REFLEKSI Tak Mungkin Mencintai Tuhan Tapi Membenci Sesama dan Merusak Alam 11 Oct 2026 20:38
Oleh: Valens Daki-Soo*
Ada orang yang rajin beribadah dan fasih berbicara tentang Tuhan, tetapi membenci sesama, menyebarkan fitnah, bersikap tidak adil, serta tidak peduli ketika alam dirusak.
Bisakah seseorang sungguh-sungguh mencintai Tuhan jika ia membenci sesama dan mengabaikan kelestarian alam ciptaan-Nya?
Hemat saya, cinta kepada Tuhan semestinya tercermin dalam sikap menghormati kehidupan, mengasihi sesama, memperjuangkan keadilan, dan merawat bumi.
Iman sejati tidak berhenti pada ritual dan kata-kata. Iman harus diwujudkan dalam kasih, kepedulian, keadilan, dan tanggung jawab.
Dalam perspektif teologis dan iman Kristen, Yesus mengajarkan dua perintah utama, yakni mengasihi Tuhan dengan segenap hati serta mengasihi sesama seperti diri sendiri (Matius 22:37-40). Keduanya tidak dapat dipisahkan. Kasih kepada Tuhan harus nyata dalam cara kita memperlakukan sesama.
Yohanes dengan lugas menegaskan, bagaimana seseorang dapat mengasihi Allah yang tidak dilihatnya jika ia tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya? (1 Yohanes 4:20).
Kita tidak dapat mengaku mencintai Tuhan sambil merendahkan, menyakiti, atau membenci manusia yang diciptakan-Nya. Perbedaan pandangan, keyakinan, suku, agama, dan pilihan politik tidak boleh menjadi alasan untuk menghilangkan rasa hormat.
Kita boleh mengkritik gagasan tanpa menghina pribadi, menolak pendapat tanpa membenci, dan melawan ketidakadilan tanpa kehilangan kemanusiaan. Kedewasaan iman diuji ketika kita berhadapan dengan orang yang berbeda atau tidak menyukai kita.
Kebajikan dan Karakter
Filsuf Aristoteles, dalam "Nicomachean Ethics", menekankan bahwa kehidupan yang baik dibentuk melalui kebiasaan melakukan tindakan yang baik. Seseorang tidak otomatis menjadi baik hanya karena memahami ajaran moral atau rajin beribadah.
Kesalehan harus membentuk kejujuran, keadilan, kebijaksanaan, dan belas kasih. Tanpa itu, agama dapat berubah menjadi sekadar penampilan. Ritual agama apapun hanyalah kosmetik tanpa "isi" jika tidak dibarengi praktik hidup yang baik.
Para filsuf Stoa, termasuk Marcus Aurelius, mengingatkan bahwa manusia adalah makhluk sosial yang seharusnya bekerja sama, bukan saling menghancurkan.
Kebijaksanaan tampak dalam kemampuan mengendalikan ego, menahan kebencian, mengakui kesalahan, serta memperlakukan orang lain secara manusiawi dan penuh empati.
Psikologi mendefinisikan empati sebagai kemampuan memahami atau merasakan keadaan orang lain.
Meta-analisis Yingying Yin dan Yong Wang dalam "Asian Journal of Social Psychology" (2023), yang mencakup 62 penelitian dan 71.310 partisipan, menemukan hubungan positif antara empati dan perilaku prososial.
Empati mendorong kita membantu orang lain. Sebaliknya, sikap yang hanya berpusat pada diri sendiri dapat melahirkan diskriminasi, perundungan, permusuhan, dan ketidakpedulian.
Oleh karena itu, iman harus memperluas kepedulian kita kepada keluarga, sahabat, orang miskin, kelompok rentan, mereka yang berbeda keyakinan, dan siapa pun yang membutuhkan uluran tangan kita.
Kasih dapat diwujudkan melalui kesediaan mendengarkan, tidak mudah menghakimi, membantu sesama, menjaga perkataan, dan tidak menyebarkan kebencian.
'Laudato Si': Merawat Bumi
Kasih tidak hanya menyangkut hubungan antarmanusia, tetapi juga hubungan dengan alam.
