Breaking News

RESENSI Catatan singkat dari Buku FILSAFAT PERDAMAIAN ERIC WELL DALAM KONTEKS PERTAHANAN NEGARA 18 Aug 2022 15:19

Article image
Pertahanan Negara, Kekerasan, dan Perdamaian: Indonesia sesudah kemerdekaan pada hakikatnya “menyimpan potensi konflik internal yang laten” karena fakta pluralitas dan multikulturalitas ataupun kebeluman melakukan upaya resolusi konflik.
Oleh Maria Matildis Banda
 
 
Tidak ada perang yang abadi, demikian juga tidak ada damai yang abadi
(Doktrin Pertahanan Negara, Deptan RI, 2007:4; Wuli, 2020:129).
 
Buku Filsafat Perdamaian Eric Well dalam Konteks Pertahanan Negara (Rofinus Neto Wuli) terbit dua tahun lalu. Buku ini membahas hal-hal penting dan serius tentang perdamaian menurut Eric Well. Buku ini mengantar pembaca untuk memahami filsafat perdamaian dengan cara sederhana dan mudah dimengerti dan membawanya dalam konteks pertahanan negara.
 
Buku setebal 224 halaman ini mengungkapkan pikiran-pikiran tentang perdamaian secara teoritis dan praktis yang memperkaya. Relevan dibaca siapa saja yang masuk ke kedalaman pemahaman filsafat, hukum, sejarah, bahasa, sastra, kajian budaya, serta berbagai studi lain.
 
Saya meringkas satu bagian saja sebagai ungkapan salam Kemerdekaan bagi Romo Ronny penulis buku ini.
Bahwa pada hari ini 17 Agustus 2022 Indonesia Jaya dalam HUT ke-77.
 
Pertahanan Negara, Kekerasan, dan Perdamaian: Indonesia sesudah kemerdekaan pada hakikatnya “menyimpan potensi konflik internal yang laten” karena fakta pluralitas dan multikulturalitas ataupun kebeluman melakukan upaya resolusi konflik. Sistem pertahanan negara kita harus menemukan resolusi konflik yang dapat menyelesaikan konflik yang terjadi menuju budaya damai.
 
1. Cinta Damai, Lebih Cinta Kemerdekaan:  artinya, kemerdekaan Negara Indonesia sebagai prakondisi yang memungkinkan perdamaian itu tetap ada (Wuli, 2020:131 dalam Doktrin Pertahanan Negara, Deptan RI, 2007:4). Pertahanan negara yang kuat diharapkan dapat menyumbang pada terjaminnya perdamaian dunia.
2. Kekerasan adalah Ancaman Bagi NKRI: karena kekerasan menjadi ancaman bagi NKRI, maka konsep pertahanan negara harus memberikan perhatian serius. Kekerasan tidak boleh dibiarkan karena dapat semakin menyebar atau meluas. Konflik-konflik dapat diselesaikan dengan cara membangun budaya damai sebagai alternatif solutif.
 
Inspirasi dari pikiran di atas ini memperkuat pemahaman sastra dan memberi ruang kreatif dalam mengerti makna novel Vittoria Helena Brown Box (Viera dan Soeriapoetra, 2015) dan Orang-Orang Oetimu (Nesi, 2019) yang sedang saya bahas. Kedua novel dengan latar perang saudara, perebutan kekuasaan, dan invensi militer yang diungkapkan dengan berani.
 
Cinta damai, lebih cinta kemerdekaan? Adalah pertanyaan serius dimana merdeka atau pun damai memakan korban masyarakat sipil. Salah satu poin yang menarik dari kedua novel ini adalah kerelaan memberi maaf sekaligus dendam yang menuntut balas.  Di atas semua itu, Negara Mesti Tetap Tegak, NKRI tetap ada…kendati pun banyak luka yang belum sempat disembuhkan. Benar “Cinta damai, lebih Cinta Kemerdekaan!”
 
Terima kasih Romo Ronny… untuk buku ini. Sebagaimana yang pernah Romo katakan pada 01 Mei 2021 di rumah adik Dorthy Banda di Ende: “verba volant scripta manent – kata-kata terbang menghilang, tulisan tinggal tetap!” Teruslah berbagi melalui tulisan menjadi berkat bagi banyak orang! (Maria Matildis Banda, Kupang 17 Agustus 2022).
 
Tags:
Resensi

Komentar