungkinan yang sebelumnya tidak kita lihat.
Jadilah “wadah yang terbuka” bagi daya Ilahi itu.
Tanamkan benih kebaikan di dalam hati. Rawat dengan keyakinan, kerja keras, kesabaran, dan ketekunan. Lalu biarkan buah-buah kebaikan itu menjulur keluar—menyapa, menguatkan, dan memberi manfaat bagi sesama.
Mungkin hari ini kita sedang gagal. Mungkin jalan terasa gelap. Mungkin pintu-pintu kehidupan tampak tertutup.
Tetapi jangan menyerah hanya karena hari ini belum menemukan jalan.
Teruslah melangkah. Teruslah berusaha. Teruslah percaya.
Mengapa?
Karena kita tidak pernah tahu, jalan yang hari ini tampak buntu mungkin sedang mengarahkan kita menuju jalan lain yang jauh lebih baik dan bermakna bagi hidup kita.
Dan di atas segala usaha manusia, kita boleh menyimpan keyakinan sederhana ini,
“Omnia possum in Eo qui me confortat.”
Aku sanggup di dalam Dia yang menguatkan aku.
Maka, mari menjalani hidup dengan keyakinan bahwa langkahmu akan tetap teguh ketika hatimu bersandar kepada Tuhan.
*) Penulis adalah entrepreneur, peminat psikologi, Pendiri & CEO VDS Group (PT Veritas Dharma Satya, PT Veritas Media Bangsa, Firma Hukum "Veritas Dignitas Salus")
Komentar