Dalam ensiklik Laudato Si’ (2015), mendiang Paus Fransiskus mengingatkan bahwa bumi adalah rumah bersama yang harus dirawat, bukan dieksploitasi tanpa batas.
Kerusakan lingkungan selalu berdampak pada manusia, terutama masyarakat miskin dan kelompok rentan. Hutan yang rusak menghilangkan sumber penghidupan, sungai tercemar mengurangi akses air bersih, dan laut yang dipenuhi sampah merugikan nelayan serta generasi mendatang.
Dengan demikian, merawat alam adalah tanggung jawab moral kita. Manusia bukan pemilik mutlak bumi, melainkan penjaga kehidupan. Konsep ekologi integral menegaskan bahwa krisis lingkungan tidak dapat dipisahkan dari krisis kemanusiaan.
Orang yang mengaku mencintai Tuhan seharusnya menjaga kebersihan, mengurangi sampah, menggunakan sumber daya secara bijaksana, dan berani menolak eksploitasi yang mengorbankan manusia serta lingkungan.
Merusak alam demi keserakahan sambil mengaku memuliakan Sang Pencipta merupakan kontradiksi atau pertentangan moral.
Saya ingin menekankan lagi tentang sikap beragama yang sejati. Agama semestinya menumbuhkan kebijaksanaan, kerendahan hati, dan kasih, bukan kesombongan atau permusuhan.
Kita perlu bertanya: apakah iman membuat kita lebih rendah hati atau angkuh? Apakah ibadah mendorong kita mengasihi atau membenci? Apakah keyakinan membuat kita peduli terhadap penderitaan orang lain?
Dalam masyarakat majemuk seperti Indonesia, perbedaan tidak harus dihapus untuk membangun persaudaraan. Yang diperlukan adalah penghormatan terhadap martabat setiap manusia.
Cinta kepada Tuhan seharusnya memperluas hati. Orang beriman tidak boleh menggunakan nama Tuhan untuk membenarkan kebencian, melainkan menghadirkan keadilan, penghormatan, dan tanggung jawab.
Dalam konteks ini, saya berpendapat, semuanya harus berangkat dari diri kita sendiri. Kita perlu sering merefleksi diri. Apakah perkataan kita membangun atau melukai? Apakah kita mudah menghakimi? Apakah kita menghormati perbedaan? Apakah kita menjaga lingkungan atau justru memperburuknya?
Kita dapat memulai dari hal sederhana. Misalnya, berbicara santun, tidak menyebarkan fitnah, meminta maaf, membantu yang kesulitan, mengurangi sampah, menjaga kebersihan, dan tidak menutup mata terhadap ketidakadilan di sekitar kita.
Kasih bukan sekadar perasaan, melainkan keputusan untuk memperlakukan sesama secara manusiawi dan menjaga kebaikan bersama.
Kepedulian terhadap alam juga bukan sekadar kekaguman, melainkan tindakan nyata untuk merawatnya.
Melalui catatan reflektif ini saya ingin menegaskan bahwa hubungan dengan Tuhan, sesama, dan alam tidak dapat dipisahkan.
Iman yang hidup menghasilkan kasih, kepedulian, dan tindakan nyata. Kita boleh rajin berdoa dan beribadah, tetapi kesalehan harus tampak dalam kejujuran, keadilan, pengampunan, kepedulian sosial, dan tanggung jawab terhadap lingkungan.
Tentu baik jika bibir kita memuji Tuhan, tetapi perkataan kita janganlah melukai sesama. Jangan sampai tangan terangkat dalam doa, tetapi di sisi lain digunakan untuk menindas, merampas hak, atau merusak alam.
Mencintai Tuhan tidak cukup diucapkan melalui doa dan pujian. Cinta itu harus nyata dalam cara kita memperlakukan sesama dan merawat bumi sebagai rumah bersama.
Ini adalah kebenaran telak, bahwa tak mungkin kita sungguh-sungguh mencintai Tuhan, tetapi membenci sesama dan merusak alam.
*) Penulis pernah belajar filsafat dan teologi; peminat psikologi; entrepreneur; Pendiri & CEO VDS Group.
Komentar