Breaking News

REFLEKSI Ubah Pola Pikir: Bukan Mencari, Tapi Menjemput Rezeki 06 Nov 2026 13:28

Article image
Valens Daki-Soo, entrepreneur, Pendiri & CEO VDS Group (Foto: Ist)
Istilah menjemput rezeki menghadirkan perspektif yang lebih positif. Ungkapan ini mengandung keyakinan bahwa peluang dan kesempatan selalu ada, tetapi kita harus bergerak, berusaha, bekerja, dan mengambil inisiatif untuk meraihnya.

Oleh: Valens Daki-Soo*

Kedengarannya sederhana, tetapi sebenarnya terdapat perbedaan makna dan dampak psikologis yang cukup besar antara dua ungkapan: "mencari rezeki" dan "menjemput rezeki".

Mencari rezeki memberi kesan bahwa rezeki -- apa pun bentuknya, termasuk uang, penghasilan, pekerjaan, kesempatan, maupun keberhasilan -- merupakan sesuatu yang sulit didapatkan. Seolah-olah rezeki berada jauh di luar jangkauan dan membutuhkan perjuangan yang sangat berat untuk menemukannya.

Tanpa disadari, cara pandang seperti ini bisa membentuk pola pikir yang kurang optimistis. Kita merasa terbebani sebelum melangkah, mudah pesimistis, bahkan kurang percaya pada kemampuan diri sendiri.

Sebaliknya, istilah menjemput rezeki menghadirkan perspektif yang lebih positif. Ungkapan ini mengandung keyakinan bahwa peluang dan kesempatan selalu ada, tetapi kita harus bergerak, berusaha, bekerja, dan mengambil inisiatif untuk meraihnya.

Dengan "mindset" seperti ini, pekerjaan tidak lagi dipandang semata-mata sebagai beban, melainkan sebagai kesempatan untuk bertumbuh dan menjemput berbagai kemungkinan baik dalam kehidupan.

Pola Pikir Menentukan Langkah

Dalam psikologi, cara seseorang memandang dirinya dan lingkungannya sangat memengaruhi perilaku serta tindakannya.

Psikolog Albert Bandura memperkenalkan konsep "self-efficacy", yakni keyakinan seseorang terhadap kemampuannya untuk melakukan sesuatu dan mencapai hasil yang diharapkan.

Orang yang memiliki efikasi diri kuat cenderung lebih berani menghadapi tantangan, tidak mudah menyerah, dan terus mencari jalan keluar ketika menghadapi kesulitan.

Sementara itu, Carol S Dweck, psikolog dari Stanford University, melalui konsep "growth mindset", mengajarkan bahwa kemampuan manusia dapat terus berkembang melalui usaha, pembelajaran, dan ketekunan.

Kedua perspektif ini relevan dengan semangat menjemput rezeki. Kita tidak boleh hanya menunggu keadaan berubah atau berharap kesempatan datang dengan sendirinya. Kita harus membangun keyakinan, meningkatkan kemampuan, memperluas jaringan, dan berani mengambil peluang.

Rezeki Tidak Datang Hanya dengan Berpikir Positif

Namun, perlu dipahami bahwa berpikir positif bukan berarti cukup duduk diam sambil menunggu rezeki datang. Optimisme harus berjalan bersama kerja keras, kecerdasan, disiplin, kreativitas, dan ketekunan.

Filsuf Stoik, Seneca, pernah mengatakan, keberuntungan terjadi ketika persiapan bertemu dengan kesempatan.

Pesan ini mengajarkan bahwa kita perlu mempersiapkan diri agar mampu mengenali dan memanfaatkan peluang ketika peluang itu hadir.

Oleh karena itu, jangan hanya berharap mendapatkan pekerjaan, tetapi tingkatkan kompetensi agar layak mendapatkannya.

Jangan hanya berharap memperoleh penghasilan lebih baik, tetapi bangun kreativitas dan keberanian untuk menciptakan peluang.

Jangan hanya menunggu orang lain membuka pintu, tetapi belajarlah mengetuk dan bahkan membangun pintu kesempatan sendiri.

Rezeki juga tidak selalu berbentuk uang. Kesehatan, keluarga yang penuh cinta, persahabatan yang tulus, ilmu pengetahuan, pengalaman, kepercayaan, dan kesempatan untuk membantu sesama merupakan bentuk rezeki yang juga sangat berharga.

Kita juga perlu menjaga integritas dalam setiap ikhtiar. Jangan sampai keinginan mendapatkan rezeki membuat kita menghalalkan segala cara, merugikan orang lain, atau kehilangan nilai-nilai kemanusiaan.

Mengubah ungkapan dari mencari menjadi menjemput rezeki merupakan ajakan untuk mengubah cara berpikir dan cara menjalani kehidupan.

Datangilah tempat kerja Anda dengan hati yang ringan. Jalani setiap tanggung jawab dengan penuh semangat. Jangan mudah mengeluh, jangan cepat menyerah, dan jangan terlalu sibuk membandingkan perjalanan hidup kita dengan keberhasilan orang lain.

Setiap orang mempunyai waktu, kesempatan, dan perjalanan masing-masing. Ada yang memperoleh keberhasilan lebih cepat, ada pula yang harus melewati proses panjang.

Yang terpenting adalah terus bergerak, belajar, berusaha, dan tidak kehilangan harapan.

Bagi orang yang beriman, ikhtiar juga perlu disertai doa, keyakinan kepada Tuhan, serta rasa syukur atas apa yang telah diterima. Kita berusaha sebaik mungkin, tetapi tetap menyadari bahwa tidak semua hasil berada dalam kendali manusia.

Mari mengubah pola pikir. Bukan sekadar mencari rezeki seolah-olah sesuatu yang jauh dan sulit ditemukan, melainkan menjemput rezeki dengan keyakinan, optimisme, kerja keras, dan hati yang bahagia.

Jangan hanya menunggu rezeki menghampiri. Persiapkan diri, buka peluang, bergeraklah, dan jemputlah rezeki dengan cara yang baik dan bermartabat.

*) Penulis adalah entrepreneur, peminat filsafat dan psikologi, Pendiri & CEO VDS Group (PT Veritas Dharma Satya, PT Veritas Media Bangsa, Firma Hukum "Veritas Dignitas Salus")

Komentar