Breaking News

RESENSI Kisruh Nangahale: Ketika Inisiator Gerakan dan Aktor Kunci Angkat Bicara 13 Apr 2025 10:57

Article image
Dr. Ing. Ignas Iryanto. (Foto: Dokpri Ignas)
Membaca kisruh Nangahale, dibutuhkan kebeningan hati dan kejernihan jiwa untuk melihat penderitaan orang-orang kecil yang bertaruh hidup dalam zona penuh resiko.

Oleh: Dr. Ing. Ignas Iryanto*

 

Mengejutkan! Sebuah video seputar kisruh Nangahale beredar luas di jagad digital.

Yusuf Lewor Goban secara terbuka menuduh John Bala sebagai pembohong besar bagi warga Tana Ai.

“John Bala itu adalah penipu besar untuk masyarakat di Tana Ai secara keseluruhan. Dia menipu kami dan menggunakan kami sebagai alat untuk mendapatkan keuntungan pribadi,” demikian kutipan pernyataan Yusuf Lewor Goban.

Yusuf Lewor Goban adalah aktor kunci yang memulai gerakan menduduki tanah Hak Guna Usaha (HGU) Nangahale.

Alasan dia berjuang semata-mata karena prihatin akan warga yang tidak memiliki lahan garapan dan pemukiman.

Bersama sejumlah orang lainnya, Yusuf Lewor Goban menggerakkan warga di sekitar wilayah Nangahale. Dia memerintahkan mereka mendirikan pondok dan menggarap ladang, tetapi dengan larangan membangun pondok permanen dan menanam jenis tanaman umur panjang.

Yusuf Lewor Goban juga mengijinkan warga unuk memungut buah kelapa, tetapi hanya untuk kebutuhan masak sehari-hari. Dia melarang keras mereka mengambil buah kelapa dalam jumlah banyak.

Dia tahu, hasil kelapa di Nangahale diperlukan untuk membiayai pendidikan para Frater di Seminari Tinggi Ledalero dan Ritapiret.

Lalu mengapa itikad baik pada awal perjuangan itu akhirnya menggelinding bagai bola liar?

Jejak Intervensi John Bala

Tahun 1998, tanpa sengaja Yusuf Lewor Goban bertemu John Bala.

Mengetahui bahwa Yusuf Lewor Goban berniat menduduki tanah HGU, John Bala mengajaknya bergabung dalam Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan membentuk masyarakat adat.

Yusuf Lewor Goban, ketika itu amat dibingungkan oleh ajakan membentuk masayarakat adat. Sejauh pengetahuannya, sejak tahun 1912 hingga tahun 1979, tidak pernah ada masyarakat adat yang menempati tanah Nangahale.

Meski bingung, ajakan itu diturutinya karena John Bala mengumbar janji bahwa melalui LSM, mereka akan didampingi penasihat hukum, masalah akan cepat selesai tanpa pungutan biaya apa pun.

Dari sinilah awal mula intervensi John Bala dalam renteten kisruh Nangahale.

Melalui berbagai mediasi, dia meyakinkan warga akan keabsahan perjuangan mereka. Dia mendorong warga Suku Soge dan Suku Goban yang baru dibentuknya, untuk melakukan penyerobotan tanah HGU.

Lebih jauh, dengan framing sebagai pemilik sah tanah ulayat Nangahale, warga diprovokasi untuk melawan negara dan Gereja.

Memanfaatkan pengetahuan ilmu hukum, John Bala melakukan aksi “cuci otak” warga kedua suku. Semua aksinya terekam dalam jejak digital.

Meskipun Yusuf Lewor Goban telah memastikan tidak ada masyarakat adat Nangahale, tetapi John Bala terus melakukan proses "cuci otak."

Dia bahkan melakukan pembohongan publik dengan mengatakan bahwa sejak tahun 1908 di Tana Ai telah berdiri Kerajaan Nai Roa.

Mantan Bupati Sikka, Alexander Longginus, yang pernah menangani persoalan Nangahale pada masa pemerintahannya, telah menelisik catatan sejarah dalam literatur Hikayat Kerajaan Sikka dan memastikan tidak pernah ada Kerajaan Nai Roa di Tana Ai.

Sementara itu, melalui tautan Facebook miliknya tanggal 9 Pebruari 2024, John Bala memastikan bahwa warga Suku Soge dan Suku Goban mewarisi situs adat dan memiliki Tana Pu’an secara turun-temurun. Ia juga mengklaim bahwa mereka memiliki hukum adat dan budaya. Semua klaim ini ternyata tidak berdasar.

