KEUANGAN Dolar Perkasa Atas Rupiah Diprediksi Tembus 19.000, Pengamat Beberkan Penyebabnya 08 Jun 2026 09:56
Selain factor geopolitik, Ibrahim mengungkapkan kebijakan moneter Bank Sentral AS (The Fed) diprediksi akan tetap bersikap agresif (hawkish) karena didukung oleh rilis data tenaga kerja AS.
Jakarta, IndonesiaSatu.co-- Seminggu terakhir nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus merangkak naik. Dengan situasi konflik geopolitik global Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diproyeksikan masih menghadapi badai tekanan yang hebat.
Ibrahim Assuaibi, Pengamat pasar uang dan komoditas buka suara mengenai posisi rupiah yang terus jatuh apabila gejala geopolitik masih terus berlangsung. Menurutnya rupiah akan tembus 19.000 diakhir Juni.
"Dan kalau gejolak geopolitik ini masih akan terus berlangsung, kemudian spekulasi The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi dan menaikkan suku bunga, di akhir Juni ini rupiah kemungkinan besar 99,99 persen itu akan di 19.000," Beber Ibrahim kepada para wartawan pada Minggu (7/6).
Lanjut Ibrahim,Secara teknikal fluktuasi dolar AS, harga minyak, emas, dan kondisi geopolitik, terutama meningkatnya ketegangan di Timur Tengah merupakan kombinasi sempurna turut meruncing pergerakan indeks dolar AS yang berpotensi mengalami penguatan tajam dalam sepekan ke depan.
"Mungkin pertama saya lihat teknikalnya itu terhadap indeks dolar. Indeks dolar ini kemungkinan besar dalam satu pekan ke depan itu akan ditransaksikan di support 99,00, kemudian resisten di 101,00. Artinya apa? Ada kemungkinan indeks dolar ini akan kembali menguat tajam. Ini pasti akan berdampak signifikan terhadap naikkan harga minyak, kemudian melemahnya mata uang rupiah, dan melemahnya harga emas dunia dan logam mulia,"ungkap Ibrahim.
Selain factor geopolitik, Ibrahim mengungkapkan kebijakan moneter Bank Sentral AS (The Fed) diprediksi akan tetap bersikap agresif (hawkish) karena didukung oleh rilis data tenaga kerja AS pada hari Jumat yang menunjukkan performa di atas ekspektasi pasar.
"Kemudian kebijakan Bank Sentral Amerika sendiri ya kita lihat bahwa data tenaga kerja yang dirilis di hari Jumat ini lebih baik ya lebih bagus dan ini pun juga membuat Bank Sentral Amerika ya kemungkinan besar akan mempertahankan suku bunga tinggi dan akan menaikkan suku bunga di kuartal ketiga, di kuartal keempat. Ya sebesar 25 basis poin. Nah ini yang membuat apa? Membuat dolar kembali lagi mengalami penguatan sehingga berdampak terhadap penurunan harga emas dunia," tandas Ibrahim.
Akibat dolar yang terus menguat, dia melihat sebagian masyarakat mulai mengalihkan dananya ke dolar AS karena memperkirakan mata uang tersebut masih akan menguat dalam jangka pendek.
“Masyarakat Indonesia sekarang berfokus terhadap dolar karena ada kemungkinan besar sampai akhir bulan ini ke Rp 19.000. Ini membuat masyarakat mengalihkan dananya dari tabungan konvensional maupun logam mulia ke dolar Amerika yang menurut mereka akan menguntungkan secara jangka pendek,” tutup Ibrahim.*
--- Hendrik Penu
Komentar