Tokoh yang disebut Tana Pu’an, sesungguhnya adalah seseorang yang diangkat John Bala dengan surat pengangkatan yang ditandatanganinya sendiri, demikian Lewor Goban bersaksi.

Dalam tautan Facebook tanggal 10 Pebruari 2024, John Bala kembali melakukan provokasi agar warga menolak HGU Nangahale sebagai tanah negara.

Selanjutnya, tanggal 12 Pebruari 2024, John Bala berusaha membangkitkan amarah warga Suku Soge dan Suku Goban terhadap Gereja dengan menulis di akun Facebook miliknya bahwa HGU PT Krisrama cacat administrasi.

Derita Para Korban

Bagai menabuh genderang peperangan, rentetan provokasi yang dilakukan John Bala menyulut api di tengah warga kedua suku untuk memberontak terhadap negara dan Gereja.

Warga dengan garang melakukan penyerobotan dan mencabut pilar batas tanah. Sejak itu, mulailah rentetan penderitaan yang diterima Yusuf Lewor Goban bersama warga kedua suku.

Aksi penyerobotan lahan HGU berakibat tragis; delapan orang dari antara mereka masuk penjara. Tidak itu saja.

Akibat provokasi John Bala, Yusuf Lewor Goban bersama warga Suku Soge dan Suku Goban mengalami penderitaan batin. Mereka yang semula adalah “orang Katolik baik-baik” harus berdiri di garda terdepan melawan Gereja. Ini tentu merusak hubungan sosial mereka bersama saudara-saudara Katolik lainnya.

Secara material, orang-orang kecil ini merasa diperas. Mereka harus mengumpulkan dana dan materi untuk membiayai pergerakan John Bala. Bahkan tanah milik pun terpaksa mereka jual, sebagaimana dikisahkan Yusuf Lewor Goban:“Saya sebagai penggagas awal dalam perjuangan. Harta pribadi saya keluar, sampai dengan tanah sebanyak 6 hektare lebih.”

Tetapi, penderitaan Yusuf Lewor Goban yang sesungguhnya adalah kenyataan bahwa ia harus berhadapan dengan segelintir warga Suku Soge dan Suku Goban yang adalah saudara-saudarinya sendiri, yang sampai saat ini masih dalam cengkeraman John Bala dan menganggap Yusuf Lewor Goban sebagai pengkhianat.

Perlawanan Yusuf Lewor Goban

Yusuf Lewor Goban tersentak menyaksikan penyimpangan arah perjuangan yang dilakukan John Bala serta berbagai kebohongan yang disebarnya melalui berbagai platform digital.

Dalam sebuah keterangan pers di Maumere, Yusuf Lewor Goban angkat bicara.

Dia menegaskan bahwa provokasi John Bala telah mengakibatkan terjadinya pembelokkan haluan serta melencengnya arah perjuangan.

“Tahun 2014, saya merantau ke Kalimantan, lalu saya mendengar perubahan perjuangan. Awalnya kami hanya meminta lahan kosong di HGU Nangahale saja,” katanya kepada Florespos.net, 27 Januari 2025.

Memperkuat kesaksian Yusuf Lewor Goban, tokoh perempuan Suku Goban, Yustina Yusmiani, juga angkat bicara.

Yustina membongkar kebohongan John Bala.

“John Bala ingin berperkara dengan pemerintah dan Gereja. Karakter John Bala selalu menolak mengakui bahwa itu adalah tanah negara. Ia melarang masyarakat keluar dari tanah HGU Nangahale,” kata Yustina kepeda Garda Flores, 26 Januari 2025.

Api perlawanan telah dikobarkan. Melalui video Tiktok yang telah beredar luas, Yusuf Lewor Goban dengan nada tinggi mendesak proses hukum dan pengadilan terhadap John Bala.

“Orang seperti ini harus diadili sesuai dengan hukum yang berlaku pada saat sekarang di wilayah Negara Republik Indonesia ini. Kami tetap bergerak untuk melawan dia, seorang John Bala. Itu adalah penipu besar untuk masyarakat di Tana Ai secara keseluruhan,” tegas Yusuf Lewor Goban dalam video yang beredar.

Inilah tragedi kemanusiaan yang sesungguhnya.

Membaca kisruh Nangahale, dibutuhkan kebeningan hati dan kejernihan jiwa untuk melihat penderitaan orang-orang kecil yang bertaruh hidup dalam zona penuh resiko.

Kurang pengetahuan, mereka gampang dibohongi. Tidak sanggup melawan, mereka terus tercengkeram di tangan orang-orang yang merasa berhak melakukan penindasan atas nama kemanusiaan.

 

* Penulis adalah Pengamat Sosial Politik Diaspora Flobamora.

Komentar